Generasi Muda dan Transformasi Sosial

http://heryantony.com/images/sumpah-pemuda.jpg

Gambar di atas, diambil dari www.heryantony.com

landscape

~Membuka~

Semangat Sumpah Pemuda yang dideklarasikan pada tahun 1928 terus memotori perjuangan dan pergerakan bangsa Indonesia hingga kini. Usianya yang telah memasuki 82 tahun, merupakan bukti awal dan cikal bakal Negara Kesatuan Republik Indonesia. Peristiwa Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, bukan hanya dimaknai sebagai sebuah hari bersejarah bagi bangsa Indonesia, namun juga membuktikan bahwa peran generasi muda tidak bisa dilepaskan dari tumbuh dan berkembangnya suatu bangsa. Bila dirunut dari masa Kebangkitan Nasional hingga saat ini, generasi muda selalu berada dalam garda depan dalam menciptakan perubahan-perubahan di masyarakat.

Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa; adalah inti dari semangat Sumpah Pemuda yang dihasilkan pada Kongres Pemuda II di Jakarta, 82 tahun yang lalu tepatnya. Pada Kongres Pemuda itu, berhasil dirumuskan semangat berkebangsaan yang pada akhirnya menjadi semangat memproklamasikan kemerdekaan, sebuah perubahan yang memiliki dampak besar, yaitu bangsa Indonesia memiliki hak untuk mengurus dan memerintah tanpa ada intervensi dari negara lain (baca: penjajah). Pasca proklamasi kemerdekan 17 Agustus 1945, meskipun sebagai sebuah negara yang baru lahir, Indonesia mulai menata diri menjadi bangsa yang mandiri dan sejajar dengan negara-negara lain. Peran generasi muda lagi-lagi tampak dalam proses perubahan sosial di masyarakat Indonesia.

Mengamati peran generasi muda dari masa ke masa memang sangat menarik. Dengan beragam dinamika yang terjadi, generasi muda memainkan peran kunci untuk terjadinya transformasi sosial. Untuk tercapainya transformasi sosial tersebut, generasi muda tidak hanya bisa mengandalkan fisik dan semangat yang kuat saja, namun mereka harus memiliki pemikiran-pemikiran yang brilian untuk melakukan perubahan. Ini adalah sebuah tantangan dari masa ke masa untuk bangsa Indonesia.

Membaca peran generasi muda pada masa-masa perjuangan dahulu, semestinya bisa menginspirasi generasi muda sekarang untuk terus melanjutkan pembangunan di era globalisasi saat ini. Meskipun dengan situasi dan kondisi yang berbeda, namun semangat yang telah ditunjukkan oleh generasi muda pada zaman dahulu semestinya menjadi teladan untuk meneruskan cita-cita dan perjuangan bangsa dalam mengisi pembangunan.

~Kiprah Generasi 2.0: Pengejawantahan Sumpah Pemuda~

Masihkah semangat Sumpah Pemuda dijiwai oleh generasi muda masa kini? Barangkali ada yang sudah lupa dengan intisari Sumpah Pemuda, namun tidak sedikit pula yang memegang teguhnya. Bila dikaitkan dengan kehidupan berbangsa dan bernegara, maka Satu Nusa, Satu Bangsa dan Satu Bahasa adalah ibarat roh dan jiwa yang tidak bisa dilepaskan dari tubuhnya. Maka itu, perlu terus dijaga agar keberadaan negara kesatuan ini membawa maslahat untuk segenap rakyat dan warganya.

Namun, semudah itukah? Beda generasi beda kondisi, beda pula tantangannya. Situasi dan kondisi generasi muda pada era Kongres II tahun 1928 berbeda dengan generasi muda pada saat ini. Meskipun demikian, generasi muda saat ini semestinya banyak belajar dari semangat para pejuang yang terus bekerja keras tanpa pamrih untuk kemerdekaan dan kejayaan bangsa Indonesia. Kalau para pejuang dahulu bisa menelurkan dan membuat sejarah, mengapa generasi 2.0 tidak?

Lantas, bagaimanakah pengejawantahan semangat sumpah pemuda di era generasi 2.0? Berasal dari namanya, generasi 2.0 diambil dari dari terminologi website 2.0 yang diasosiasikan dapat memfasilitasi sharing informasi secara interaktif dan dikolaborasikan secara online antar pengguna dengan memanfaatkan teknologi internet dan didukung oleh website, jejaring sosial dan sebagainya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa teknologi-teknologi yang mendukung generasi 2.0 sudah membanjiri pasaran. Maka tidak heran bila situs jejaring sosial, Facebook, atau situs microblogging, Twitter, begitu digandrungi dan dipakai oleh para generasi muda terutama. Media-media interaktif, forum atau video sharing (misalkan Youtube) bukanlah menjadi sesuatu yang tidak asing lagi. Dengan jumlah pengguna yang semakin meningkat dan kecepatan informasi yang sedemikian cepat (dalam dan luar negeri) membuka peluang bagi para generasi muda untuk melakukan perubahan dan transformasi sosial melalui media-media tersebut.

Beberapa aksi nyata telah ditunjukkan oleh generasi 2.0 dalam mewujudkan transformasi sosial. Aksi yang dikoordinir dengan memanfaatkan jejaring sosial, situs micro blogging, blogging dan bentuk-bentuk social media lainnya, bisa menunjukkan posisi dan peran generasi muda dalam kontribusinya untuk pembangunan bangsa dan negara Indonesia. Dengan menggunakan media-media tersebut, sudah terbukti bagaimana kebersamaan, rasa persatuan dan rasa cinta tanah air disuarakan dan diaksikan.

Semangat satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yang dideklarasikan pada Kongres Pemuda II 28 Oktober 1928, terus dikumandangkan oleh generasi 2.0 melalui aksi-aksi nyata dengan memanfaatkan jejaring sosial dan social media.  Contoh sederhana adalah Gerakan Koin Keadilan, atau gerakan Indonesia Unite. Bencana alam yang melanda Indonesia di bulan Oktober dan November (Wasior, Mentawai dan Merapi) juga mengundang perhatian terutama para generasi 2.0 untuk bersatu pada mengumpulkan donasi, membagikan informasi, mengirim sukarelawan dan aktivitas lainnya dengan memanfaatkan teknologi internet.

Gerakan dan aksi yang muncul tersebutlah salah satu wujud pengejawantahan semangat Sumpah Pemuda pada kondisi kekinian. Di sana ada semangat satu bangsa, satu bangsa dan satu bahasa yang ditunjukkan dengan kebersamaan yang terjalin satu sama lain. Dalam peristiwa bencana alam, tampak terlihat duka satu daerah dirasakan secara bersama-sama dan dilanjutkan dengan pengiriman bantuan untuk meringankan beban korban bencana. Aksi solidaritas yang sangat nyata dan bermanfaat untuk keutuhan berbangsa dan bernegara.

Di sisi lain, perkembangan internet dan teknologi informasi juga dapat mendorong masyarakat Indonesia untuk lebih tahu dan paham tentang Indonesia. Kuliah umum, seminar, diskusi serta bentuk-bentuk kegiatan serupa yang berorientasi pada persatuan dan kesatuan Indonesia perlu terus didorong. Melalui kegiatan tersebut, maka rakyat Indonesia akan semakin mengenal Indonesia, termasuk sejarahnya dari masa ke masa. Lebih lanjut, penyebaran informasi kegiatan-kegiatan tersebut (proses dan hasil kegiatan) dapat disebarluaskan melalui blog, jejaring sosial dan bentuk social media lainnya sehingga bisa dinikmati secara interaktif. Dengan begitu, dokumentasi dan sharing informasi akan semakin tertata rapi dan tersebar luas tidak hanya di Indonesia, bahkan meluas sampai di negara-negara lain. Nilai-nilai positif inilah yang patut diteladani dan terus dikembangkan.

Penulis sempat terkejut ketika mendengar kegiatan Sumpah Pemuda 2.0. Kegiatan tersebut adalah bentuk adopsi atas peristiwa dan nilai sejarah Indonesia (Sumpah Pemuda) dengan kemajuan teknologi dan komunikasi, terutama era 2.0. Seperti pada uraian di atas, dalam era 2.0, sangat dimungkinkah untuk mengadakan kegiatan seperti layaknya Kongres Pemuda II tahun 1928 dengan memanfaatkan internet. Ini sangat luar biasa, sebab dengan jejaring sosial (Facebook) atau Microblogging (Twitter) dan barangkali videonya ditampilkan di Youtube, menjadi sebuah gebrakan dan sejarah baru di Indonesia.

Spirit utama yang ditanamkan pada Sumpah Pemuda 2.0 adalah tetap satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa. Namun, dalam perkembangannya, Sumpah Pemuda 2.0 juga dapat menjadi sumpah dan janji diri untuk senantiasa berpikir, berbuat dan bertindak untuk kemaslahatan bersama. Contoh yang sederhana adalah sumpah dan janji untuk membuang sampah pada tempatnya sebab salah satu penyebab banjir dan merusak lingkungan karena membuang sampah sembarangan, di sungai misalnya. Sumpah dan janji tersebut sangatlah sederhana, namun apabila dilakukan dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh dan tidak hanya sekedar ikut berSumpah Pemuda 2.0, maka sumpah tersebut akan bermanfaat untuk lingkungannya. Dengan media sosial, sumpah yang sederhana tersebut akan dapat dibagikan (sharing) dan diperluas ke masyarakat. Itu baru satu jenis sumpah, apabila ditindaklanjuti dengan sumpah-sumpah yang lain, maka generasi 2.0 akan mencatat sejarah yang sangat luar bisa sebab dampaknya akan meluas dan nyata.

~Menutup~

Generasi muda adalah motor penggerak pembangunan sebuah bangsa. Telah terbukti dari masa ke masa peran dan kiprah generasi muda dalam menentukan maju mundurnya sebuah bangsa. Oleh sebab itu, generasi muda Indonesia harus terus bekerja keras untuk mempertahankan dan melanjutkan cita-cita pendiri bangsa dengan menjaga keutuhan dan kesatuan tanah air, bangsa dan bahasa Indonesia. Tentu saja, hal tersebut bukan sebuah tugas yang mudah, namun dengan bersatu, semua pasti bisa dilakukan.

Sumpah Pemuda adalah sebuah sejarah penting yang harus tetap dipegang oleh para generasi muda dalam menjalankan perannya dalam transformasi sosial di masyarakat. Dalam memaknainya kini, generasi muda mewujudkannya dengan beragam cara, salah satunya dengan memanfaatkan kemajuan teknologi internet era 2.0 dan social media sebagai tempat berekspresi dan bertukar informasi secara interaktif. Dengan mengadopsi Kongres Pemuda II di tahun 1928, maka Sumpah Pemuda 2.0, yang memanfaatkan jejaring sosial dan bentuk media sosial yang lain, sangat dimungkinkan untuk melakukan gebrakan yang serupa dengan peristiwa 82 tahun yang lalu itu.

Lebih lanjut, dengan memanfaatkan media-media tersebut di atas, transformasi sosial di masyarakat sangat mungkin dapat diwujudkan. Setelah tahun 2008 hingga kini, terutama pasca booming internet dan media sosial, telah banyak aksi yang telah dilakukan dan berhasil melakukan perubahan di masyarakat. Hal ini merupakan sebuah langkah maju bagi generasi 2.0 dalam menjaga semangat Sumpah Pemuda serta keutuhan Nusa, Bangsa dan Bahasa Indonesia. Namun, jalan dan perjuangan masih berat dan panjang. Maka dari itu, generasi muda harus tetap semangat, konsisten dan terus menjadi motor dalam pembangunan Indonesia demi mencapai masyarakat adil, makmur dan sejahtera.