Berita Kok Lebay: Senang Lihat Orang Susah

Silet

Di tengah gemuruh akibat Gunung Merapi yang terus beraktivitas dan mengancam keselamatan penduduk, muncul pemberitaan yang membuat panik dan takut. Salah satu berita (atau lebih tepatnya gossip, sebab digosok makin siip) yang tersebar di masyarakat adalah bahwa awan panas (wedhus gembel) Merapi akan akan mencapai 65 kilometer (Baca Kompas, Senin 8 November 2010, Awan Panas 65 Kilometer Cuma Gosip). Untung Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kegunungapian Yogyakarta, Subandrio, menegaskan bahwa kabar awan panas mencapai 65 kilometer dari puncak Gunung Merapi tidak benar.

Setelah ditelusuri, ternyata gossip tersebut beredar setelah Silet, salah satu program acara yang tayang di RCTI, menggosipkan bahwa Gunung Merapi akan mengeluarkan awan panas sejauh 65 kilometer. Lebih parah lagi, naskah yang dibacakan oleh Fenny Rose tersebut menyebut bahwa Yogyakarta adalah kota malapetaka dan pada tanggal 8 November 2010 akan terjadi bencana besar (Baca Kompas Minggu 7 November 2010, Fenny Rose Bukan yang Bertanggung Jawab).

Tentu tayangan dan berita yang berlebihan (bahasa sekarang lebay) seperti contoh di atas sangatlah mengecewakan. Selain tidak berdasarkan data-data dan fakta lapangan, naskah yang disusun dan disampaikan berdasarkan wawancara dengan paranormal, bisa membuat masyarakat panik dan takut. Bagaimana tidak, di tengah masyarakat yang sedang dalam kesusahan dan penderitaan, tiba-tiba keluar ramalan paranormal yang mengatakan bahwa awan panas akan berbahaya hingga radius 65 km (sebelumnya telah ditetapkan zona bahaya Merapi pada radius 20 km). Selain itu, menyebut Jogjakarta sebagai “kota bencana” merupakan sesuatu hal yang tidak layak disampaikan pada sebuah acara televisi.

Setelah dikecam masyarakat melalui berbagai social media, Redaksi Silet meminta maaf atas apa yang ditayangkan (Baca, Kompas Minggu 7 November 2010, Akui Salah, Redaksi Silet Minta Maaf). Dapat dibayangkan pada saat pembuatan tayangan tersebut. Apakah kru yang bekerja tidak sampai berpikir bahwa info yang akan ditayangkan akan lebih meresahkan masyarakat, sedangkan masyarakat sudah cemas dengan keadaan Merapi?

Mungkin memang mereka sudah tidak punya hati sehingga hanya demi rating tayangan sampai rela menari-nari di atas penderitaan orang lain. Menyebut Jogjakarta sebagai “kota bencana” adalah seperti menyemburkan bensin pada sebuah obor. Cepat membuat segala sesuatu terbakar. Dalam situasi duka saat ini, berita-berita baik cetak, elektronik atau pun melalui social media, semestinya bekerja untuk memberikan informasi yang sesuai dengan fakta dan dan data yang dapat diverifikasi (Lebih lanjut, baca tulisan Anton Muhajir, Agar Tulisan Kita Bisa Dipercaya).

Untuk berita-berita yang dikeluarkan media arus utama, mbok ya o ojo lebay. Apakah karena kalah pamor dengan info yang muncul di media sosial sehingga berita-beritamu seperti anak kecil yang sedang mencari sensasi dan perhatian? Namun, kasus itu tidak hanya terjadi di media arus utama saja. Pada beberapa kesempatan muncul juga info lebay dan HOAX di Twitter, BBM hingga SMS. Barangkali mereka sedang lucu-lucunya sehingga berusaha untuk menarik perhatian dan sensasi dengan memanfaatkan media sosial.