Sketsa Jakarta: Kacau…Kacau…Kacau

~Kacau…Kacau…Kacau~

Ini adalah sebuah sekelumit kisah perjalanan setelah 2 minggu di Jakarta. Sebetulnya, aku tidak berniat sama sekali untuk tinggal berlama-lama di Jakarta, kecuali memang ada keperluan yang sangat penting sekali. Ini adalah kedua kali aku berada di Jakarta. Aku pertama kali di Jakarta tahun 2007 untuk presentasi sebuah paper di PPM Jakarta. Kala itu aku hanya tinggal selama 3 hari saja. Paling tidak sudah merasakan bagaimana situasi di Jakarta dan segenap hiruk-pikuknya. Tapi kali ini berbeda. Aku mesti tinggal selama 6 bulan di Jakarta. Bagiku itu waktu yang lama. Namun untuk kepentingan belajar, aku harus menjalaninya dengan senang.

Setelah genap 2 minggu di Jakarta, akhirnya aku melihat dan merasakan hampir semua yang diberitakan di televisi dan perkataan teman-teman online dan offline tentang Jakarta. Saat tiba di Jakarta, aku sudah merasakan kemacetan yang betul-betul membuat pening kepala. Keadaan jalan semrawut, nyaris tidak ada aturan dan kedisiplinan. Apa karena aku belum terbiasa saja?

Aku juga pernah lewat di Danau Sunter. Di sana kulihat kesenjangan sosial. Pada salah satu sisi jalan, tampak tertata rapi nan megah rumah-rumah mewah. Tampak elok menawan. Sepertinya di sana adalah sebuah kawasan elite. Tapi di seberang jalan (tepatnya di seberang Danau Sunter), terlihat rumah-rumah kumuh yang berjejer-jejer di pinggir danau. Sangat bertolak belakang dengan rumah-rumah mewah yang ada di seberangnya.

trotoar

~Tak Nyaman~

Sebelum ke Jakarta, aku memang sudah berencana untuk tidak mengirim sepeda motor ke Jakarta. Selain bakalan boros di bensin akibat kemacetan, juga karena aku harus menghafalkan jalan-jalan di Jakarta yang rumit. Selain itu, aku tidak terlalu membutuhkan sepeda motor selama di Jakarta. Aku bisa memanfaatkan Transjakarta, yang katanya hanya dengan Rp 3.500 bisa berkeliling Jakarta. Isn’t it?

Aku kira yang namanya Jakarta memiliki fasilitas yang memadai untuk para pejalan kaki. Tapi ternyata tidak juga. Ada banyak bagian yang sama sekali tidak ramah untuk pejalan kaki. Foto di samping kuambil ketika dalam perjalanan pulang dari NESO di Menara Jamsostek. Bagiku, keadaan trotoar yang berlubang dan rusak seperti terlihat di gambar, sudah menunjukkan bahwa Jakarta tidak ramah dan nyaman untuk para pejalan kaki.

Setiap kali berjalan kaki ke kampus UI Salemba, aku sama sekali tidak nyaman berjalan di trotoar di sepanjang jalan Salemba Raya.  Trotoar yang sudah sempit, masih dipakai untuk parkir bus, ojek, bajaj atau metromini; pula ditambah pedagang kaki lima. Bila ingin selamat, panca indera harus senantiasa waspada dan berhati-hati, jangan sampai tiba-tiba menabrak/ditabrak sesuatu di depan.

~Mengelus Dada~

Hidup di Jakarta harus pula tahan melihat kejadian yang menyentuh naluri. Di jembatan penyeberangan UI Salemba, aku tiap hari melihat ibu dan seorang anak kecil yang meminta-minta. Sambil netekin anaknya, ibu itu menyodorkan tangannya untuk minta belas kasihan orang yang lewat. Hati nurani siapa yang terketuk melihat hal itu? Sementara di bawah, banyak mobil-mobil mewah yang berlalu lalang dan parkir di pinggir-pinggir jalan.

Aku juga sering melihat orang yang tidur di atas jembatan penyebarangan, lengkap dengan tas jinjing sebagai bantal. Sangat lelap, sementara banyak orang yang lewat dan berisik. Mungkin dia sudah menganggap bahwa tempat itu adalah kamar pribadinya, tempat merebahkan diri dan beristirahat.

Aku tidak tahan melihat orang-orang seperti itu, hingga sering bertanya mengapa mereka harus datang ke Jakarta? Apakah di kampung halaman mereka memang sama sekali tidak ada pekerjaan? Mungkin inilah yang disebut seorang kawan dengan “Welcome to the Jungle” dalam salah satu komentar di Facebook. Tapi aku cukup bisa tersenyum ketika baca Twitter Mas Yanuar Nugroho pagi ini yang berbunyi, “Negri ini mmg porak-poranda, tp smoga kita tak putus asa u/ trs coba mprbaikinya“.