Bukan Wedangan Biasa
Wedangan, angkringan atau hik (hidangan istimewa kampung) sudah sangat populer serta mudah ditemui di Kota Solo. Aku suka ngleseh dan menikmati hidangan yang disajikan di sana. Oleh sebab itulah, selama aku di Karanganyar, aku begitu menikmati hingga ngepenke wektu untuk nongkrong di wedangan.
Alasannya sederhana, sebab pemandangan dan pengalaman itu sulit ditemui di Kota Denpasar. Saat aku di Denpasar, bila ada agenda ngumpul dengan Bali Blogger Community, angkringan Pasar Burung Sanglah menjadi tujuan.
Di dekat rumahku, di daerah Palur, sangat mudah menemui gerobag beserta tenda yang menjajakan hidangan ala angkringan, biasanya berupa jajanan, gorengan atau sego kucing. Dengan memanfaatkan emperan toko atau trotoar, mereka buka mulai sore hari hingga tengah malam. Penjual wedangan meletakkan makanan yang mereka jual di gerobag. Selain itu, biasanya mereka membawa tungku dan arang untuk memanasi beberapa ceret berisi air. Untuk penerangan, mereka menggunakan lampu teplok yang berbahan bakar minyak tanah. Namun, ada yang mulai menggunakan lampu neon/bola lampu. Sangat bervariasi, tergantung kreativitas pemiliknya.
***
Tanggal 20 Juli yang lalu, aku diajak teman-teman alumni SMA 3 Solo untuk membahas organisasi alumni. Awalnya, pertemuan itu akan diadakan di sebuah wedangan di Kepatihan. Namun karena sesuatu hal, aku dikabari bahwa lokasi pertemuan dipindah ke Jaten. Kebetulan, malah berdekatan dengan rumahku. Setelah mengetahui ancer-ancer letak wedangan di Jaten itu, aku bergegas pergi ke lokasi.
Tidak seberapa lama, aku sudah ada di Jaten. Aku mengalami kesulitan untuk mencari wedangan yang dimaksud. Dalam benakku, wedangan itu ada di pinggir jalan seperti angkringan pada umumnya. Karena tidak ketemu, akhirnya aku menelpon teman guna meminta petunjuk. Setelah petunjuk diperoleh dengan jelas, aku lantas bergerak sesuai dengan arah yang diberikan.
Lima menit kemudian, aku sampai pada wedangan yang dimaksud, namun aku belum percaya karena bentuk dan lokasinya yang tidak sesuai dalam bayanganku. Bangunannya tidak seperti wedangan di pinggir-pinggir jalan atau emperan toko. Kali ini aku melihat wedangan dengan bangunan bernuansa bambu. Untuk memastikan bahwa aku berada di lokasi yang dimaksud, aku mencari-cari seseorang yang mungkin kukenal. Ternyata memang benar, di dalam telah berkumpul beberapa orang yang kukenal.
Wedangan itu dimiliki oleh keluarga adik angkatanku di SMA 3 Surakarta. Konsep angkringan di pinggir jalan diubah sedemikian rupa sehingga menjadi wedangan yang berbeda. Usaha keluarga yang bernama Wedangan 55 ini belum berjalan lama. Semarak Piala Dunia 2010 menjadi saat-saat pertama Wedangan 55 beroperasi. Ketika pertama kali masuk ke dalam, aku masih menjumpai layar lebar. Aku mbatin kalau pas pertandingan Piala Dunia dulu, wedangan ini pasti sering mengadakan nonton bareng dan ramai dikunjungi.
Fasilitas internet gratis bisa dinikmati pengunjung di Wedangan 55. Aku mencoba internet di sana dengan menggunakan telepon tangan. Beberapa pengunjung juga menggunakan laptop untuk berinternet di sana. Aku belum pernah mengukur kecepatannya, namun aku bisa merasakan bahwa internetnya sangat cepat, gratis pula. Tidak hanya itu saja, ternyata layar lebar itu dimanfaatkan untuk memberikan hiburan berupa film dan siaran-siaran TV kabel.
Aku merasa nyaman di sana. Lokasinya sangat enak dan tenang. Dua kali aku pernah nongkrong dari jam 7 malam hingga jam 3 pagi. Lokasinya berada di depan pasar Jaten. Kalau dari arah Solo, Wedangan 55 berada di kanan jalan (selatan jalan). Tidak terletak di pinggir Jalan Raya Solo-Tawangmangu, namun untuk sampai di Wedangan 55 perlu masuk ke jalan kecil sekitar 100 meter. Kalau ingin beristirahat sejenak atau nongkrong dalam waktu lama, Wedangan 55 siap 24 jam untuk melayani tamu-tamunya.







