You are here: Home > Opinion > Sing Penting Metu Kebule

Sing Penting Metu Kebule

Suatu malam, ada 4 anak mengendap-endap di halaman rumahku sambil membawa lampu senter. Keempat anak itu adalah tetanggaku yang masih berumur 7-8 tahun. Penasaran dengan apa yang mereka lakukan, aku kemudian menghampiri mereka dan bertanya apa yang sedang dikerjakan. Semula mereka tidak nggagas apa yang sedang kutanyakan, namun akhirnya dijawab bahwa mereka sedang mencari katak. Aku belum percaya penuh dengan jawab itu karena salah satu anak itu membawa tegesan (puntung rokok).

Memang betul. Mereka tidak sepenuhnya mencari katak, namun mereka juga mencari sisa-sisa rokok yang kemudian mereka hisap. Berempat mereka jongkok dan menggilir tegesan yang berhasil ditemukan. Ketika salah seorang selesai menghisap rokok itu dan menghembuskan asapnya, lantas mereka bersama-sama tertawa sambil jingkrak-jingkrak. Aku hanya bisa geleng-geleng kepada melihat tingkah polah mereka.

Aku kemudian ngobrol dengan keempat anak itu.

Sopo sing ngajari?“, tanyaku kepada mereka

Niru-niru kok Mas“,  jawab salah seorang anak

Namanya masih anak-anak, mereka sambil tertawa-tawa ketika diajak bicara. Aku bertanya mengapa mereka merokok. Mereka tidak jawab, sebab sepertinya mereka hanyalah meniru orang yang lebih dewasa. Ketika mereka melihat orang yang merokok, anak-anak itu ingin mencoba, tanpa tahu bahwa di dalam rokok terkandung nikotin dan tar yang berbahaya bagi kesehatan dan bisa menyebabkan ketergantungan. Karena mereka belum memiliki uang untuk membeli rokok, akhirnya anak-anak itu mencari tegesan untuk mereka hisap sebab dalam benaknya berprinsip sing penting metu kebule (Yang penting keluar asapnya).

***

Aku tidak bisa membayangkan jika orang tua anak-anak itu tahu bahwa anak-anaknya mencari tegesan dan menghisapnya. Mungkin tidak separah balita perokok yang beberapa waktu lalu diberitakan oleh media-media cetak dan elektronik. Bagiku, melihat tingkah polah anak-anak yang mencari tegesan pada cerita di atas, juga mengundang keprihatinan.

Anak-anak kecil itu tidak bisa disalahkan. Mereka telah terkontaminasi oleh lingkungan  perokok yang mendorong mereka untuk mencoba. Aku tahu betul, ayah dan anggota keluarga keempat anak itu nggathok ngrokok. Jadi, sangat masuk akal, jika anak-anak itu akhirnya menjawab bahwa mereka merokok karena meniru perbuatan orang dewasa.

Persoalan merokok memang terus menarik untuk didiskusikan. Ketika sudut pandang kesehatan dan agama berkata bahwa merokok dapat merugikan kesehatan masyarakat (baik untuk perokok aktif dan pasif), kemudian ada semacam larangan untuk merokok, namun tidak dengan mudah menghentikan kebiasaan masyarakat perokok. Langsung menutup pabrik-pabrik rokok yang memproduksi rokok juga malahan menciptakan problema baru karena industri rokok menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang tidak sedikit dan mendatangkan duit bagi kas negara.

Ada juga yang berkata menjadi perokok itu adalah hak seorang manusia, maka tidak seorang pun yang bisa melarangnya. Akan tetapi di sisi lain, orang yang tidak merokok berargumen bahwa mereka juga memiliki hak untuk menghirup udara segar, tanpa terkontaminasi asal rokok. Kedua kelompok itu merasa memiliki hak mereka masing-masing dan permasalahan akan timbul ketika dua kelompok itu saling bertemu; di bus umum, ngobrol santai di kafe dan sejenisnya.

Aku termasuk orang yang tidak suka merokok dan benci asap rokok. Ketika duduk dan ngobrol bebas di sebuah warung, aku seringkali termajinalkan ketika berada di lingkungan perokok. Aku cuma berusaha agar asap rokok yang kuhirup dalam diminimalisasi. Akan tetapi, tidak jarang pula melihat seorang perokok yang terpingkirkan karena berada di lingkungan non perokok. Dia harus sedikit menjauh agar asap rokoknya tidak mengganggu orang yang bukan perokok. Tidak ada yang kalah dan menang dalam mempertahankan hak merokok dan tidak merokok, yang diperlukan adalah saling bertoleransi.

***

Seringkali aku bertanya pada teman-teman tentang awal mula mereka menjadi seorang perokok dan alasan mereka merokok. Umumnya, mereka mulai merokok karena pengaruh dari teman-teman serta meniru orang yang merokok, seperti cerita 4 orang anak kecil di atas. Dari yang semula coba-coba, akhirnya mereka tergantung pada benda yang bernama rokok. Jika belum ada kebul yang keluar dari mulut, hidup masih belum lengkap. Benarkah demikian? Meskipun aku bukan perokok, aku bisa mengamini hal itu, sebab mereka telah ketagihan rokok.

Bila sudah demikian, sangat sulit untuk keluar dari belenggu rokok. Ada beberapa teman yang mencoba untuk berhenti merokok, namun sangat sulit untuk menghentikan kebiasaan itu karena tidak tahan godaan nya. Ada pula yang berhasil berhenti merokok meski harus berjuang dan bertahan keras dari rayuan batang rokok. Seseorang yang berhasil keluar dari belenggu rokok adalah Bapakku. Kira-kira 20 tahun yang lalu, dia adalah seorang perokok. Namun, setelah ditimbang-timbang, pengeluaran untuk merokok ternyata sangatlah besar. Bagi seorang buruh seperti Bapakku, uang untuk membeli rokok itu bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan yang lebih berguna. Membeli rokok ibarat kata seperti membakar uang. Secara perlahan-lahan namun pasti, Bapak berhasil bertahan dari ikatan rokok. Waktu itu, untuk mengurangi rasa kecut di mulut, Bapak menggantinya dengan permen. Dengan disertai niat dan komitmen yang kuat, akhirnya Bapak bisa berhenti merokok secara total hingga sekarang.

Aku menjadikan Bapak sebagai panutan. Karena Bapak sudah terbebas dari ikatan rokok, masak aku sebagai anaknya menjadi perokok? Setiap uang yang dikumpulkan dari jerih payah orang tua dan kemudian diberikan dalam bentuk uang saku, kugunakan untuk sesuatu hal yang berguna. Memang ada banyak teman sewaktu SMP dan SMA yang menawari dan memberi rokok secara gratis, cuma apakah selamanya juga tergantung pada pemberian teman? Apalagi kalau sudah sampai ketagihan.

Coba dibuat itung-itungan dengan cara bodon saja. Misalkan dalam satu minggu keluar uang  Rp 30.000,00 untuk membeli rokok. Berarti dalam sebulan kudu mengeluarkan kocek sebesar Rp 120.000,00. Dalam setahun berarti uang yang dihabiskan untuk membeli rokok ialah sebesar Rp 1.440.000,00. Sebuah jumlah yang tidak sedikitkan? Jadi dengan hitung-hitungan sederhana itu, aku bertahan untuk berkata tidak pada rokok sebab sangat boros.

Bagaimana untuk para perokok lain? Aku tidak sedang mencampuri perokok lain karena pada dasarnya merokok atau tidak merokok adalah hak masing-masing individu, tinggal bagaimana saling bertoleransi agar asap rokok itu tidak mengganggu orang lain. Toh, sudah ada peringatan bahwa merokok itu membahayakan, jadi kalau suatu saat rokok itu menimbulkan penyakit, perokok itu juga yang akan menanggung.  Jikalau mereka mau berhenti merokok, semua kembali pada niat dan komitmen masing-masing.

Mantra yang tersimpan dalam kebul rokok itu memang ampuh, sehingga banyak orang, baik laki-laki  dan perempuan, menjadi terpikat padanya, sampai-sampai orang berdalih tidak bisa berpikir kalau tidak ada sebatang rokok di mulutnya. Karna kebul itu pula, orang-orang “tersihir” untuk mengeluarkan kocek dari dompetnya, demi mendapatkan batang-batang rokok itu. Di lain sisi, kebul itu juga mampu membuat dapur orang tetap ngebul serta memutar roda perekonomian agar tetap bergerak.

Dalam sebuah timeline di Twitter, ada seorang teman yang mengatakan bahwa semua orang perlu berterima kasih pada industri rokok, karena mereka memiliki banyak kontribusi pada kehidupan masyarakat, salah satunya dengan  menjadi sponsor untuk kegiatan olahraga; seperti sepakbola dan bulutangkis. Dan itu memang betul, sebab tanpa sponsor perusahaan rokok, siaran langsung sepak bola mustahil dinikmati oleh masyarakat Indonesia. Liga dan klub-klub sepakbola dalam negeri selama ini juga disponsori oleh perusahaan rokok. Apalagi selama Piala Dunia kemarin, berkat industri rokok, rakyat Indonesia bisa menikmati siaran sepak bola secara langsung, bahkan memiliki multiplier effect pada usaha dan perekonomian masyarakat. Jadi, sing penting metu kebule.

Tags: , , , , ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

One Response to “Sing Penting Metu Kebule”

  1. imadewira says:

    rokok,rasanya akan tetap menjadi pro dan kontra, biarlah waktu yang akan menjawab apakah rokok akan ada selamanya. sementara itu, saya suka cara pikir mas Win :-)

Leave a Reply