You are here: Home > (Not) Daily Stories > Sepeda Demam

Sepeda Demam

onthel Mendung di Selasa pagi menggodaku untuk tidak keluar dari kamar. Namun dia tidak berhasil menaklukkanku. Di pagi yang dingin aku melangkahkan kaki keluar kamar sambil menghirup udaranya yang segar. Kira-kira jam 06.00 pagi, aku menggerakkan bagian-bagian tubuhku di atas kerikil di samping rumah. Sesekali terdengar suara burung merpati milik kakakku yang nangkring di atas atap rumah. Dari halaman rumahku, aku bisa melihat banyak orang yang lewat rumahku. Mereka sudah memulai aktivitas masing-masing.

Empat orang anak dengan berseragam merah putih melewati rumahku. Mereka masing-masing naik sepeda kayuh. Mereka adalah tetanggaku yang kini duduk di bangku kelas 6. Saat mereka naik sepeda itu, aku teringat dengan sepedaku, sepeda berwarna biru yang selama ini aku pakai. Aku melangkah masuk ke dalam rumah. Bukan untuk menyusul anak-anak sekolah itu, aku mengambil sepeda biru itu, menaikinya dan berkeliling kampung beberapa putaran.

Sepeda biru itu aku parkir di teras rumah. Dia kutinggal sebentar untuk mengambil satu gelas air putih dan membuat satu gelas teh hangat. Setelah meneguk segelas air putih, aku kembali ke teras rumah.  Sambil duduk, aku mengamati-amati sepeda yang sudah kumiliki sejak tahun 1992 itu. Delapan belas tahun sudah sepeda biru itu dibeli. Sejak aku masih duduk di SD hingga SMA, sepeda itu setia menemaniku untuk berangkat dan pulang ke sekolah, kecuali pada saat-saat tertentu, seperti ketika aku capek, maka aku lebih memilih naik bus, atau minta diantar oleh kakak.

Terlalu banyak ceritaku bersama sepeda biru itu. Semenjak aku kuliah di Salatiga dan kemudian di Denpasar, aku jarang menggunakannya. Kakakku yang kemudian ngupakara dan ngopeni. Aku banyak bernostalgia dengan sepeda itu sejak aku tiba dari Denpasar di bulan Juni lalu. Aku berkeliling ke beberapa tempat di Karanganyar dan Solo. Selain untuk bernostalgia, bersepeda bagiku adalah sebuah olahraga.

***

Di malam minggu yang lalu, aku pergi ke Gramedia. Aku sudah janjian dengan Diah Iswidiningsih temanku SMA. Ketika dia mengetahui bahwa aku bersepeda dari Palur hingga ke Gramedia di dekat Sriwedari, Diah seperti tidak percaya. Setelah dari Gramedia, aku juga kumpul-kumpul  dengan beberapa teman SMA (ada Julius, Andi, Othonk, Meynar Intan dan Ruri Kiki yang datang bersama dengan adiknya) di Wedangan Pak Mul, terletak tidak jauh dari Gramedia. Mengetahui aku bersepeda, mereka seakan juga tidak percaya dan mungkin heran melihatku bersepeda dan menempuh jarak yang cukup jauh.

Karena sejak SD sudah terbiasa bersepeda, jarak Palur-Slamet Riyadi tidaklah menjadi suatu masalah. Bahkan ketika SMA, aku sering bersepeda dari Palur ke Solo Baru untuk main sepak bola. Kala itu, banyak teman yang heran melihatku bersepeda ke Solo Baru. Aku hanya bisa jawab bahwa bersepeda adalah bagian dari olahraga.

Sepertinya aku sudah berjodoh dengan sepeda biru itu. Sejarah untuk mendapatkanya tidak akan mungkin kulupakan. Ketika itu tahun 1992, aku masih kelas 1 di SD Negeri Ngringo 8. Ada saudara yang membeli sepeda baru merek SHIMANO. Setelah melihat sepeda itu, aku juga pingin memilikinya. Aku utarakan keinginanku itu pada Bapak dan Mak. Namun, karena belum memiliki uang untuk membelinya, aku hanya dijanjikan bahwa pasti dibelikan.

Setelah menunggu beberapa bulan, sepeda baru yang kuidamkan belum juga terbeli. Mungkin karena masih kecil, aku tidak bisa berpikir jauh, bahwa kedua orang tuaku hanyalah bekerja sebagai buruh, penghasilannya mungkin hanya cukup untuk makan dan kebutuhan sehari-hari. Akibat memendam keinginan memiliki sepeda, akhirnya aku jatuh sakit. Aku deman selama beberapa hari.

Entah siapa yang memberitahu, orang tuaku mengetahui bahwa aku sakit karena aku ingin memiliki sepeda, hingga suatu malam, aku mendengar dari tempat tidur bahwa aku akan mendapat sebuah sepeda yang kuidam-idamkan. Aku tidak tahu darimana uang untuk membeli. Mendengar itu, badanku yang semula sakit dan deman, lambat laun membaik. Beberapa hari kemudian sepulangku dari sekolah, sebuah sepeda biru dengan merek SHIMANO sudah ada di rumah. Aku tidak tahu hingga sekarang, darimana uang untuk membeli sepeda itu. Seingatku, harganya Rp 223.000,00, nilai uang yang tidak sedikit untuk ukuran keluarga kami.

Sakit deman itu telah memaksa orang tuaku untuk membelikan sepeda, entah bagaimana usahanya tiba-tiba sepeda itu ada. Kalau orang bilang kegeden empyak kurang cagak. Bila aku pikir-pikir, aku sangat jahat kepada orang tuaku, mekso alus melalui sakit demam. Betapa aku sangat ingin berbakti dan membahagiakan kedua orang tuaku.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

2 Responses to “Sepeda Demam”

  1. imadewira says:

    kapan ya bisa beli sepeda? :-(

Leave a Reply