You are here: Home > (Not) Daily Stories > Salatiga Kota Kisah

Salatiga Kota Kisah

Saya memiliki acara rutin tiap pagi bila berada di rumah Palur yaitu mengantar Mak kulakan di Pasar Palur. Sebagaimana Jumat pagi ini, setelah bangun dan bersepeda pagi, saya bersama dengan Mak pergi ke pasar dengan mengendarai sepeda motor. Sesampai di Pasar Palur, Mak pergi berbelanja sedangkan saya menunggu di depan Terminal Bus Palur. Biasanya sembari menunggu, saya membaca buku yang saya bawa dari rumah. Pagi ini saya membawa novel yang ditulis Fira Basuki berjudul The Windows. Saya baru membuka plastik bungkusnya. Novel yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Norman Ince tersebut saya beli minggu lalu bersamaan dengan buku Love is Weird.

Saya duduk di depan sebuah toko kacamata yang masih tutup. Sambil sesekali terdengar kondektur bus yang bengak-bengok mencari penumpang, saya membaca novel karya Fira Basuki itu. Awal ceritanya sangat menarik. June yang menjadi tokoh utama, bercerita tentang aktivitas kesehariannya sebagai seorang ibu rumah tangga baru. Dia bersama suaminya, Jigme Tshering, tinggal di Singapura.

June juga bercerita mengenai awal mula pertemuannya dengan sang suami yang berasal dari Tibet.  Cerita itu diangkat karena banyak teman yang bertanya-tanya tentang pertemuan mereka berdua hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. June berasal dari Jakarta. Dia awalnya berkuliah di Pittsburg State University (PSU), sebelum akhirnya pindah ke Wichita State University (WSU) karena ada konflik dengan pacarnya.  Awal pertemuan dan perkenalan mereka hanya berlangsung singkat pada di sebuah pesta. Ketika itu June masih berstatus mahasiswa PSU. Satu tahun kemudian, mereka bertemu di WSU. Keduanya  menjadi akrab  setelah sering bertemu karna kuliah di kampus yang sama.

Seringkali, June merasa jengkel karena berulang-ulang diinterogasi tentang hal tersebut. Sampai akhirnya June mengeluarkan kalimat yang menurut saya sangat menarik. Berikut ini penggalan kalimat yang saya kutip dari Novel Fira Basuki itu

Somehow we managed to stick it out, and if people still want to ask how on earth I could marry Jigme, a Tibetan, I usually answer, “We were made for each other…it was our destiny to be together. Even though he’s Tibetan and I’m Indonesian, you can’t question fate, can you?”

Kalimat yang diungkapkan oleh June tersebut menarik bagiku. Saya jadi teringat pada Bondhan dan Nanin yang besok Sabtu akan melaksanakan janji suci pernikahan. Ceritanya hampir mirip-mirip. Bondhan berasal dari Solo, sedangkan Nanin berasal dari Jakarta, namun keduanya dipertemukan di Salatiga, ketika sama-sama kuliah di Fakultas Ekonomi UKSW. Ibarat asam di gunung, garam di laut, akhirnya bertemu di kuali, begitulah kalau sudah jodoh.

Setelah membayangkan itu, entah karena rasa kangen pada kota Salatiga, kemudian saya berpikir lebih jauh tentang kisah-kisah seru seperti yang dialami Bondhan dan Nanin selama berkuliah di UKSW Salatiga. Tidak hanya kisah kesuksesan cinta, kisah kegagalan dalam menjalin kasih pun juga pasti banyak. Tidak sedikit pula bagaimana cerita-cerita semasa bermahasiswa baik kehidupan di kampus atau di luar lingkungan kampus. Tidak luput pula pasti banyak cerita tempat-tempat favorit untuk nongkrong hingga warung-warung makan spesial yang sering dikunjungi semasa kuliah.

Saya kemudian berimajinasi. Apabila penggalan-penggalan kisah dari generasi ke generasi di UKSW yang bercerita secuil pengalaman ketika berkuliah di Salatiga tentu akan sangat menarik. Dia akan bisa menjadi ajang nostalgia.  Catatan-catatan lintas generasi itu juga dapat saling memberikan informasi mengenai UKSW dan Salatiga tempo dulu hingga sekarang. Apalagi, mahasiswa UKSW berasal dari segala penjuru Indonesia, tentu akan sangat kaya dengan ribuan-ribuan kisah yang menarik selama di Salatiga.

Selama tahun 2003 hingga 2008, saya mengalami banyak momen dan kenangan di kota dengan 4 kecamatan tersebut. Ketika harus meninggalkan Kota Salatiga dan UKSW, terasa berat untuk dilakukan namun kemudian dengan disertai kangsen bahwa suatu saat pasti datang ke Salatiga lagi. Dan memang benar. Setiap kali pulang dari Denpasar ke Jawa, Salatiga adalah salah satu kota tujuan untuk disinggahi untuk sekedar melihat-lihat situasi kota dan kampus saat ini hingga bernostalgia menikmati kuliner favorit di Salatiga. Mungkin terlalu banyak cerita yang bisa diulas, namun saya mencoba untuk menulis penggalan demi penggalan pengalaman tentang Salatiga dan UKSW.

Saya pun berhasil mengajak dan mengumpulkan cerita-cerita menarik mahasiswa UKSW dari generasi ke generasi dan membukukannya. Tidak hanya dibukukan, saya juga membeli sebuah domain dan hosting yang mengumpulkan kisah-kisah tersebut. Semua alumni UKSW memberi respon yang baik. Beragam kisah-kisah yang menginspirasi yang bersumber dari cerita dan pengalaman berkuliah di UKSW. Kisah pacaran yang berakhir dengan pernikahan, kisah perselingkuhan, cerita kegagalan cinta, cerita warung-warung makan favorit semasa kuliah, cerita perkuliahan hingga bekerja di UKSW dan ribuan cerita dengan penulis dan ide yang berbeda-beda.

Wah, ada suara yang memanggil namaku. Ternyata Mak sudah datang. Dari jauh ada suara laki-laki mrongos yang menawarkan jasa becaknya ke Mak. Ternyata tadi cuma lamunan saja yang diawali dari membaca 11 halaman novel The Windows. Karna Mak sudah datang, berarti saatnya pulang ke rumah dengan barang belanjaan yang banyak. Apakah mungkin ribuan kisah dalam lamunan itu bisa diwujudkan? Adakah teman-teman alumni UKSW yang mau menuliskan kisah dan pengalaman hidupnya selama berkuliah di Salatiga ya? Semoga tidak hanya menjadi lamunan di depan Terminal Palur saja.

Melalui catatan ini, saya juga mengucapkan selamat untuk Bondhan Feby Respati dan Chrisnanin Kusumadewi yang besok pada hari Sabtu, 3 Juli 2010 akan melangsungkan janji suci pernikahan di GKJ Margoyudan, Solo. TUHAN senantiasa memberkati.

Tags: , , , , , , , ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

2 Responses to “Salatiga Kota Kisah”

  1. [...] This post was mentioned on Twitter by Fira Basuki. Fira Basuki said: Thx. Gd luck :) RT @Winartozip: menulis note Salatiga Kota Kisah http://bit.ly/cJb8tS, dapat ide dari The (cont) http://tl.gd/28rukh [...]

  2. J. Yacob says:

    Lagi blogwalking…
    Dari salatiga ya kang?

Leave a Reply