You are here: Home > (Not) Daily Stories > Ora Marai Sugih, Nanging Nyukupi

Ora Marai Sugih, Nanging Nyukupi

Selasa pagi, aku bangun kesiangan. Biasa bangun jam 5 pagi, namun terpaksa menambah jam tidur karena baru tidur jam 2 pagi. Senin malam hingga dini hari, aku dan teman-teman sekolah ketika SMA janjian untuk wedangan di Pak Mul Kontot. Kami janjian jam 8 malam. Tidak banyak yang datang. Hanya 5 orang saja; aku, Yudo, Adith Jozh, Hoho dan Haniego. Wedangan Pak Mul Kontot itu menjadi salah satu favorit kami untuk nongkrong, sebab lokasinya sangat enak dan strategis di kawasan Slamet Riyadi. Selain itu, di Wedangan Pak Mul Kontot, kami bisa menikmati fasilitas Wi-Fi. Barangkali sangat jarang ditemui, sambil ngeleseh di wedangan bisa menikmati Wi-Fi secara gratis dengan kecepatan yang cukup memuaskan.

Momen nongkrong bareng malam itu menjadi ajang bernostalgia dan reuni setelah sekian lama tidak bertemu dan berkumpul dengan diselingi kecrok-kecrokan yang menjadi bumbu keakraban. Kecrok-kecrokan itu sudah menjadi ciri khas aku dan teman-teman. Tidak ada yang marah, tidak ada yang sakit hati dengan saling balas ejek itu. Yang ada malahan rasa persahabatan yang semakin merekat. Itulah bahasa persahabatan kami.

Dengan beralaskan tikar, alur pembicaraan mengalir begitu saja. Tidak luput adalah berbagi cerita pengalaman masing-masing, juga pengalaman teman-teman satu angkatan di SMA 3 Surakarta. Kami lulus dari SMA 3 Surakarta pada tahun 2003. Ternyata sudah banyak yang berhasil dengan karir, bisnis dan cita-cita masing-masing, meskipun masih ada yang harus berjuang untuk mendapatkan pekerjaan atau yang masih berusaha memperoleh gelar. Beragam cerita kawan-kawanku hadir di malam itu, termasuk mereka yang sudah berkeluarga dan punya momongan. Aku banyak mendapat pelajaran dari kisah-kisah teman-temanku itu, bahwa hidup adalah sebuah perjuangan.

Sehabis merapikan kamar, aku membersihkan rumah. Ternyata Bapak sudah berangkat, sedangkan Mak dan Masku sudah pergi ke pasar. Berarti aku tinggal menunggu kedatangan mereka dan kemudian membantu Mak untuk mempersiapkan dodolan pecel dan bakmi. Jam 8 pagi mereka pulang dari pasar. Barang belanjaan sudah berada di dapur dan aku sudah siap beraksi untuk memotong sayur-sayuran untuk pecel serta ndeplok kacang tanah untuk dijadikan bumbu pecel. Tidak seberapa lama, ada seseorang yang datang. Ternyata dia adalah Pak Pardi, salah seorang pengumpul rosokan di sampah belakang rumahku. Dia juga sering membantu bapakku untuk mendorong gerobag ketika hendak membuang sampah yang dikumpulkan dari lingkungan perumahan dekat rumahku. Setelah itu, Pak Pardi mencari dan mengumpulkan barang-barang untuk bisa dijual kembali.

Pak Pardi duduk di dapur rumahku. Di sana sudah kini ada aku, Mak, Masku dan Pak Pardi. Berempat kami ngobrol. Sambil menikmati segelas kopi dan rokok, Pak Pardi banyak bercerita tentang keluarga dan pekerjaannya. Selain mengumpulkan barang rosokan, dia juga memiliki usaha makanan kecil yang dikelola bersama dengan istrinya. Tidak hanya itu, dia juga punya usaha untuk memperbaiki sepatu dan lampu neon yang rusak. Untuk mengerjakan itu semua, dia butuh kerja keras dan rata-rata tidurnya kurang dari 4 jam sehari.

Masing-masing orang memiliki perjuangan hidup dan hasil masing-masing. Sama-sama telah bekerja keras namun ada yang bisa menjadi kaya, akan tetapi ada juga yang masih hidup pas-pasan dari hasil kerja kerasnya. Aku banyak belajar dari sosok Pak Pardi. Meskipun hidupnya terbilang pas-pasan, akan tetapi prinsipnya dalam bekerja adalah asalkan pekerjaan itu halal dan ora maling. Walaupun pekerjaan itu ora marai sugih, nanging nyukupi kebutuhan

Kebetulan ada seorang anak seusia tujuh belasan tahun yang tidak lagi bersekolah. Namanya Danu. Dia bekerja menjadi kuli dan beberapa hari ini membuang brangkal hasil penghancuran sebuah bangunan di belakang rumahku. Anaknya sangat rajin dan sangat kuat karena hampir tiap hari menarik gerobag dengan isi yang tidak ringan. Aku dan keluargaku cukup akrab dengan dia karena sering jajan di rumahku. Kami iseng-iseng dengan disertai guyonan bertanya tentang gajinya. Alangkah terkejut ketika mendengar pengakuannya bahwa dalam seminggu dia hanya digaji lima puluh ribu rupiah. Apakah itu sebanding pekerjaannya yang sangat berat?

Sekali lagi, itulah warna-warni kehidupan. Rangkaian cerita dari lesehan Pak Mul Kontot, cerita Pak Pardi dan Danu mungkin bisa menginspirasi bahwa hidup butuh perjuangan dan usaha keras. Setiap hasil dari usaha patut untuk selalu disyukuri, dinikmati serta yang tidak kalah penting adalah jangan sampai merugikan orang lain.

Tags: , , , , , , , , , ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

4 Responses to “Ora Marai Sugih, Nanging Nyukupi”

  1. bali bicara says:

    salam kenal dari bali bicara :)

  2. titiw says:

    Hahah.. kecrok2an.. apa sih tuh dek artinya..? Dalam bahasa jakarta maksudnya ceng2an kali ya.. :D

  3. a! says:

    wah, win rupanya lg bali deso utk jd pemberi semangat rohani. ;) )

    ceritamu wis mirip mario teguh. :D ndang bali wae ning bali.

Leave a Reply