You are here: Home > (Not) Daily Stories > Hormatilah Ayahmu dan Ibumu

Hormatilah Ayahmu dan Ibumu

Ada tertulis dalam sebuah kitab suci, “Hormatilah ayahmu dan ibumu, supaya lanjut umurmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu”.

Meskipun penggalan ayat di atas diambil dari kitab suci agama tertentu, namun adakah yang tidak sepakat jika menghormati ayah dan ibu adalah sebuah kewajiban bagi seorang anak? Tapi akhir-akhir ini ada banyak ditemui seorang anak yang mbalelo marang wong tuwa. Sangat sering terdengar, seorang anak yang menyakiti hati maupun fisik orang tua dengan alasan-alasan tertentu.

Bukan bermaksud untuk mengkritisi penggalan ayat di atas, namun kata “supaya” pada ayat tersebut menandakan ada sebuah tujuan/maksud tertentu setelah seorang anak menghormati ayah dan ibunya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata “supaya” diartikan sebagai:

kata penghubung untuk menandai tujuan atau harapan; mudah-mudahan sampai pd maksudnya; hendaknya; agar

Dari kutipan ayat tersebut, jika seseorang menghormati ayah dan ibu, maka akan memperoleh imbalan/balasan lanjut umur, sesuai dengan yang tercantum pada kalimat lanjutannya. Sebaliknya, jika tidak menghormati ayah dan ibu, maka tidak akan mendapatkan imbalan itu. Bila penghormatan terhadap ayah dan ibu ada embel-embel harapan, maksud dan tujuan tertentu (lanjut umur), bukankah penghormatan kepada orang itu itu tidak murni?

Jika direnungkan, betapa sangat besar jasa-jasa ayah dan ibu untuk seorang anak. Sejak dari dalam kandungan hingga tumbuh dan berkembang menjadi besar, seorang anak tidak akan bisa lepas dari peran ayah dan ibu. Tanpa peran ayah dan ibu, seorang anak tidak bisa berbuat apa-apa. Jadi, hormatilah ayahmu dan ibumu.

***

Tanggal 23 Juli kemarin, diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Bertepatan dengan hari anak tersebut, menjadi saat yang tepat untuk berkontemplasi pada banyak hal, salah satunya adalah hubungan antara orang tua dengan anak, tidak peduli berapapun umurnya, jika seseorang masih memiliki orang tua, maka dia disebut sebagai seorang anak.

Di sebuah perkampungan, ada seorang ibu yang berumur sekitar 70 tahun. Suaminya sudah meninggal 3 tahun yang lalu. Dia memiliki 5 orang anak yang semuanya sudah menikah. Empat orang anaknya tinggal dalam satu lingkungan di kampung tersebut, sedangkan seorang anaknya merantau ke Sumatera.

Namun sungguh sangat ironis bila melihat keseharian ibu tersebut. Kehidupan sehari-harinya semakin terpinggirkan setelah rumah utama dibongkar dan kemudian dibangun 4 rumah untuk anak-anaknya. Demikian pula kehidupan suaminya sebelum meninggal. Pada masa-masa tuanya, bukannya diseneng-senengke oleh anaknya, malahan harus terusir secara perlahan-lahan, hingga bertempat tinggal di sebuah gubug dan meninggal di sana.

Si ibu kini tinggal di rumah anak yang keempat. Beberapa hari yang lalu si anak membongkar sebuah emplek-emplek di samping rumahnya dengan maksud untuk dibuat jemuran. Emplek-emplek yang ditutupi oleh gedhek itu biasa dipakai oleh ibu itu untuk memasak dengan menggunakan pawon dan kayu. Oleh karena alasan tertentu, sang ibu tidak menggunakan dapur dan kompor milik anaknya. Pasca dibongkar, kini ibu itu harus memasak di tempat terbuka, tanpa tedheng aling-aling gedhek. Coba bayangkan jika musim penghujan! Padahal secara kemampuan ekonomi, keempat anak ibu tersebut hidup secara berkecukupan, atau malahan bisa dikatakan berlebih. Namun pada kenyataannya,  mereka malahan membiarkan ibunya hidup susah pada masa tuanya.

***

Dalam segala keadaan, ayah dan ibu wajib dan harus dihormati. Jangan sampai menyakiti hati dan fisik orang tua, apalagi sampai melupakan orang tua, sebab mereka telah merawat dan membesarkan anak dengan sekuat tenaga. Masih ingat dengan cerita Malin Kundang, tokoh yang dikutuk jadi batu karena durhaka kepada ibunya? Terlepas dari benar/tidaknya cerita itu, ada banyak pesan-pesan moral yang terkandung pada kisah hidup Malin Kundang.

Apabila pernah berbuat salah kepada orang tua, ada baiknya datang dan minta maaf. Itu adalah salah satu wujud menghormati orang tua. Jika hendak menyakiti orang tua, ingatlah ketika kecil mereka menggendong, merawat bila sedang sakit atau meninabobokkan dengan disertai kudangan agar ketika nanti dewasa, sang anak menjadi seseorang yang berguna untuk masyarakat, bangsa dan negara. Jadi, hormatilah ayahmu dan ibumu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

2 Responses to “Hormatilah Ayahmu dan Ibumu”

  1. imadewira says:

    jujur saja, setelah punya anak, saya baru merasakan bagaimana rasanya menjadi orang tua, dan itu semakin menyadarkan saya betapa orang tua (ibu dan ayah) harus kita hormati dan sayangi.

Leave a Reply