Dari Bangku Gereja
Terdengar suara seorang wanita dan laki-laki sedang udur-uduran dari dalam sebuah rumah. Suara ibu dan anaknya laki-laki yang tengah bersitegang itu membuat kaget tetangga sekitar. Si Ibu merasa kecewa pada anak laki-lakinya karena dianggap tidak tegas pada istrinya yang kedapatan selingkuh dengan laki-laki lain. Kasus perselingkuhan yang konangan itu sudah santer terdengar, hingga dipertemukan antara orang tua pihak laki-laki dan perempuan dan laki-laki yang menjadi kekasih gelap.
Dalam pertemuan itu, istri yang berselingkuh dan pacar gelapnya berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi. Saling berkirim pesan singkat pun tidak. Masing-masing sebetulnya sudah memiliki tanggung jawab. Wanita itu sudah punya suami dengan seorang anak yang berumur sekitar 5 tahun, sedangkan sang kekasih gelapnya telah memiliki istri yang sedang mengandung.
Lantas terdengar suara piano yang memainkan sebuah lagu. Suara itu mengembalikan pikiranku yang tengah melayang untuk kembali bersama dengan raganya di GKJ Margoyudan. Kini aku sedang berada di pemberkatan pernikahan Bondhan dan Nanin.
Entah mengapa, kasus perselingkuhan yang menimpa tetanggaku di atas sampai terbawa manakala aku duduk di gereja, saat-saat berbahagia karena Bondhan dan Nanin sedang melaksanakan pemberkatan nikah dan pengucapan janji sebagai pasangan suami istri. Mungkin karena kasus selingkuh yang menimpa tetanggaku itu masih segar diingat. Yang selalu mbenging dan terus menjadi tanda tanya dalam diriku adalah mengapa perselingkuhan itu sampai terjadi sedangkan kira-kira 5 tahun yang lalu mereka pun saling mengucapkan janji setia? Ah tidak tahulah, mungkin itu salah satu cobaan dalam kehidupan pernikahan saja, karena aku pun belum masuk ke tahap itu.

Aku duduk di sebuah bangku gereja, pada bagian tengah di sayap kiri. Aku memerhatikan tahap demi tahap pemberkatan nikah Bondhan dan Nanin secara saksama. Pendeta Tanto Kristiono yang memimpin pemberkatan nikah itu membaca liturgi kebaktian pemberkatan yang berbunyi, “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Karena itu apa yang telah dipersatukan Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia.“
Aku pikir itu “ayat emas” yang digunakan pada setiap upacara pemberkatan nikah. Berulang-ulang kali aku mendengarkan dan membacanya langsung. Namun, ada perasaan yang berbeda ketika siang itu aku kembali membaca dan mendengarkan ayat tersebut. Barangkali aku terbawa suasana khidmat dan sakral ibadah pemberkatan di GKJ Margoyudan Sabtu siang itu. Aku menyaksikan kedua sahabat, Bondhan dan Nanin, yang akan mengucapkan janji nikah membuat badanku merinding. Mungkin juga dirasakan oleh orang lain, mungkin juga tidak sebab dianggap sesuatu hal yang biasa. Tapi bagiku, apa yang kurasakan saat itu adalah murni karena perasaan bahagia melihat sejoli yang mengawali kisah kasih mereka di Salatiga, kini mereka saling mengucapkan janji mereka untuk menjadi suami istri.
Setahu dan seingatku, Bondhan dan Nanin sudah memulai pacaran semenjak bulan Desember 2005 setelah menjalani perjuangan “penembakan” yang keras. Aku tahu sedikit kisah mereka karena aku dan Bondhan tinggal di kontrakan yang sama di Cemara 2/69 bersama dengan 5 teman yang lain dan 1 penghuni gelap tetap. Sangat sering kami bercanda dan pergi bersama ketika berada di Salatiga. Kenangan 4 tahun berkuliah di UKSW yang tidak mungkin terlupakan. Bagiku, mereka adalah pasangan yang sangat serasi. Mungkin karena sudah cukup lama berpacaran, momen 3 Juli kemarin adalah sebuah bukti keseriusan hubungan mereka untuk membangun rumah tangga. Bondhan dan Nanin adalah salah satu bukti kisah manis yang dimulai dari Salatiga.
Saat keduanya saling mengucapkan janji setiap, dari bangku gereja aku berdoa dan meyakini bahwa keduanya akan sanggup menjalani beraneka rasa dalam hidup berumah tangga. Memang aku belum pernah merasakannya, tapi berkaca dari pengalaman-pengalaman kehidupan rumah tangga orang lain, termasuk kasus perselingkuhan tetanggaku, aku hanya bisa mengatakan bahwa hidup berumah tangga pasti ada masa manis bulan madu, masa-masa pencobaan dan ujian yang akan membawa mereka ke dalam tahap kedewasaan berumah tangga, yang suatu saat aku juga pasti akan mengalaminya. Lagu berjudul Berkatilah yang dinyanyikan kedua mempelai sesaat setelah mereka mengucapkan janji dan bertukar cincin, kembali membuat badanku gemetar, terhanyut dengan suasana bahagia.
Majelis gereja, keluarga, jemaat dan teman-teman menyaksikan ikrar Bondhan dan Nanin, dengan disertai doa-doa agar keduanya berbahagia. Aku pun demikian. Aku yakin mereka pasti berbahagia. Doa-doa yang dipanjatkan, doa restu orang tua ketika sungkeman, ayat-ayat yang dibacakan beserta dengan lagu-lagu yang dinyanyikan di siang hari itu, akan menjadi kekuatan bagi Bondhan dan Nanin untuk melangkah membangun rumah tangga. Aku banyak belajar dari kisah pasangan yang tengah berbahagia itu dan dari bangku gereja di jalan Monginsidi Solo, aku banyak memperoleh bekal dan ilmu hidup. Selamat menempuh hidup baru. TUHAN pasti memberkati.







