My Words as My Mind and Soul

Senin malam di sebuah wedangan yang berlokasi di samping Kampus UNS Mesen Solo. Berbekal sebuah gitar yang menanti pemainnya, Adith Jozh dan Yudo lantas memainkan alat musik 6 dawai tersebut. Saya hanya mendengarkan sambil sesekali bergumam menirukan lagu yang dinyanyikan dengan ditemani satu gelas kopi susu. Karena hanya sebuah konser dadakan di sebuah wedangan, lagu-lagu yang dinyanyikan pun ngalor-ngidul, yang penting senang dan bergembira, sambil sesekali membuat plesetan dari liriknya.

Lagu Sesuatu Yang Tertunda yang dipopulerkan oleh Padi dan Iwan Fals ketiban sampur untuk dinyanyikan oleh Yudo dan Adith Jozh. Berikut lirik awalnya:

Disini aku sendiri, menatap relung-relung hidup
Aku merasa hidupku, tak seperti yang kuimingkan
Terhampar begitu banyak warna kelam sisi diriku
Seperti yang mereka tahu, seperti yang mereka tahu

Liriknya menggugahku untuk berpikir dan mengingat pada peristiwa yang terjadi pada hari Minggu di Salatiga.  Sambil nyruput kopi susu, saya kemudian merenung dan banyak belajar tentang bagaimana menghadapi dan menjalani hidup.

ngebong Para Pembersih Makam

Hari Minggu pagi, saya mengantar teman untuk nyekar di Ngebong, Salatiga. Langit Salatiga yang cerah dipadu dengan udara sejuk, menambah romantis suasana, di sekitar Ngebong, terbukti dengan beberapa pasang pemuda-pemudi yang nongkrong di sebuah kuburan.

Selain nyekar, aktivitas rutin yang dilakukan di ngebong adalah membersihkan kuburan dari rumput-rumput  liar. Biasanya, ada penduduk sekitar yang bersedia untuk membersihkan, bila diminta. Untuk tujuan berbagi rezeki, kami memanggil 3 orang yang tengah duduk di atas sebuah kuburan dan meminta mereka untuk membersihkan rumput-rumput liar.

Dengan sigap mereka bekerja, meski sesekali berhenti untuk sekedar mengelap keringat atau mencabut duri-duri tajam yang masuk di kulit. Ketiganya sangat semangat bekerja. Salah satu di antara mereka tunawicara, namun dia sangat semangat bekerja. Anaknya yang masih kecil melihat bapaknya yang sedang bekerja.

Setelah hampir 25 menit bekerja, akhirnya masing-masing diberi lima ribu rupiah, sebuah nilai upah yang biasa diberikan untuk para pembersih makam. Raut muka senang dan bersyukur tergambar di ketiga wajahnya. Setelah selesai nyekar dan berdoa, kami pun berpamitan pulang. Meski sudah selesai tugasnya, para pembersih makam itu masih terlihat sibuk membersihkan rumput-rumput liar di sekitar makam. Sebuah pekerjaan dan pengabdian yang mulia.

Penjual Wedang Ronde

Masih pada hari yang sama, namun di siang hari di depan Toko Sweet Shop. Ada sebuah gerobag wedang ronde yang didorong oleh laki-laki tua berumur kira-kira 60 tahun. Dia hendak berjualan di depan Toko Sweet Shop. Dengan dibantu oleh seorang tukang parkir, dia mendorong gerobagnya ke atas trotoar.

Sambil mendorong gerobag, penjual wedang ronde itu bercerita bahwa dagangan temannya yang juga penjual ronde sangat laris karena diborong oleh satu rombongan bus di depan Pasar Raya Salatiga. Si tukang parkir hanya menimpali supaya Bapak penjual wedang ronde itu tidak iri sebab rezeki orang sudah ada jatah sendiri-sendiri.

Mungkin bila melihat relung-relung kehidupan mereka lebih dekat, akan banyak pelajaran hidup yang bisa didapat. Namun, dengan hanya merenungkan sekelumit peristiwa di atas, saya sudah bisa banyak belajar dari kehidupan mereka. Saya melihat mereka semua selalu bekerja keras, berjuang sekuat tenaga untuk hidup.

Pelajaran lain yang saya dapat adalah senantiasa bersyukur atas apapun yang diperoleh. Memang begitulah putaran roda kehidupan. Setiap apa yang diperoleh harus disyukuri. Tidak perlu iri dengan keberadaan rezeki orang lain, demikian pula jangan sampai sombong apabila sampai kecukupan bahkan hingga berkelimpahan. Selalu bersyukur. Walaupun pelajaran-pelajaran hidup itu mudah untuk dikatakan, namun belum tentu akan mudah pula dilakukan. Benarkah? Semoga saya mampu melakukannya.

§2095 · June 30, 2010 · Short Stories · Tags: , , , , , , , · [Print]

2 Comments to “Sesuatu dari Ngebong dan Wedang Ronde”

  1. PanDe Baik says:

    Saya baru pada tahap mencoba…

Leave a Reply