My Words as My Mind and Soul

Perilaku Jangan Ditiru

Kali ini sharing pengalaman di jalan raya. Sebenarnya beberapa kali saya menemui kejadian seperti yang saya pasang pada foto di atas. Foto itu saya ambil tanggal 1 Juni yang lalu, tepatnya di Jalan Raya Kerobokan. Kala itu saya naik mobil APV bersama Agung lewat di jalan raya tersebut hendak menuju ke Denpasar.

Dalam perjalanan, kami menemui dua orang yang sedang mengendarai sepeda motor dan berjalan berjajar sehingga menghambat kendaraan yang berada di belakangnya. Mereka terlihat asyik ngobrol, namun entah apa yang diperbincangkan. Beberapa kali di klakson namun seolah-olah tidak didengarkan. Sangat cuek sekali. Berkendara di jalan raya, berjalan sejajar dan ngobrol santai di atas sepeda motor.

Situasi tersebut membuat jengkel seolah-olah jalan raya tersebut adalah milik nenek moyangnya. Setelah berkali-kali diklakson, akhirnya salah satu dari mereka menepi sehingga mobil kami bisa lewat. Saya menoleh dan tambah kaget sebab di tangan kiri laki-laki itu terdapat telepon tangan. Dia juga terlihat sibuk mengetik.

Saya sangat menyayangkan kejadian yang saya lihat seperti yang tergambar pada foto di atas. Selain sak enake dewe berjalan berjajar dan ngobrol santai di atas sepeda motor, tindakan mengetik di telepon tangan sambil mengendarai sepeda motor adalah sebuah hal yang berbahaya; berbahaya untuk dirinya sendiri dan pengendara lain. Dan lagi, kalau laki-laki dan perempuan itu ingin ngobrol, bukankah lebih enak kalau sambil duduk di warung/kafe sehingga mereka bisa leluasa bercengkrama?

Semoga bisa menjadi pelajaran untuk kita semua.

§2033 · June 8, 2010 · Short Stories · Tags: , , · [Print]

11 Comments to “Jalan Raya Bukan Milik Mbahmu”

  1. Cahya says:

    Wah…, itu orang ndeso, tumben pegang hape :D

  2. Cara mengklaksonnya yang salah mas. Seharusnya klakson dipencet sekali saja, tapi selama mungkin. Pasti dia cepat minggir. :)

  3. adin says:

    wah, kerobokan, tampat saya tinggal dan bermain waktu kecil, sebelum pindah ke Gianyar, terus pindah lagi ke Jogja…jangan-jangan salah satu temen kecil saya dulu tuh,hehe…

  4. imadewira says:

    kayaknya ini di depan balai banjar Kancil… ya hal seperti ini memang sering terjadi di jalan, jujur saya juga pernah seperti ini, makasi atas peringatannya mas, cocok untuk kita pakai introspeksi diri bersama-sama

  5. rawit says:

    haha..iya males banget lo ketemu yang model ginian..mbok ya boncengan aja sekalian mbak, mas..apa lagi pedekate gitu yah..
    pa kabar mas win?lama ga main kesini, hehe

  6. wirama says:

    buat strategi kasar, mepetkan mobil, bila perlu cium pantat mereka denghna bemper mobilnya…

    ah, ga perlu..cukup ganti klaksonnya pake klakson truk tronton aja :-P

Leave a Reply