Melalui milis Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia (PSKTI), Neil Rupidara, dosen FEB UKSW dan PhD Candidate di Macquarie University, melemparkan sebuah diskusi yang menarik mengenai Paradoxes of Higher Education dengan menyertakan sebuah tulisan dari Steven Schwartz, Vice-Chancellor Macquarie University, Australia. Neil Rupidara juga mengajak untuk menjadikan diskusi ini sebagai sebuah online seminar.
Berikut ini ajakan Neil Rupidara seperti yang tertulis pada email yang dikirim pada tanggal 7 Mei 2010.
Dear Kawans,
Tulisan ini menarik. Bagi kita, menariknya mungkin bukan karena argumen bahwa universitas itu penting sebagai salah satu engine kemajuan ekonomi dan masyarakat (sekalipun diabaikan para politisi dan general public), namun karena argumen ini tidak berlaku di kita. Di kita, universitas cuma sekedar melakukan tugas2 rutinnya, terutama menghasilkan lulusan, yang entah mau jadi apa ya biarin. Kalau peduli dengan masa depan si lulusan, ya kaca mata kuda pragmatisme yang dipakai, jadikan mereka tukang-tukang. Masih jauh kita dari pemikiran bahwa universitas adalah penelor the creative class (istilah yang digunakan pak Willi, universitas sebagai the producer of knowledge producers) yang dengan kualitas pemikiran dan kapabilitas intelektualnya (bukan semata ketrampilan2 pertukangan), akan terus berkarya melontar gagasan2 baru dalam konteks masyarakat yang terus berubah, sehingga perubahan masyarakat dicirikan oleh inovasi-inovasi dan lompatan pemikiran. Karena pragmatisme sempitnya, warga universitas, termasuk dosen-dosen yang terhormat selalu saja resisten terhadap riset dan pendekatan pengajaran berbasis riset dalam universitas.To Bang Herbin, merujuk pendapat Margison, Schwartz di bawah mengingatkan kita bahwa universitas ternyata bisa juga merupakan sarang penyamun. Kakunya organisasinya universitas bisa lebih “hebat” dari birokrasi lembaga pemerintahan. Saking penuh orang pintar di kampus, birokrasi kampus suka dicirikan oleh lempar-melempar tanggung jawab dan lalu menjadi tidak peduli dan tidak jelas siapa harus bertanggung jawab masalah apa, misal kasus etika profesi. Kalau di pemerintahan atau militer mestinya jelas letak tanggungjawabnya di mana, walau saking memuja kultur face saving dan paternalis-hierarkis, ya boss seakan selalu benar, walau sekarang budaya “protes jalanan” pun makin mewarnai praktik-praktik keorganisasian di Indonesia.
Lalu bagaimana universitas seperti UKSW bisa membangun dirinya menjadi lebih baik dan memenangkan gagasan bahwa apa yang dilakukan di universitas adalah benar-benar investasi penting bagi masa depan bangsa? Ada ide? Mari didiskusikan.
@Kawan2 PSKTI, bisakah ini jadi Online Seminar kita selama bulan ini? Bagaimana om Jubhar, om Ferry, om Ten, bung Theo, bung Julius, dkk semua? Kalau boleh, saya mengundang urun pendapatnya masing-masing anggota. Gagasan bisa diarahkan pada akumulasi pengetahuan dari riset2 di kawasan timur, untuk rekomendasi kebijakan dan program pembangunan. Jadi, kita bicara spill over pengetahuan dari universitas ke ranah publik. Sumonggo.
Salam,
Neil
Di bawah ini adalah artikel Steven Schwartz, yang diambil dari Vice-Chancellor’s Blog.
The paradoxes of higher education
Written by Steven Schwartz on May 5th, 2010
Three unrelated reports caught my attention this week, two emanating from Australia, the other from the UK. Unrelated they may be, yet there is a connecting theme: the purpose of universities.
Report number one was commissioned by Universities Australia, the body that represents the country’s 39 universities. Economic Modelling of Improved Funding and Reform Arrangements for Universities was drawn up by consulting firm KPMG Econtech.
The report, in UA’s words, finds an overall 14.1% rate of return on funding higher education, “which means it is an investment, not a budget haemorrhage”.
“The report suggests that full and ongoing implementation of the increase in public funding and structural reform into the future will increase productivity by 5.6%, labour force by 0.8% and living standards (household consumption) by 5.8% by 2040.
“Universities can help to restore a budget surplus quickly since university graduates expand the work-force, pay high taxes and begin repaying their HECS after graduation. Many also work and pay tax during their studies.”
You can read my previous post querying the logic of the KPMG report here.
The second is from Professor Steve Smith, president of Universities UK and vice-chancellor of the University of Exeter.
Professor Smith finds it strange that the three major parties contesting the UK General Election have made little mention “on some of the most important issues facing one of the UK’s greatest assets – our universities”.
“Since all the parties are talking about ‘getting the economy moving again’, it is disappointing not to see more detail on how they will support one of the instruments for the UK’s long-term economic strength.”
The Universities Australia argument – that higher education is a vital element in stimulating economic growth – is also familiar in Britain, with, for example, Universities UK contending that
“our universities are uniquely well placed to help ensure we all grow and prosper in an uncertain world … in difficult economic times spending on higher education is not a cost to the nation but a vital investment in our ability to meet the challenges of the future.”
If Universities Australia and Universities UK are correct, why is it that the economic benefit of universities has rarely been mentioned in the UK election debate, especially since the UK economy is in such a parlous state?
Does it mean that politicians do not believe the economic benefit argument?
Do politicians believe that no one outside of universities believes it, thus it is not worth spending too much time on?
Is it such a self-evident, universally acknowledged truth that it does not need to be mentioned?
I suspect that politicians and the wider public believe the economic value argument may be true to an extent, but that it fails to tell the whole story about what universities are for.
And here I come to the third article, this one by Professor Simon Marginson, of the Centre for the Study of Higher Education at the University of Melbourne, and which I think shows why the economic benefit argument, though by no means spurious, has little traction outside of the higher education sector.
Marginson contends that universities are riddled with paradoxes. They are neither one thing nor the other; they are many (sometimes contradictory) things.
The university, he argues, is at once “the high temple of modernity”, thriving as the cauldron of innovation while simultaneously being steeped “in an older style of bureaucracy and a mediaeval-clerical culture”.
Universities may be business-like, he says, but they are not businesses: they belong to the “gift economy” not the market economy in that their “goods’ – knowledge – are “given to society, in the main, without an explicit promise in return of immediate, or even future, reward“.
For Marginson the various paradoxes make it certain universities can never be reduced to a singularity with one primary aim: for example, making the country wealthy.
And to attempt to “resolve these paradoxes would be to start to unravel the university”:
“Any such ‘resolution’ is bound to reduce what the university does and is for to the creation of value, thus narrowing its social and political base … in each paradox, one side of the paradox provides the conditions of possibility for the other. To chop off one side is to leave the other swinging free, without any visible means of support.”
Marginson’s report is worth reading in full, which you can do here.
Why is it that the economic benefit argument has little traction among the wider public and many politicians? Is Marginson right: are universities too complex to be reduced to a singularity?
- Steven Schwartz
Satu respon datang dari Ferry Karwur PhD pada hari yang sama. Dia menyatakan setuju untuk mendiskusikan topik yang dilemparkan oleh Neil Rupidara. Berikut penggalan email yang ditulis oleh Ferry Karwur.
Saya setujuh untuk membicarakan hal ini sebagai suatu online seminar. Tentunya, dengan syarat bahwa setiap orang diharapkan membuat suatu tanggapan argumentatif. Tentunya dengan suatu bahasa ilmiah yang dapat dipertanggung-jawabkan. Penulisan referensi, yang baku, langsung saja di dalam tulisan tsb, nanti diedit. Usul saya Neil yang mengambil posisi leader dalam topik ini.
Salam
Atas respon tersebut di atas, Neil Rupidara membalasnya lima hari kemudian, atau tanggal 12 Mei 2010. Berikut isi balasan email yang ditulis Neil Rupidara.
Hallo om Fer..
Terima kasih atas respon tunggalnya he he he… Mungkin pada sibuk.. Saya juga mohon maaf baru membalasnya karena tersita waktu menyelesaikan papers saya untuk ke Inggris dan Portugal bulan Juni – Juli, plus urusan2 persiapan perjalanannya, dan beberapa hal terkait.
Soal usulan om Fer, saya prinsipnya setuju untuk menyiapkan sebuah paper singkatnya untuk jadi bahan kita berdiskusi. Namun, saya cuma khawatir milis ini sunyi senyap karena lontaran ide untuk mendiskusikan topik itu hanya mendapat respon om Ferry. Ini tentu menjadi tanda tanya atas program seminar online. Namun, saya ini sudah kadung bersikap pokoknya jalankan, omongkan, sekalipun orang lain tidak tanggapi, ya nanti saya akan segera posting begitu short paper saya siap. Saya perlu siapkan dulu.
OK, ini dulu, salam..
Membaca balasan Neil Rupidara di atas, Ferry Karwur lantas membalasnya dengan tetap mendukung seminar online tersebut.
Lha ia, kita kan kalau urusan politik lebih hebat. kalau urusan ilmiah, dengan restriksi ilmiah sedikit sudah teriak. Itulah permissiveness ilmiah kita. Jadi tidak usah dulu kita mimpi terlalu beyond borders.
Ok, saya setuju, nanti kita bicarakan dua atau tiga orang sajakan jalan. Asal serius.
Rupanya, diskusi antara Neil Rupidara dan Ferry Karwur di atas juga menggelitik Marthen Ndoen PhD. Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW ini pun ikut berurun rembug pada tulisan Steven Schwartz.
Saya kira artikel ini menarik untuk dikaji oleh semua jajaran pimpinan unit di UKSW. Sebenarnya di kampus kita terbelah antara mereka yang mendukung creative thinker dan mereka yang type bureucracy clerical-culture, pinjam istilah prof. Schwarts. Creative thinker biasanya mondok di pusat pusat studi tapi mereka yang birokrat ada di istana fakultas dan progdi. Jumlah kelompok creative thinker ini sedikit, namun mereka yang tipe birokrat pragmatis opportunis cukup banyak. Mereka inilah yang selalu menghadang setiap perubahan yang terjadi. Oleh karena itu para pembantu rektor sudah mulai mensosialisasikan pikiran ini agar bisa mendobrak fosil aliran pragmatis di fakultas dan progdi.
Tanggapan Marthen Ndoen juga diikuti oleh Petrarca Karetji. Dia menyatakan mendukung seminar online ini juga memberikan lampiran laporan awal program program revitalisasi sektor pengetahuan di Indonesia. Laporan tersebut bisa diunduh dengan mengikuti tautan berikut ini |Revitalising Indonesia’s Knowledge Sector for Development Policy|
Aduh…. sorry Bung Neil dan Bung Ferry… alasan sibuk seharusnya tidak menjadi masalah untuk topik semenarik dan sepenting ini.
Anyway… bersama ini saya kirimkan laporan awal saya terkait dengan program revitalisasi sektor pengetahuan di Indonesia, Saya juga akan mengirimkan sintesa mengenai 5 negara pembanding yang juga memuat informasi yang cukup menarik apabila kita bandingkan Indonesia dengan negara2 lain yang sebenarnya menghadapi permasalahan yang sama dengan Indonesia namun lebih berani berinvestasi pada sektor pengetahuannya…Ada satu lagi papernya lipi mengenai biodiversitas Papua yang sebagai timbangan ilmiah seharusnya bisa kita kembangkan bagi KTI, tapi karena filenya besar dan mungkin saya sebaiknya minta ijin LIPI akan saya distribusikan terbatas bagi yang berminat saja.Salam hormat,Petra
Gayung bersambut. Tidak hanya Marthen Ndoen dan Petra saja yang memberikan tanggapan. Theo Litaay pun tergelitik untuk berkomentar pada diskusi mengenai Paradoxes of Higher Education ini. Berikut ini adalah komentar dari Theo Litaay.
Sorry kak Ferry, bukan tidak kontribusi tapi lagi sibuk dengan beberapa paper juga ini.Saya rasa creative thinker perlu juga didukung oleh sistem yang bagus. Tidak cukup jika hanya dengan dirinya sendiri, apalagi karena performance lembaga (institutional virtue) juga turut dibentuk oleh performance individual creative thinker ini (individual virtue).
Oleh karena itu manajemen riset secara individual project maupun secara kelembagaan menjadi sangat penting. Tetapi ini justru merupakan salah satu kelemahan terbesar di banyak universitas di Indonesia. Di berbagai universitas ada lembaga penelitian (Lemlit atau LPPM) tetapi justru menjadi sarang birokrasi baru semata atau tempat administrasi saja, tidak menjadi manajer penelitian universitas.Saya kira ini yang perlu dipelajari pula oleh para pengelola universitas kita pada best practices di luar negeri. Kalau tidak, maka akan sulit menjadi producer of information producer seperti yang pernah kita pelajari dari Prof. Willi Toisuta.salam,Theo
Tanggapan Ferry Karwur (12 September, 2010)
Saya sangat terstimulasi dengan tulisan Steven Schwartz, yang berbicara tentang paradox-paradoks universitas, yang menunjukkan bahwa ada pihak (UK dan Australia) yang melihat kehadiran dan oleh sebab itu investasi di universitas sebagai hal yang penting bagi pertumbuhan ekonomi. Pihak ini juga mempertanyakan mengapa kampanye parpol di Inggris tidak tertarik mengangkat issue universitas dalam kampanye mereka. Padahal posisi universitas dalam sejarah UK dan kesejahteraannya tidak tersangsikan. Schwartz memunculkan pikiran Professor Simon Marginson dari the Centre for the Study of Higher Education at the University of Melbourne, untuk memberi alasan mengapa parpol tidak tertarik terhadap issue tersebut.
Schwarz sebagaimana ia setir dari Prof. Marginson, mengatakan bahwa universitas bukan sesuatu tetapi banyak hal, yang terkadang bertolak-belakang, dan oleh sebab itu di dalam yang banyak hal itu muncul paradox-paradoks. Ia mengatakan (dalam bahasa saya) bahwa universitas pernah menjadi suluh modernitas di mana ia menjadi wadah besar bagi muncul dan berkembangnya inovasi (the cauldron of innovation), yang pada saat bersamaan terperangkap dan jatuh ke dalam birokrasi gaya lama serta budaya klerikal abad-abad pertengahan (budaya organisasi/administrasi kegerejaan, yang waktu itu negara dan agama menyatuh, sebelum zaman renaisans, abad 15/16, mediaeval-clerical culture).
Disinilah Marthen Ndoen memberikan catatannya, yakni bahwa menurut Marthen, di UKSW terdapat pula dua kultur yang ia sebut sebagai dua-kultur yang terbelah. M Ndoen mengatakan: “Sebenarnya, di kampus kita (UKSW) terbelah antara mereka yang mendukung creative thinker dan mereka yang type bureucracy clerical-culture, pinjam istilah prof. Schwarts. Creative thinker biasanya mondok di pusat pusat studi tapi mereka yang birokrat ada di istana fakultas dan progdi. Jumlah kelompok creative thinker ini sedikit, namun mereka yang tipe birokrat pragmatis opportunis cukup banyak. Mereka inilah yang selalu menghadang setiap perubahan yang terjadi. Oleh karena itu para pembantu rektor sudah mulai mensosialisasikan pikiran ini agar bisa mendobrak fosil aliran pragmatis di fakultas dan progdi”.
Catatan saya ialah bahwa memang universitas dalam sejarahnya menciptakan paradox-paradoks. Ia menciptakan gap-of-information, yang dengannya masyarakat berubah. Gap informasi hanya bisa menjadi relevan bagi masyarakat apabilah masyarakat itu menjadi counter-part baik dalam hal masalah yang dihadapi maupun batasan-batasan etisnya. Akan tetapi, tidak semua orang-orang dalam universitas bisa menciptakan gap-of-infornation bagi masyarakat. Ia dapat pula hanya bertindak sebagai replicator. Disinilah peran creative thinkers di universitas, yakni menciptakan gaya-gaya sentripetal dalam sistem kampus.
Ia boleh pada dirinya sebagai creative thinker, di luar arus utama kampus maupun luar-kampus. Ia boleh menjadi seperti “Yohanes Pembaptis yang berterik di padang gurun”. Tetapi, ia tidak salah kalau berada di front-line perubahan yang seperti Yesus orang Nazareth mainkan. Dalam hal ini, saya tidak melihat relevansi dikotomi creative thinker di Pusat-Pusat studi dengan Fakultas/Progdi. Tidak ada hubungan sama sekali apakah mereka yang di Pusat Studi itu lebih bisa memainkan peran-peran paradoksal atau sebaliknya. Mereka yang kreatif justru berada pada medium dalam setting organisasi yang lebih mencenghkram, tetapi tidak lalu mengurangi peran yang dapat dimainkan. Dalam hal ini Neil Rupidara tentu jauh lebih dapat mencandaranya secara ilmiah. Karena ini wilayah Kepakarannya. Saya sangat menghartapkan Catatan Neil Rupidara soal ini.
Saya melihat bahwa apa yang kita bicarakan ini adalah soal leadership di universitas, bukan dalam pengertian formal leader, tetapi peran leadership yang harus dimainkan oleh seorang ilmuan dalam bidangnya. Peran leadership itu harus melampaui batas-batas organisasasi, karena justru melalui kemampuan penetrasinyalah ia menciptakan paradoks-paradoks.
Untuk memberikan catatan kepada M. Ndoen, dalam kaitan dengan apakah seorang oportunis atau tidak oportunis, sangat tergantung pada konsistensi dirinya membawa nilai-nilai yang ia perjuangkan dalam perubahan.
Ada sejumlah hal yang masih perlu saya catatkan, dan saya akan utarakan pada sesi berikutnya.
Salam
Ferry F Karwur
Fakultas Ilmu Kesehatan
Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia
Dear kak Ferry, om Ten, om Petra, om Theo, dan teman2 lainSorry om Fer ya, harus mengambil langkah memulai, padahal saya bilang saya siap menyiapkan bahan. Bahan saya belum tuntas, masih sedikit baca lagi seputar “the idea of the university” dan tulis, namun ada baik saya tanggapi langsung dari apa yang om Fer sudah mulai. Tanggapan saya terlampir, di atas file yang om Fer kirim. Saya akan menambahkan lagi belakangan, termasuk memasukkan kembali beberapa pemikiran yang sudah saya tuangkan di blog saya.Salam
Petrarca Karetji kembali memberikan komentarnya setelah Neil Rupidara mengirimkan tanggapan. Berikut ini adalah tanggapan Petrarca Karetji.
Ngomong2 diskusi paradoks perguruan tinggi ini sudah sampai dimana ya?
Saya pribadi setuju dengan apa yang ditulis bung Neil ketika memperkenalkan tulisan Prof. Schwartz yang mengembangkan tema bersama dari tiga tulisan yang seolah2 tidak terkait, yaitu mengenai tujuan adanya lembaga universitas (the purpose of universities). Bung Neil sudah meminta pendapat mengenai apa yang seharusnya menjadi peran universitas di Indonesia. Menarik juga apa yang dikatakan Bung Ferry dan Bung Marthen, mengenai aktor2 di universitas dan apa yang seharusnya melawan apa yang sebenarnya diperankan sebagai creative thinkers, replicators, maupun yang lebih mengarah pada birokrasi berbudaya clerical(pencatat?? Apa ya terjemahannya hehehe)… Menarik karena masih berkutat secara internal mengenai apa yang dipikirkan “orang universitas” sebagai peran universitasnya, bukan dari kacamata pihak luar yang mungkin memiliki (mungkin juga tidak!) harapan2 tertentu terhadap peran universitas.
Siapa saja yang sebenarnya dianggap stakeholders bagi universitas di Indonesia? Kembali ke pertanyaan dan harapan Bung Neil soal tanggapan terhadap artikel Schwartz, dari kacamata siapa kita menilai dan memikirkan apa yang seharusnya menjadi peran universitas di Indonesia, minimal UKSW? Kalau memang universitas seharusnya menghasilkan berbagai paradoks…dan katakanlah sudah ada berbagai paradoks baru di UKSW, bagaimana paradoks2 tersebut dikomunikasikan sehingga dapat memberikan warna bagi pihak lain yg membutuhkannya? Misalnya lokakarya Maluku… hasil2 pemaparan selanjutnya akan menjadi apa? Apakah UKSW sendiri memiliki fokus pada bidang kelautan atau minimal masalah sosial seputar masyarakat pesisir?
Mungkin kita bisa memperluas tanggapan dari teman2 lain di milis ini, dan bahwa masukan dari teman2 non-universitas justeru sangat dibutuhkan… Atau?
Pasca Petrarca Karetji memberikan tanggapannya, Theo Litaay kemudian memberikan pendapatnya juga. Berikut ini adalah pendapat Theo Litaay.
Dear All;
Sebagai universitas tentunya dituntut untuk dapat memenuhi kebutuhan masyarakat berupa informasi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Selain itu masyarakat juga mengharapkan ada inovasi-inovasi baru yang menyediakan solusi bagi masalah masyarakat. Informasi jenis lain yang diharapkan tentunya adalah ide-ide inspiratif yang bisa dikembangkan oleh masyarakat sendiri.
Universitas tentunya menyadari bahwa persoalan-persoalan yang dihadapi oleh masyarakat adalah masalah yang sangat kompleks. Oleh karena itu solusi yang satu pihak saja tidak akan bisa menjawab kebutuhan masyarakat di atas. Dengan demikian pendekatan yang interdisipliner merupakan satu kebutuhan tersendiri. Namun demikian, justru disinilah letak masalahnya karena tidak sedikit pengalaman menemukan bahwa kebiasaan bekerja di dalam kotak sendiri masih terjadi.
Soal “kotak” ini ada dua jenis: kotak keilmuan dan kotak kelembagaan. Perlu pendekatan interdisipliner dan antar institusi.
Di UKSW proses interdisciplinary-research sedang terjadi melalui beberapa kegiatan yang sudah berlangsung cukup lama. Khususnya melalui penelitian community-based management of biosecurity. Dalam riset ini biosecurity menjadi suatu persoalan yang merupakan entry-point bagi pembahasan pembangunan yang cukup kompleks. Dengan telah ditandatanganinya kerjasama baru pada tanggal 17 Mei 2010 lalu, maka kegiatan ini masih akan berlanjut sampai dengan tahun 2019, dengan semakin banyak peneliti yang akan dilibatkan.
Kerjasama sekarang berlanjut dengan telah terbentuknya Pacific Institute for Sustainable Development di Sulawesi Utara. Sementara itu pada tahun ini juga akan berlanjut pengembangan program penelitian ini ke Maluku bekerjasama dengan pemerintah provinsi. Pada bulan Agustus 2010 nanti akan dilaksanakan satu seminar internasional juga di Ambon.
Arahnya kemana? kalau menurut pemerintah masalah terbesar sekarang ini adalah ketahanan pangan. Saat tulisan ini ditulis, saya sedang mendengarkan presentasi Wakil Menteri Pertanian RI dalam Seminar Biosecurity dan Food Security di Manado. Challenge Indonesia memang sangat besar. Tekanan demografis dan alih fungsi lahan menyebabkan berkurangnya lahan pertanian. Dalam kaitan dengan itu perlu dijawab dengan intensifikasi dalam rangka meningkatkan produktifitas pertanian.
Yang saya khawatirkan, persoalan food security ini kemudian dijawab pemerintah melalui pembukaan food estate project di Merauke. Penduduk Merauke hanya 148 ribu orang, sedangkan jika food estate dibuka di sana (1,6 juta hektar) maka dibutuhkan pekerja 1,2 juta orang. Ini bisa menyebabkan terjadinya apa yang disebut Dr Ferry Karwur sebagai genetic displacement atau ethnic displacement, sehingga dari sudut antropologis bisa menjadi tragedi. Itulah sebabnya sekarang dalam penelitian yang dilaksanakan kami juga memberikan perhatian ke wilayah ini, termasuk mengeksposenya secara internasional. Jadi bukan research for the sake of research tetapi juga ada unsur advokasinya.
Demikian dulu catatan saya semoga memperkaya diskusi kita.
salam,
TL
Diskusi semakin menarik ketika pencetus ide seminar online, Neil Rupidara, kembali memberikan tanggapan yang panjang yang diberi judul Universitas: Agen Penjaga Kebijaksanaan, Agen Pembaruan. File tersebut bisa diunduh pada tautan berikut ini |Universitas Garda Kebijaksanaan Agen Pembaruan|
Universitas: Agen Penjaga Kebijaksanaan, Agen Pembaruan
Rekan-rekan PSKTI yang saya hormati,
Ini online seminar kita pertama dalam komunitas ilmiah ini. Kita sudah sering berdiskusi akan banyak hal, berdasarkan bahan atau stimulasi gagasan yang diposting oleh satu di antara kita. Gagasan online seminar ini sendiri saya tidak tahu bermula bagaimana, namun tiba-tiba muncul dalam keputusan salah satu rapat PSKTI beberapa waktu lalu. Tanpa menyoal jawab latar belakangnya, saya kira gagasan ini perlu disambut. Karena itu, ketika berkesempatan ada di Salatiga awal April lalu dan diminta oleh pak Ketua Pusat, De Heer Mangimbulude, saya dengan senang hati menerima tantangan tugas untuk memulai forum berharga ini.
Bahan diskusi kita, hakekat universitas atau pendidikan tinggi, bagi saya bahan sulit. Mungkin tidak semua kita member perhatian pada isu ini, sekalipun kehidupan kebanyakan kita bersentuhan sangat erat atau merupakan bagian dari kehidupan institusi ini. Saya mulai menggunakan istilah institusi di sini, bukan untuk menyebut sesuatu badan kelembagaan, seperti UKSW, PSKTI, tetapi satu entitas ide, norma, aturan yang telah sedemikian rupa dibentuk, berkembang hingga sedemikan tertata dan akhirnya kembali mengatur, membimbing, membatasi gerak kehidupan warganya. Saya bicara institusi universitas atau pendidikan tinggi dalam satu tataran abstrak yang batas-batasnya melampaui batas badan kelembagaan, bahkan sebagai ide, dia bisa melampaui banyak sekali batas-batas fisik, misalnya tempat dan waktu. Kita harus memahami bahwa universitas adalah sebuah gagasan dan kemudian menjadi model institusional yang sudah sedemikian kompleks, banyak sekali varian-nya. Itulah salah satu alasan saya menyebutnya bahan yang sulit dibicarakan, karena barangkali jangkau kognitif kita adalah model universitas di sekitar kita semata atau merujuk pada sejumlah literature terbatas. Padahal, gagasan dan model tentang universitas sudah berusia ber-abad-abad dan datang dari ragam konteks lokasional, sosio-kultural, legal, dan sebagainya. Namun, sebagai sebuah institusi, universitas sudah diikat oleh gagasan-gagasan dasarnya, yang kita juga perlu selami secara lebih baik. Untuk apa? Gampangnya, agar universitas tidak dilihat sebagai sebuah lembaga riset komersial misalnya, atau sebuah lembaga kursus ketrampilan, atau sekedar perpanjangan tangan proyek pemerintah, atau sekalipun sesame institusi pendidikan, universitas juga tidak jatuh sama dengan lembaga sekolah dasar atau menengah, atau universitas sebagai lembaga profesi, tempat para intelektual berkumpul dan bekerja, juga masih bisa membedakan dirinya dari lembaga profesi lainya. Taruhlah misalnya, kawan-kawan FE yang mau berkiprah di ranah konsultasi bisnis, mereka tidak jatuh sama dengan masyarakat profesi konsultan bisnis. Demikian juga kawan-kawan FE, mereka tidak sekedar komunitas lawyer. Warga universitas tetap memiliki identitasnya sebagai intelektual, akademisi, yang dibimbing oleh misi dan nilai-nilai universitas sebagai induknya. Meminjam istilah om Ferry belakangan, grounding gagasan seminar ini, maka upaya grounding gagasan tentang universitas ini tentu bukan pekerjaan mudah, ketika konsepsi kita tentang universitas sudah disituasikan pada konteks kehidupan universitas di zaman kita, di tempat kita, kini dan di sini. Ada persoalan aspirasi identitas universitas di sana. Ketegangan bisa muncul karena referensi-referensi berbeda soal “siapa yang kita maksud dengan si universitas ini?”
Namun, karena sebuah forum bertukar pikiran, apalagi di antara para intelektual, saya kira semua kesulitan berolah gagasan itu pada akhirnya mempunyai tempat untuk klarifikasi, pendalaman, dan barangkali stimulasi pengembagan wacana konseptual kita tentang universitas, karena keragaman grounds kita dalam memahami universitas sebagai sebuah entitas historis ini.
Untuk memfasilitasi diskusi ini lebih jauh, saya memaparkan dulu beberapa pemikiran sebagai stimulan diskusi.
Ide dasar beruniversitas
Baiklah saya mengajak memulai diskusi ini dengan merujuk dulu pada pemikiran tentang hakekat beruniversitas. Mungkin ada yang akan menyoal, untuk apa lagi toh kita sudah tahu, paling tidak secara normative kita semua tahu apa itu universitas. Betul, namun saya kira komitmen atas hakekat beruniversitas perlu dikuatkan secara kontinu. Saya mengatakan begitu karena justru di universitas-universitas top para pemimpinnya tidak jemu-jemu berbicara tentang komitmen mereka ada gagasan dasar universitas. Justru di universitas-universitas kita yang seolah tidak jelas mau ke dikemanakan universitas ini bergerak orang merasa sudah tidak perlu lagi membicarakan hal-hal mendasar itu. Namun, kita di UKSW harus mengingat tidak jemunya pak Noto berpidato di seputar hal ini. Pak Willi pun sering berolah gagasan ini dan membagikannya, paling tidak bagi kita ketika menjadi mahasiswa di zaman itu.
Seperti dikatakan di atas, gagasan tentang universitas sudah mengalami perkembangan sedemikian rupa dari waktu ke waktu. Misalnya di zaman Ancient Greek kita punya Plato dengan model academia dan Aristoteles dengan mode Lyceum-nya, atau Cicero yang mulai menggunakan istilah uniuersitas untuk pertama kali (Bazan, 1998). Catatan, sebelum itu “pendidikan tinggi” sangat terkait dengan regenerasi dalam komunitas religius. Lalu melompat ke abad 11-12, kita punya Abelard (Univ. Paris) serta Irnerius dan Pepo (Univ. Bologna) yang memberi fondasi pada model excellent teaching university, di mana teristimewa merujuk model pengajaran Abelard, dosen-dosen adalah figur orator yang ulung. Lalu belakangan di abad 19, kita punya von Humbolt (Univ. Berlin) dengan gagasan universitas riset-nya. Pasca Humbolt, riset mulai mengambil posisi sentral dalam aktivitas universitas, dengan intensi terciptanya keselarasan antara pengajaran dan penelitian. Namun, yang justru terjadi adalah ketegangan antara keduanya, pengajaran di universitas-universitas riset tidak sedikit yang terkorbankan. Banyak pihak mungkin yang mencoba “merujukkan” kembali keduanya, namun rekonseptualisasi makna scholarship dalam kehidupan universitas yang dilakukan oleh Boyer (1992) menjadi pijakan penting bagi misalnya universitas-universitas riset di Amerika untuk membangun research –teaching nexus yang lebih baik. Tentu masih banyak nama lagi yang seharusnya bisa kita rujuk untuk memurnakan pemetaan atas proses transformasi gagasan beruniversitas dari awal mula hingga hari ini, yang harus dipandang sebagai terjadinya proses penyempurnaan dari waktu ke waktu, dan merespon perubahan-perubahan signifikan pada lingkungan sekitar universitas.
Terlepas dari semua itu, saya kira kita harus memegang beberapa gagasan dasar tentang universitas. Bazan (1998, p. 7) mencatat, “From their birth, the universities relied on a tradition of excellence, and the game has not changed since then.” Superioritas ilmiah adalah orientasi utama sehingga ada di antara para pemikir gagasan beruniversitas yang memandang bahwa olah pengetahuan adalah tujuan utama. Misalnya Meyerson and Massy (1995) mengatakan bahwa the fundamental roles of university are creating, preserving, integrating, transmitting, and applying knowledge.
Fokus semata kepada olah pengetahuan ini bisa berpotensi masalah ketika universitas menutup diri dari kondisi lingkungan sekitarnya, tidak peduli terhadap kebutuhan masyarakat, walau sejarah menunjukkan bahwa kemajuan olah pengetahuan dalam universitas terjadi secara signifikan justru ketika dia berinteraksi dengan fenomena-fenomena eksternal. Jadi, saya memandang bahwa universitas pasti akan menghadapi tekanan signifikan ketika terlalu berfokus pada dirinya sendiri. Namun, pada saat yang sama, sesuai gagasan dasar universitas untuk berolah ilmu secara excellent, saya juga memandang bahwa kontribusi universitas ke luar hanya akan signifikan bila fokus pada olah ilmu diletakkan pada ambisi mengejar academic excellence.
Academic excellence hanya akan bisa dicapai lewat aktivitas pencarian kebenaran “tertinggi” dan karena itu riset adalah kendaraan utama mencapai kebenaran ilmiah tertinggi itu, pengajaran adalah moda delivery-nya bagi pembentukan generasi intelektual baru, dan pengabdian adalah moda delivery bagi kemaslahatan publik yang lain, sekalipun melalui lulusan-lulusannya universitas juga mendifusikan pengetahuan masuk secara tidak langsung ke dalam masyarakat. Terlepas dari mekanisme self-reinforcing dari ketiga sisi ilmiah universitas itu (pak Willi seringa menyebutnya segitiga ilmiah yang bermakna), saya menekankan riset sebagai motornya. Tanpa itu, universitas mungkin hanya menjadi retailer pengetahuan.
Universitas karenanya adalah penjaga kebijaksanaan publik. Ukuran-ukuran kualitas pengetahuan dan etika ada padanya, ditetapkan dan disempurnakan secara kontinu, melalui interaksi keilmuan dalam komunitas-komunitas intelektualnya yang memang kerjaannya berolah ilmu.
Universitas dan kontribusinya bagi perubahan masyarakat
Argumen utama dalam tulisan seperti Schwartz adalah universitas harus terus memainkan peran sentral dalam perubahan masyarakat. Saya kira ini juga argumen utama yang melandasi pendirian dan perkembangan UKSW.
Namun, persoalannya adalah bahwa realitas tidak selalu menunjukkan demikian. Dan, saya menduga itu terutama sangat terkait dengan komitmen universitas pada tradisi ilmiahnya. Maksud saya, ketika universitas hanya melihat tugasnya secara pragmatik adalah mendidik suatu kumpulan orang untuk mengisi kebutuhan lapangan pekerjaan dalam masyarakat, dengan fakta bahwa bundel pengetahuan ilmiah sudah tersedia luas, maka yang akan terjadi hanyalah adopsi pengetahuan yang sudah established, lalu tranfer kepada mahasiswa sebagai target groupnya, lalu menilai apakan mahasiswa sudah siap untuk dilepas ke masyarakat berdasarkan kualitas penguasaan ilmunya. Ini saya kira wajah dominan kita. Atau, kalaupun services bagi masyarakat menjadi sebagian dari aktivitas ilmiah dalam universitas, maka model adopsi dan transfer established knowledge-lah yang mengalami perluasan. Tidak ada inovasi dalam olah pengetahuan oleh universitas dan tidak ada pula inovasi signifikan dalam kontribusi universitas pada kemajuan masyarakat. Kemajuan masyarakat hanya akan ditentukan oleh dinamika adopsi pengetahuan (teori atau model standar) eksternal, pencernaan cepat oleh komunitas intelektual dalam universitas, dan “muntahan” ke luar kepada yang membutuhkannya. Proses ini hampir tanpa refleksi kritis pada konteks setempat. Ruang dialektika ilmiah antara pengetahuan mapan dari luar dengan kenyataan lokal hampir tidak ada. Ini satu persoalan bagi peran universitas dan kualitas kontribusinya bagi kemajuan masyarakat.
Persoalan lain mungkin sebaliknya, universitas lemah dalam sisi abstraksi teoretik atau konseptualnya, termasuk berdialog dengan bangunan pengetahuan yang sudah ada, karena terlalu dalam melokalisir aktivitas ilmiahnya melalui interaksi-interaksi di aras “teknis” pada persoalan-persoalan dalam masyarakat. Model kasarnya ya universitas cuma proyekan doang. Dugaan saya yang mungkin terjadi dalam konteks ini adalah juga replikasi model di atas, tetapi berdasarkan pengetahuan lokal yang dibangun. Jadi solusinya, lokal untuk lokal, dari satu konteks ke konteks lain. Universitas lupa bahwa di sekelilingnya telah tersedia peta pengetahuan yang kepadanya pengetahuah lokal yang dibangunnya bisa didialogkan untuk mengatasi kesenjangan-kesenjangan baik pada aras teoritis maupun operasional dari model pengetahuan lokalnya. Extending the academic field of the university, itu mungkin hal yang harusnya dilakukan.
Hal-hal ini menunjukkan lemahnya universitas berefleksi ilmiah secara terbuka dan kritis. Jika itu adalah wajah kita, maka bagaimana kita mau berbicara universitas sebagai engine kemajuan masyarakat? Tanpa repositioning yang tepat, saya kira peran universitas yang sebetulnya strategik akan tergantikan oleh lembaga-lembaga lainnya. Dan, karenanya “lirikan mata” politisi pada universitas pun akan makin kurang.
Kembali ke bagaimana universitas berkontribusi bagi kemajuan masyarakat, mari kita lihat data berikut. Top universities dan medical centres di AS menghabiskan 24.4 miliar dolar per tahun (data 1997) untuk aktivitas riset dan pengembangan. Dari situ, mereka menghasilkan 11.784 penemuan baru serta 3.224 paten (1998). Jadi ada sekitar 200 teknologi baru dihasilkan setiap minggu. Hasil seperti itu dimungkinkan karena topangan dana hibah riset dari pemerintah AS sekitar 12 juta dolar per tahun (1999) (Gross, Reischl, dan Abercrombie, 2000). Nah, ini kita baru bicara temuan-temuan “keras”. Kita belum bicara temuan-temuan “lunak” yang terdistribusi lewat interaksi social di dalam dan luar kampus melalui warga universitas yang mendeliver hasil-hasil olah pengetahuannya.
Bagaimana kita melihat dan memerbandingkan itu dalam kenyataan kita? Sederhananya, seberapa besar komitmen usaha universitas, baik itu waktu, tenaga dan pikiran para intelektualnya, serta dukungan physical resources yang memadai, untuk produksi pengetahuan baru kembali ke dalam masyarakat?
Masalah governansi universitas
Dalam pancingan diskusi yang saya lontarkan pertama kali, kemudian di sambut pertanyaan-pertanyaan lanjut oleh bung Petra, implisit di dalamnya adalah berbagai keruwetan dalam tata kelola aktivitas ilmiah dan pendukungnya di dalam universitas. Bung Theo juga mengajukan pendapat soal pentingnya penataan sistem beruniversitas. Om Ferry menyoal isu kepemimpinan dan bersama bung Ten menyoal pula human resources dan implisit di dalamnya soal organisational culture atau climate dalam universitas. Saya kira kita semua punya concern yang sama yang perlu kita diskusikan lebih jauh dalam soal-soal ini, bagaimana tata kelola universitas memungkinkan aktivitas-aktivitas ilmiahnya menghasilkan inovasi gagasan ilmiah dan praktis yang berkelanjutan dan terdeliver secara kontinu ke target groups yang membutuhkannya. Di sinilah titik kita bisa menjawab atau membuktikan bahwa universitas benar merupakan engine kemajuan: dia memroduksi pengetahuan, mendelivernya, dan mendorong terjadinya perubahan-perubahan dalam masyarakat.
Satu hal menarik tentang kepemimpinan universitas, ide dari sebuah buku berjudul Socrates in the boardroom adalah gagasan bahwa pemimpin tertinggi dalam universitas haruslah seorang akademisi terbaik yang tahu secara sungguh apa challenges dan targets menjadi sebuah universitas universitas terbaik. “If an organisation is playing at the highest level,” says Amanda Goodall, “it needs to be led by someone who understands the business at the highest level.” Ini menarik juga untuk didiskusikan, terutama dikaitkan dengan problematika membangun manajemen universitas yang professional.
Terkait dengan soal isu governansi, saya hendak merespon lontaran pertanyaan bung Petra yang meminta tanggapan kawan-kawan seputar aktivitas ilmiah barusan ini di kampus UKSW, terkait pengelolaan pembangunan masyarakat berkarakter kepulauan, misalnya Maluku. Nah, tanggapan saya adalah dengan mengaitkannya pada diskusi kita 2 tahun lalu soal intellectual capital dan bagian yang saya biarkan kosong dari paper saya adalah tentang resource-based strategy dari sebuah organisasi. Jika kita melihat model-model modal intelektual, termasuk yang bung Petra kembangkan untuk diaplikasikan di proyek Revitalisasi Sektor Pengetahuan Indonesia, kita akan tap di atas kapabilitas-kapabilitas organisasi dan jejaringnya, untuk mendorong suatu outcomes yang lebih signifikan. Nah, di situ yang perlu diadakan dan dikembangkan adalah kapabilitas organisasi, termasuk di dalamnya kompetensi sumber daya manusianya. Ini membutuhkan cara yang tepat untuk men-jangkar-kan kompetensi pada wilayah-wilayah keahlian spesifik tertentu, walau kapitalisasinya bisa melintasi batas-batas sektoral, misalnya. Problema kita dengan resource-based strategy kita ya tidak ada strategi, sumber daya dosen di universitas dan para pemimpin di universitas tidak berpikir soal pemosisian kompetensi untuk mendeliver keahlian spesifik dalam menjawab kebutuhan2, baik internal aktivitas ilmiah dalam universitas, maupun eksternal dalam masalah-masalah masyarakat. Karena tidak diposisikan untuk itu, lalu kita ini tergoda untuk mampu merespon semua masalah, celakanya dengan kemampuan yang terbatas. Kalau saja kemudian terjadi shifting kompetensi sehingga dibangun satu pool kompetensi baru, itu baik. Tetapi kalau strateginya hit and run, saya kira kita mengabaikan tradisi ekselensi yang menjadi ciri utama universitas sejak mula berdiri.
Nah, ini mungkin menarik untuk kita diskusikan, juga terkait dengan aspects lain dari governansi universitas, karena di satu sisi tantangan yang datang dari dalam masyarakat itu terlalu banyak, sebaliknya kemampuan dalam universitas itu terbatas. Bagaimana kita menatakelolai interaksi yang terkondisi seperti itu? Jawabannya bisa diduga adalah soal pilihan-pilihan kita, tapi choices yang bagaimana? Apa mekanisme2 utama dalam institusi universitas yang harus segera dibangun (misalnya di UKSW) untuk menjadi fondasi gerak berkelanjutan dari universitas?
Undangan lanjut untuk diskusi
Saya mungkin belum tuntas membangun poin-poin diskusi kita ini, seperti diminta kak Ferry. Namun, sebagai sebuah “awal” (bukan awal karena diskusi sudah sedang berjalan), ya baiklah ini dulu. Saya hanya mencoba mengajak kita melihat kembali pada ide dasar beruniversitas, mencoba melihat persoalan-persoalan dalam governansi universitas, untuk bisa menjawab tuntutan utama universitas, sebagaimana yang juga UKSW cita-cita, menjadi garba ilmiah, radar dan motor perubahan dalam masyrakat. Saya yakin banyak isu akan berkembang kemudian.
OK, mari kita lanjutkan diskusi kita.
Bersambung dengan tanggapan-tanggapan selanjutnya
Scientia est lux lucis



[...] by Winarto Scientia est lux [...]