Email–electronic mail, istilah yang sudah tidak lagi asing, terkecuali untuk yang belum mengenal internet. Kehadiran internet memang telah menggusur banyak pekerjaan dan aktivitas, termasuk dalam berkirim surat atau berita. Jika dahulu perlu menulis surat di kertas, melipat dan memasukkan ke amplop, menuju ke kantor pos dan kemudian menempelkan perangko, ditambah harus menunggu sekian hari untuk sampai di tempat tujuan; dengan teknologi internet, aktivitas-aktivitas itu terpangkas dengan memanfaatkan email.
Ibarat kartu identitas, internet menjadi tanda pengenal agar seseorang nyaman mengembara dan bergaul di dunia maya. Mengapa demikian? Selain memermudah komunikasi dengan sesama pengguna internet, email banyak dibutuhkan untuk masuk pada situs-situs yang ada di dunia maya; seperti pada jejaring sosial, blogging, jual beli online dan sebagainya. Sedemikian penting faedah dan manfaat email sehingga setiap pengguna internet diminta untuk memiliki email.
Ada banyak situs penyedia layanan email secara gratis (free); seperti Yahoo, Google, Hotmail dan sebagainya; atau email yang berbayar, biasanya dipakai untuk berbisnis dengan menggunakan @domainnamaorganisasi, meskipun ada juga yang menggunakan @domainnamaorganisasi tetapi tidak berbayar. Ada banyak jenisnya. Tinggal memilih layanan yang sudah tersedia.
Pemilihan nama email tidak bisa disepelekan. Nama user sebelum @ pada sebuah alamat email perlu dipikirkan sebelum mendaftar. Tidak perlu bingung. Saya sering menyarankan untuk menggunakan nama sebagai ID karena mudah diingat, terlihat elegan dan meminimalkan kesalahan penulisan. Saya sering melihat dan menjumpai alamat email yang sulit diingat (meskipun bisa disimpan di alamat kontak). Alamat-alamat email yang saya sebut dengan email ala ABG, seperti funk_sing_song@blabla.com atau happy_girls@blablabla.com. Tidak ada salahnya menggunakan alamat email yang seperti itu, juga tergantung tujuannya, namun terlihat elegan jika menggunakan nama pribadi, terlebih ketika mengirim email untuk bisnis; untuk mengirim lamaran pekerjaan misalnya.
Kendalanya adalah nama yang hendak didaftarkan sudah terpakai. Hal itu bisa diakali dengan menambahkan karakter tertentu yang khas, misal dot (titik) dan underscore (garis bawah), atau kombinasinya. Yang penting masih mengandung nama pemilik akun email. Seperti email milik saya. Karena ID Winarto sudah terpakai, saya menambahi karakter dot dan zip (cerita dibalik itu tidak dikupas di sini). Pada mulanya saya menggunakan email ala ABG juga kok. Setelah memperoleh pengalaman dari banyak orang, saya mengganti dengan alamat email. Perlahan-lama, aku email ala ABG itu saya tinggalkan.
Dengan kehadiran email telah mengganti sistem surat menyurat. Tanpa perlu kertas, amplop dan perangko, email lebih efisien dan lebih cepat. Yang dibutuhkan hanyalah komputer yang terkoneksi internet. Surat lamaran yang dahulu menggunakan kertas juga telah tergusur dengan adanya email. Go paperless. Seberapa dampak kehadiran email terhadap bisnis surat-menyurat mungkin menarik untuk dikaji dan diteliti.
Ngomong-ngomong paperless dan dampak email pada surat udara, saya jadi membayangkan bagaimana bimbingan skripsi/TA dengan memanfaatkan email. Jadi tidak perlu setiap kali bimbingan ngeprint bahan bimbingan. Saya pernah mengalami sendiri, juga melihat teman-teman yang menghabiskan sekian ratus lembar kertas untuk menyelesaikan skripsi dari awal sampai dengan selesai.
Apakah mungkin memanfaatkan email untuk bimbingan skripsi? Sangat mungkin saja. Mahasiswa melampirkan file skripsi yang akan dibimbingkan melalui email dan kemudian dosen pembimbing mengevaluasi langsung pada file itu. Corat-coret dan komentar bisa dilakukan pada file langsung dan kemudian mendiskusikannya pada saat tatap muka. Bisa juga tidak membutuhkan tatap muka dosen pembimbing dan mahasiswa. Saya kira itu juga bisa diterapkan pada penugasan-penugasan.
Tapi saya yakin masih ada kendala. Belum semua pengajar yang memanfaatkan email dan internet dalam pembelajaran. Sistem konvensional masih diterapkan, entah karena tidak/belum menguasai teknologi tersebut atau karena belum terbiasa mengoreksi tugas/skripsi tanpa printout di kertas karena tidak merasa puas jika tidak coret-coret/berkomentar di kertas. Sebagai sebuah sesuatu hal yang baru, tidak ada salahnya dicoba. Kalau sudah dicoba, ditelateni, pasti akan terbiasa. Mungkin ada faktor-faktor lain?
Bagaimanapun, internet dan email telah merevolusi aktivitas-aktivitas manusia. Jika email dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar, bimbingan skripsi/tugas-tugas, berapa kertas, tinta dan rupiah yang bisa dihemat? Please, think it.
Scientia est lux lucis









[...] Kesalahan kecil pada penulisan nama dapat berdampak sepolo. Ketika memposting tulisan berjudul Email, saya mengungkapkan betapa pentingnya sebuah nama email sebagai sebuah identitas di dunia maya. Ada [...]
[...] This post was mentioned on Twitter by Winarto. Winarto said: hari gini ndak punya email http://bit.ly/b7Z2QQ #fb [...]
haha. setelah kucoba mengingat kembali, email pertamaku bukan email tipe ABG seperti yg sampeyan kemukakan.wah,lega rasanya…
eh bro. sebenernya bagus kalau email tu [nama-depan]@[nama-belakang].[com/net/org/etc]
wah jadi inget dulu masih pake email ABG (pake ID devil segala lah) ahahaha… sekarang ganti jadi anggara plus tahun lahir, karena ID sudah ada yang make…:)
http://anggaramahendra.blogspot.com/