Rentangan Tangan Di Jumat Agung
Agenda Jumat pagi adalah mengikuti ibadah Jumat Agung di GBI ROCK Denpasar. Berdasarkan pengumuman dan invitation di Facebook, ibadah dilaksanakan pukul 10.00 WITA, namun saya berencana berangkat dari rumah jam 09.00 WITA karena takut tidak dapat kursi. Pertimbangannya, pada ibadah raya tiap hari Minggu, GBI ROCK ada 3 kali ibadah, namun untuk ibadah Jumat Agung ini, hanya ada 2 kebaktian saja. Jadi sangat mungkin kalau akan sangat ramai dan kehabisan kursi jika datang mepet jam 10 atau malahan terlambat.
Begitu bangun dan hendak mandi, saya membaca artikel yang menarik dan kemudian saya upload di blog ini. Sebuah artikel yang ditulis oleh Rev Nicholas Papadopulos berjudul “The lure of last words“, yang bercerita mengenai perkataan-perkataan sebelum kematian Yesus di atas kayu salib. Membaca tulisan tersebut saya jadi teringat dengan “The Passion of The Christ“, sebuah film yang dirilis tahun 2004 dan digarap oleh Mel Gibson.
Setelah selesai, saya pun bergegas mandi dan bersiap meluncur ke Nangka Utara, lokasi GBI ROCK. Ternyata memang benar. Saya tiba di sana jam 09.30 WITA, dan parkir sepeda motor sudah mulai penuh. Jemaat pun sudah banyak berdatangan dengan berkostum hitam-hitam. Saya duga di dalam hall pun sudah mulai penuh. Bergegas saya memarkir motor dan berjalan ke Menorah Hall. Di pintu sudah berdiri beberapa orang penerima tamu. Dari luar ruangan, kursi-kursi di Menorah Hall sudah banyak terisi. Gelap, dan hanya menyisakan lampu di panggung. Band pengiring pujian sudah memainkan alat musiknya. Sambil menunggu ibadah dimulai jam 10.00 WITA, beberapa lagu dinyanyikan secara bergantian oleh beberapa penyanyi.
Dan akhirnya ibadah pun dimulai, mulai dari doa pembukaan, puji-pujian penyembahan hingga penyampaian firman. Ronny Daud Simeon menyampaikan firman dengan santai diselingi dengan menyanyikan sepenggal lagu yang sesuai dengan topik yang sedang dibicarakan. Dengan gaya penyampian tersebut, tidak terasa jam hampir mendekati jam 12.00 WITA. Khotbah pun selesai dan akan dilanjutkan dengan perjamuan suci.
Dalam doa penutup khotbahnya, Ronny Daud Simeon mengajak untuk merefleksi pengorbanan Yesus di kayu salib. Dia menyuruh setiap jemaat yang hadir siang itu untuk merentangkan kedua tangan. Lurus. Coba menahan hingga betul-betul tidak kuat. Tidak boleh diturunkan. Bagian Multimedia GBI ROCK memutar film “The Passion of The Christ“, adegan-adegan penyiksaan Yesus hingga tergantung di kayu salib. Cawan itu harus diminum oleh Yesus untuk menebus dosa umat manusia. Meskipun didera dan disiksa dari malam, keesokan harinya hingga mati tergantung di kayu salib, Yesus tetap melaluinya.
Pada point itulah, Ronny Daud Simeon mengajak untuk merasakan penderitaan Yesus di kayu salib, dengan hanya merentangkan tangan, bak di atas kayu salib. Meskipun terlihat sepele, merentangkan tangan terasa sangat berat. Hanya sekitar 10-15 menit, berusaha untuk menjaga agar tangan tetap lurus terentang. Saya mencoba melakukannya, namun lama-lama pun berat, turun sedikit demi sedikit dan harus meluruskannya lagi. Saya melihat ke sekeliling, dan ternyata banyak jemaat yang sudah merasa tidak kuat dan menurunkan tangan mereka. Ada pula yang menangis; mungkin meresapi refleksi Jumat Agung atau tidak tahan dengan film The Passion of The Christ yang diputar, atau kombinasi keduanya.
Setelah doa dipanjatkan, roti dan anggur pun dibagikan oleh para usher. Akibat jumlah jemaat yang sangat banyak, terjadi hal yang baru pertama saya lihat selama ini. Perjamuan suci namun kehabisan roti dan anggur. Hampir mirip dengan cerita di Alkitab ketika Perjamuan di Kana, Yesus membuat mujizat dengan mengubah air jadi anggur. Mungkin juga mirip dengan cerita Yesus memberi. makan 5000 laki-laki (belum termasuk perempuan dan anak-anak) dengan mukjizat lima roti dan dua ikan, hingga menyisakan 12 bakul penuh. Bedanya, ada pada tindakan yang dilakukan untuk mengatasi kekurangan roti dan anggur itu. Suami istri yang telah memperoleh roti dan anggur, disarankan untuk secuil dan secawan berdua, untuk diberikan kepada jemaat yang belum menerima. TUHAN senantiasa memberkati.







