180 Menit Untuk Barca vs Inter

Inter Milan vs Barcelona

Pertandingan semifinal antara Barcelona vs Inter Milan mencapai klimaks beberapa jam yang lalu. Meskipun unggul 1-0 (Lihat Kompas, Sepuluh Pemain Inter Singkirkan Barca, 29 April 2010), Barcelona harus mengubur mimpi untuk melenggang ke babak final Liga Champion Eropa musim 2009/2010. Keberhasilan Inter Milan melaju ke babak final berkat keunggulan aggregat 3-2 setelah pada first leg di San Siro, Inter Milan menang 3-1. Kegagalan Barcelona ini bertolak belakang dengan musim lalu ketika Barcelona berhasil menjadi juara di ajang Liga Champion Eropa. Bagi Inter Milan, sukses menembus babak final adalah sebuah sejarah sebab klub sepakbola dari Kota Milan tersebut terakhir kali melangkah ke final Liga Champions pada tahun 1972, atau telah menanti 38 tahun lamanya, ketika kompetisi masih bernama European League.

Menyaksikan pertandingan second leg Barcelona vs Inter Milan meninggalkan sejumlah catatan-catatan penting. Ketertinggalan Barcelona di kandang Inter Milan, mendesak Barcelona harus terus menyerang pertahanan tim lawan. Sebaliknya, tim tamu Inter Milan harus bertahan ekstra ketat, hanya sesekali menyerang namun dengan mudah dipatahkan. Apalagi setelah Thiago Motta terkena dua kartu kuning yang menyebabkan Inter Milan harus bermain dengan 10 orang pemain, Inter Milan memainkan anti-football dan bertahan total.

Inter Milan terus ditekan Barcelona. Tekanan semakin meningkat ketika Gerard Pique mencetak gol ke gawang Julio Cesar. Pertandingan yang menyisakan 6 menit waktu normal setelah gol Pigue, mendesak pemain-pemain asuhan Jose Mourinho bertahan total mengamankan gawang dari serangan Messi dan kawan-kawan. Agregat 3-2 masih untuk keunggulan Inter Milan, membuat Barcelona semakin gencar memborbardir pertahanan Inter Milan sebab mereka membutuhkan satu tambahan gol lagi untuk lolos babak final.

Memasuki menit ke-90, ternyata ada 4 menit additional time. Semakin berdebar-debar. Barcelona meningkatkan serangan, Inter Milan memperketat pertahanan. Namun apa daya, Dewi Keberuntungan lebih memilih Inter Milan.  Kedudukan tetap 1-0. Meskipun kalah, Inter mereka akan menghadapi Bayer Munich yang lebih dahulu memastikan lolos ke babak final Liga Champion Eropa setelah mengandaskan Lyon.

Kritik dan Pujian

Kesuksesan Inter Milan memainkan anti-football dan Barcelona yang memperagakan sepakbola atraktif pada second leg seminal Liga Champion Eropa melawan Barcelona mengundang sejumlah kritikan sekaligus pujian. Bermain di kandang sendiri dan keinginan mengejar ketertinggalan, mendorong pemain-pemain Barcelona terus menekan tim lawan. Sebaliknya, Inter Milan harus terus bertahan hingga peluit akhir.

Komentar bermunculan sesuai pertandingan selesai, paling tidak di Facebook dan Twitter. Meskipun gagal ke final, banyak pujian untuk Barcelona yang terus memperagakan sepakbola menyerang. Sebaliknya, ucapan selamat ke Inter Milan yang lolos ke babak final masih dibumbui dengan kritikan calon juara yang tidak mampu menyerang. Strategi total bertahan dinilai telah “merusak” sepakbola modern yang kudu bermain atraktif dan menyerang, sehingga ada ungkapan pertahanan yang terbaik adalah menyerang. Namun, sah-sah saja setiap klub menerapkan strategi yang dipakai sepanjang tidak melanggar fair play.

Namun perlu diingat, pertandingan second leg dini hari tadi tidak terlepas dari home-away system, yang memberi kesempatan bermain kandang dan tandang atau bermain di lapangan 180 menit. Keberuntungan mungkin berpihak di klub asuhan Jose Mourinho, terutama di first leg ketika bertanding di San Siro Milan. Letusan gunung berapi di Islandia, menyebabkan penerbangan Eropa ditutup minggu lalu. Hal ini memaksa pemain Barcelona harus menempuh perjalanan 985 km melalui jalan darat dari Spanyol ke Italia (Lihat Jawa Pos, 20 April 2010 Tempuh Perjalanan Darat, Barca Bantah Lelah). Jadi bisa dibayangkan, berarti kira-kira menempuh perjalanan dari barat Pulau Jawa ke bagian timur Pulau Jawa.

Kondisi kelelahan fisik pemain Barcelona ini mampu dimanfaatkan oleh Inter Milan untuk mendulang goal di kandang sendiri, sebab mereka yakin bakalan sulit menghadapi Barcelona di laga kedua di Nou Camp. Hasilnya, pada 90 menit pertama, Inter Milan mampu menabung 3 goal sedangkan Barcelona hanya mampu mencetak 1 goal. Tugas berat dipikul tim Barcelona pada 90 menit kedua karena mereka harus menang dikandang sendiri minimal menang 2-0.

Bagaimanapun, sepakbola butuh strategi. Keunggulan Inter Milan dan ketertinggalan Barcelona di 90 menit pertama  berimbas pada strategi kedua tim di 90 menit kedua, baik sebelum dan selama jalannya pertandingan. Pep Guardiola, Pelatih Barcelona, sangat menyayangkan kartu merah untuk  Thiago Motta karena membuat semua pemain lawan memasang strategi bertahan total dan sangat sedikit celah untuk diterobos anak asuhnya (Lihat Kompas, 29 April 2010, Guardiola: Barca Kalah karena Kartu Merah).

Semi final tentu berbeda dengan babak final. Strategi total bertahan Inter Milan yang diterapkan lawan Barcelona tentu tidak akan dipakai ketika menghadapi Bayern Munich di babak final bulan depan sebab mereka hanya memainkan 90 menit waktu normal, tidak lagi menggunakan home-away system. Jadi bisa diprediksikan, babak final kedua tim akan saling bergantian menyerang karena juara akan ditentukan di Santiago Barnebau.

Selamat untuk Inter Milan yang melenggang kangkung ke babak final UEFA Champions League, dan selamat untuk Barcelona yang telah memperagakan sepak bola menyerang. Tetap jaga sportivitas dan salam olahraga!!!!