Nyepi Dalam Pengalaman: Pecalang Dunia Maya
Nyepi tahun ini adalah pengalaman kedua selama berada di Bali. Dia bukan lagi hanya sekedar cerita-cerita dari pihak ketiga atau pihak kedua, bukan pula dari susunan kalimat-kalimat dalam sebuah buku atau tulisan. Dengan mata kepala sendiri melihat bagaimana betul-betul sepi di kala Nyepi, karena musti melakukan catur berata penyepian yang terdiri dari amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan). Nyepi merupakan perayaan Tahun Baru Hindu berdasarkan penanggalan kalender Saka. Tahun ini ialah tahun baru Saka 1932.
Ada rangkaian upacara/kegiatan yang dilakukan umat Hindu sebelum dan sesudah Nyepi. Saya pribadi tidak begitu paham dengan upacara-upacara tersebut. Namun, paling tidak selama berada di Bali dan mengikuti berita dan melihat prosesi upacara menjelang Nyepi, saya jadi familiar dengan Melasti, Pangrupukan dan Ngembak Geni.
Jangan sampai lupa dengan patung ogoh-ogoh. Di malam Pangrupukan, patung ogoh-ogoh yang secara filosofis merupakan perwujudan Buta Kala diarak berkeliling dan kemudian dibakar. Tujuannya sama yaitu mengusir Buta Kala dari lingkungan sekitar.
Tapi, melihat ogoh-ogoh saat ini, sepertinya ada pergeseran makna jika dibandingkan dengan filosofinya di atas. Ogoh-ogoh cenderung menjadi ajang unjuk kreatifitas dan seni. Hal tersebut terlihat dari beragam jenis model dan bentuk ogoh-ogoh yang dibuat, tidak hanya berbentuk buta yang seringkali menakutkan, namun juga mengadaptasi model macam Upin dan Ipin.
Beragam bentuk ogoh-ogoh bisa dilihat dari lomba ogoh-ogoh yang dilaksanakan menjelang Nyepi beberapa waktu yang lalu. Disamping itu, masih banyak bentuk yang dipajang di pinggir-pinggir jalan oleh penduduk setempat yang disiapkan untuk menyambut malam pangrupukan dan Nyepi. Saya sempat mengambil beberapa foto ogoh-ogoh pada Senin siang dan mengamati keramaian manusia di malam pangrupukan.
Memang pada saat malam Pangrupukan jalan-jalan di Denpasar dan sekitarnya sangat ramai, bersiap-siap untuk mengarak ogoh-ogoh. Asyik melihat orang berarak-arakan mengusung ogoh-ogoh sambil diiringi gamelan Bali. Di pinggir jalan, ada beberapa ogoh-ogoh yang sudah rusak sebelum dibakar.
Ada ogoh-ogoh yang dibakar, namun tidak sedikit pula yang tidak. Sehari setelah Nyepi, saya juga berkeliling sekedar untuk cuci mata. Masih banyak ogoh-ogoh yang dipajang di pinggir-pinggir jalan dan tidak dibakar. Barangkali sayang dengan ogoh-ogoh tersebut karena untuk membuatnya dibutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit. Mungkin.
Bagaimana ketika hari Nyepi hari Selasa yang lalu? Karena harus menghormati umat yang sedang bercatur berata, praktis hanya berada di dalam kamar. Bangun tidur yang biasanya mendengar suara motor dan mobil yang lewat serta suara-suara manusia, pagi itu sama sekali tidak ada. Hanya suara ayam berkokok dan suara dedaunan yang tertiup angin.
Pada Nyepi tahun 2009, saya sudah berada di Bali. Meskipun Nyepi dan “terkurung” di kamar, namun masih ada siaran televisi yang menjadi salah satu hiburan. Namun, Nyepi tahun kali ini berbeda. Semua stasiun televisi pun ikut-ikutan nyepi. Sekitar pukul 06.00 WITA, semua stasiun televisi menghilang satu per satu dari peredarannya. Betul-betul Nyepi.

Pinjam Gambar Dari Om Saylows Lagi
Lalu apa yang dilakukan ketika Nyepi? Satu fenomena menarik adalah, ketika malam pangrupukan, saat saya membeli makanan kecil, beberapa toko dan supermarket terlihat ramai. Banyak masyarakat yang memborong makanan dan minuman. Bisa diduga kalau tindakan itu dilakukan sebagai bentuk persiapan ketika hari raya Nyepi. Apakah Nyepi juga telah mengalami pergeseran makna sebagaimana ogoh-ogoh? Saya masih yakin banyak orang yang tetap menjalankan catur berata penyepian berupa amati geni (tiada berapi-api/tidak menggunakan dan atau menghidupkan api), amati karya (tidak bekerja), amati lelungan (tidak bepergian), dan amati lelanguan (tidak mendengarkan hiburan).
Karena tidak ada siaran TV, saya memanfaatkan handphone untuk memantau pergerakan teman-teman di dunia maya. Di dunia nyata, bisa saja mereka “terkurung” di dalam rumah dan ada pecalang yang berjaga di sekitar lingkungan banjar. Namun, siapa yang bisa membatasi kehidupan di dunia maya, kalau tidak ada komitmen dari individu tersebut untuk mengekang diri sendiri?
Hmm, ternyata banyak teman-teman di Bali yang meskipun Nyepi, tetap online pada jejaring sosial, microblogging ataupun milis. Saya tidak paham dengan ajaran Hindu tentang 4 amati di saat Nyepi, itu, apakah harus menjalankan kesemuanya ataukah bisa parsial, karena berdasarkan 4 amati di atas, menurut pendapat pribadi saya jika bermain di dunia maya, bukankah itu berarti “melanggar” amati lelungan dan amati lelanguan? CMIIW. Mungkin memang benar jika hanya komitmen pribadi yang bisa membatasinya. Masakan perlu pecalang dunia maya?
Di Nyepi tahun ini, meskipun beberapa orang menyatakan diri untuk tidak online di internet, namun ada yang gagal melaksanakannya. Salah satunya karena terpancing oleh status Ibnu Rachal Farhansyah yang mengundang kontroversi hingga ada group di Facebook untuk mengusir Ibnu Rachal Farhansyah dari Bali. Jumlah anggotanya meningkat sangat pesat di saat hari Nyepi itu, pertanda sebanyak itu juga orang yang bergerak di dunia maya, dan memberikan komentar-komentar dengan bermacam-macam nada, baik nada harmonis maupun nada sumbang.
Mungkin salah satu yang terpancing dan kemudian malahan menulis di blog tentang kasus di atas adalah Pandebaik. Pada tanggal 16 Maret ketika hari Nyepi itu juga, menurunkan tulisan berjudul Mengusik Nyepi cara Ibnu Rachal Farhansyah. Begitu saya mengetahui tulisan tersebut langsung menuju ke TKP dan meninggalkan sejumlah komentar, SPAM tepatnya. Saya tidak tahu apakah Bli Pande memiliki komitmen untuk tidak online selama Nyepi (Bagaimana Bli Pande?), namun setidaknya dari judul tulisan dengan memakai diksi “mengusik”, kasus Ibnu tersebut barangkali memang telah mengganggu kekhusukan umat yang tengah bercatur berata. Belum lagi beragam komentar yang diucapkan. Bagaimana menurut pendapat Anda sekalian?
Suasana malam ketika Nyepi betul-betul gelap, sepi. Namun dunia maya tidaklah sesepi malam itu. Sambil berjalan-jalan di jalur maya dan mengikuti perkembangan berita melalui ponsel, sebab tidak ada siaran di semua stasiun televisi, saya menikmati bintang-bintang dari balik jendela kamar yang bersinar sangat indah. Ya, ketidakhadiran cahaya lampu di malam hari semakin menambah indah panorama di angkasa sana. Terima kasih untuk Nyepi tahun ini, semoga tahun depan masih bisa bersamamu lagi.









Wah… naik disini.
Saya pribadi sebetulnya berkehendak Puasa Online, tapi gagal begitu ada sms terkait status Mas Ibnu itu. Awalnya sih iseng ngcek FB via ponsel tapi cuma nemu undangan Group Usir Ibnu itu, dan sama sekali blom ngeh kalo ybs adalah yang dimaksud dalam sms yang saya terima. baru nyadar setelah baca Koran FesBuk dan goggling… yah, namanya BLoGGer akhirnya gatel juga buat nulis, buka laptop dan beneran online. :p
tapi isinya cuma menerangkan loh ya bukan menghujat balik. :p
hihi siiip istilah “Pecalang dunia maya”.. hahaha
[...] sepertinya hal itu tidak terjadi sebab semua stasiun televisi masih tetap siaran. Berbeda dengan Nyepi 2 minggu lalu. Semua stasiun televisi pun ikut nyepi di [...]
saya ingin menikmati hari nyepi di bali tapi tidak tahu siapa harus saya hubungi
Wah, saya sudah tidak di Bali lagi ney, tar kalau pas di Bali bisa kontak saya, atau langsung saja ke sana pada saat Nyepi dan rasakan romantismenya