Lagi, Belajar Dari Kasus Ibnu Rachal

Motto Internet SehatWise While Online, Think Before Posting” perlu terus dikampanyekan ke semua pihak mengingat telah banyak kejadian yang muncul dan dinilai sebagai dampak negatif akibat penyalahan internet dan jejaring sosial. Kejadian yang masih segar dan fresh adalah kasus Ibnu Rachal Farhansyah di kala hari raya Nyepi, hari Selasa lalu. Status yang ditulis Ibnu ibarat “orang yang berteriak-teriak” di kala hari raya Nyepi dan akhirnya menyebabkan reaksi dari masyarakat di Bali khususnya, terutama mereka yang aktif di jejaring sosial, Facebook.

Gambar dari Blog Bli Pandebaik, pinjam untuk BBC yang Bli Pande

Status yang ditulis Ibnu, terpotret pada gambar di atas. Status itulah yang mampu menggerakkan setidaknya 6.000 (enam ribu) Facebooker untuk bergabung dalam group di Facebook “Usir Ibnu Rachal Farhansyah dari Bali” pada hari Nyepi lalu dan hingga jumat malam members group tersebut telah mencapai sekitar 36.725 orang. Ada pula group tandingan yang dibuat dengan nama¬† Maafkan “Ibnu Rachal Farhansyah, namun hingga Jumat malam baru beranggota sekitar 2.539 orang.

Status itu dianggap sebagai sebuah penghinaan/pelecehan terhadap hari besar suatu agama, sesuatu hal yang sensitif terutama apabila telah menyentuh Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA). Sepertinya semakin lengkap episode penyalahgunaan jejaring sosial, terkhusus Facebook. Setelah beberapa waktu yang lalu terungkap kasus-kasus penculikan dan prostitusi dengan memanfaatkan jejaring sosial tersebut, pada hari raya Nyepi kemarin dilengkapi dengan curhat di jejaring sosial yang menyebabkan orang lain tersinggung.

Lalu, bagaimana etika berjejaring sosial? Itulah pertanyaan besar yang akan dijawab dalam Bali Blogger Community on Air di Bali FM hari Minggu 21 Maret 2010. Kasus Ibnu di atas sebenarnya tidak perlu terjadi jika bijak dalam penggunaan internet dan jejaring sosial. Seyogyanya dipikirkan terlebih dahulu sebelum kata/kalimat  itu diposting agar jangan sampai ada pihak yang merasa dirugikan atau dilecehkan.

Ada banyak yang menganggap bahwa di dunia maya bebas berekspresi, dan bisa sesuka gue menuliskan sesuatu di akun miliknya. Kasus Ibnu tentu membawa pesan moral untuk semua pengguna internet dan jejaring sosial bahwa aktivitas dalam dunia maya harus “Wise While Online, Think Before Posting”.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah peningkatan jumlah pengguna internet yang semakin hari semakin besar. Tentunya hal ini berimplikasi terhadap etika berkomunikasi dan bergaul di dunia maya. Dunia maya telah banyak terbukti sebagai salah satu gerakan sosial yang mampu memengaruhi dunia nyata. Oleh sebab itu, sangat diperlukan sikap bijak dan hati-hati sebelum menekan tombol “update” atau “share“, karena jika tidak, peristiwa pahit yang menimpa Ibnu dapat terulang kembali.

Rasanya Bali Blogger Community sebagai komunitas blogger di Bali tidak akan berhenti untuk berkampanye agar bijak sekaligus berhati-hati dalam berinternet dan berjejaring sosial. Program BBC on Air adalah salah satu acara yang tepat untuk menjadi media kampanye itu yang ditujukan untuk masyarakat di Bali khususnya. Pada hari Minggu 21 Maret 2010 nanti, BBC akan menggandeng teman-teman dari Baliorange Communication untuk berbagi pengalaman, tips serta etika berinternet dan berjejaring sosial. Diharapkan melalui program ini, masyarakat Bali khususnya dapat semakin berhati-hati dan cerdas dalam bergaul serta berkomunikasi di dunia online.

Jadi, jangan sampai lupa untuk menyimak diskusi BBC on Air di Bali FM, 98.9 FM pada hari Minggu 21 Maret 2010 pukul 19.00 WITA yang akan dipandu oleh Nana. Diskusi interaktif juga akan dibuka pada line telepon 0361-291020 atau SMS 0361-8639180.