You are here: Home > Edukasi, Opinion > Jadi Pahlawan Dengan Berdiam

Jadi Pahlawan Dengan Berdiam

Inspirasi Nyepi

Memasuki bulan Maret 2010, dapat disebut sebagai bulan hening, terutama di Bali. Mengapa disebut demikian? Setidaknya ada 3 kegiatan yang bertema diam atau hening (silent).

Selasa, 16 Maret 2010. Kegiatan hening pertama adalah Nyepi, yang sebenarnya berhubungan dengan hari besar agama Hindu dalam menyambut tahun baru Saka 1932.

Namun, kegiatan ini memiliki makna yang mendalam ketika dihubungkan dengan filosofi Hindu, Trihita Karana, yaitu untuk menjaga keseimbangan antara Tuhan, manusia dan alam semesta.

Pada hari tersebut, praktis Bali “lumpuh”. Bali yang dikenal sangat sibuk dalam kesehariannya menjadi sunyi, tanpa lalu lalang kendaraan, tanpa polusi, tanpa turis dan sebagainya. Dikaitkan dengan lingkungan, Nyepi adalah sebuah hal yang positif untuk memberikan “waktu istirahat” kepada alam, dan di hari itu pula mampu mengurangi 20.000 ton emisi (Lihat Kompas, Nyepi Bebaskan Bali dari Polusi) dan mampu menghemat listrik sebesar 450 Megawatt (Lihat TVOneNews, Peringatan Nyepi Hemat Listrik 5,5 Miliar).

Di tengah ancaman krisis energi dan perubahan iklim (climate change), sudah waktunya penghuni bumi pun melakukan perubahan akan gaya hidup mereka. Lokal wisdom dari Bali berupa Nyepi yang dilakukan setiap tahun, telah terbukti menghasilkan manfaat yang besar untuk lingkungan dan alam.

Saya bukan orang Bali dan bukan seorang Hindu. Namun, selama dua kali  di hari raya Nyepi di Bali, saya mendapat inspirasi dan hikmat darinya. Aktivitas dan kesibukan sehari-hari yang tidak bisa dijauhkan dari listrik ataupun bau BBM, pada hari Nyepi semua aktivitas tersebut ditiadakan. Ada sisi penghematan dan adapula sisi ramah lingkungan. Jadi bisa dibayangkan, jika semua Bali melakukan aksi tersebut, sangatlah wajar jika mampu mengurangi gas emisi dan penghematan listrik dalam jumlah yang besar.

Komitmen dari Nyepi ke World Silent Day dan Keseharian

Seperti yang saya ungkapan di atas, perubahan gaya hidup sehari-hari adalah sebuah sangat mendesak untuk dilakukan. Kegiatan bertema hening yang mencoba memulai perubahan gaya hidup itu adalah World Silent Day yang dilaksanakan pada hari Minggu 21 Maret 2010, selama 4 jam pada jam 10.00-14.00 menurut waktu lokal

Saya pertama kali mendengar World Silent Day pada Sabtu, 4 Juli 2009. Ketika itu ada sebuah perkenalan sekaligus kampanye program World Silent Day di Wantilan Museum Lukisan Sidik Jari (Toko Buku Togamas, Hayam Wuruk Denpasar). Dari kegiatan itulah, saya memperoleh informasi bagaimana bergaya hidup yang hemat sekaligus ramah terhadap lingkungan. Setelah melakukan sejumlah kampanye, tibalah World Silent Day yang jatuh pada tanggal 21 Maret 2010 kemarin.

Komitmen, adalah kunci untuk menjalankan aksi ramah lingkungan tersebut. Khusus untuk kegiatan World Silent Day, saya memiliki komitmen pribadi yang telah saya rancang sedemikian rupa dan dipraktekkan pada hari Minggu kemarin. Sesuai dengan gambar World Silent Day di atas, setidaknya ada 3 dari 4 kelompok aksi yang saya lakukan, yaitu tidak menggunakan sepeda motor, telepon selular dan alat-alat listrik. Saya tidak melaksanakan kelompok “tidak mengendarai mobil” karena memang saya tidak memiliki mobil.

Namanya komitmen pasti memiliki konsekuensi. Pada hari Minggu saya biasa pergi bergereja pada pukul 10.00 WITA dengan menggunakan sepeda motor. Namun, khusus tanggal 21 Maret kemarin, saya bergereja pagi pukul 07.00 WITA untuk melaksanakan komitmen di World Silent Day. Dengan begitu, ketika pelaksanaan World Silent Day jam 10.00, saya dapat mematikan dan tidak menggunakan sepeda motor mulai pukul 10.00-14.00.

Selain tidak menggunakan motor, 5 menit sebelum World Silent Day, saya mengupdate status di Twitter bahkan akan segera tiba jam ber-World Silent Day. Hal ini juga saya lakukan pada hari-hari sebelumnya, sebagai bentuk kampanye dan sosialisasi aksi nyata di event World Silent Day.

Tepat jam 10.00, saya mematikan komputer, telepon selular hingga mencabut steker yang tertancap di stop kontak. Karena tidak menggunakan sepeda motor pula, jika ada keperluan pada jam pelaksanaan World Silent Day, maka saya berjalan kaki, hingga dapat sekaligus berolahraga. Hal tersebut saya lakukan hingga tepat jam 14.00 WITA.

Yang terasa adalah sebuah keganjilan karena harus lepas dari alat-alat tersebut, terutama telepon selular dan internet, seolah-olah ada sesuatu yang hilang/kurang tanpa benda-benda itu. Tapi, beruntung ada aktivitas lain yang bisa mengalihkannya yaitu membaca buku.

Tapi ada pelajaran yang bisa dipetik. Paling tidak, aksi pola hidup hemat dan ramah lingkungan telah dimulai. Saya belum tahu pasti dampak positif berupa penghematan listrik atau emisi sebagaimana dampak Nyepi dari World Silent Day kemarin, namun kegiatan kemarin telah menumbuhkan perilaku untuk bergaya hidup hemat dan ramah lingkungan. Selain itu, pelajaran yang bisa diambil adalah bahwa segala sesuatu membutuhkan istirahat dan jeda. Jadi, tidak hanya peralatan elektronik saja yang butuh jeda, namun tubuh jasmaniah inipun juga membutuhkan istirahat sejenak agar syaraf-syaraf tidak menjadi kaku dan tegang.

Melalui Nyepi dan World Silent Day, saya memperpanjang komitmen tersebut yang dimulai dengan komitmen pribadi untuk bergaya hidup hemat dan ramah lingkungan melalui aksi-aksi yang serupa dalam kehidupan sehari-hari. Saya mulai sering berjalan kaki ketimbang menggunakan motor jika ingin pergi ke suatu tempat yang masih terjangkau dengan jalan kaki. Demikian pula dengan penggunaan komputer, telepon selular, listrik dan internet mulai ada pengaturan tertentu sehingga tidak berlebihan. Ada sisi penghematan secara finansial, adapula sisi ramah lingkungan.

Komitmen itu saya lakukan karena sadar bahwa aksi tersebut tidak hanya massive dan terpusat pada hari atau jam tertentu, namun juga perlu dilakukan dalam aktivitas keseharian. Hal-hal yang tidak perlu sebaiknya dikurangi, dan tentu saja tetap mengatur skala prioritas aktivitas sehari-hari agar benar-benar terkontrol dengan baik.

Terakhir, jangan lupakan juga dukungan terhadap Earth Hour yang akan dilaksanakan pada hari Sabtu, 27 Maret 2010, selama 1 jam yaitu pukul 20.30-21.30 waktu setempat. Aksi nyata yang dilakukan adalah pengurangan penggunaan listrik pada jam tersebut, dan tentu saja juga dapat melakukan aksi-aksi serupa pada  World Silent Day dan Nyepi.

Sekali lagi, yang utama dan terutama adalah komitmen masing-masing pribadi untuk bergaya hidup hemat dan ramah lingkungan. Tidak berupa paksaan, tidak karena hanya kegiatan-kegiatan yang dilakukan bersama-sama, namun pola dan gaya hidup ramah lingkungan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak perlu hal-hal yang besar. Aksi-aksi kecil seperti di atas, asalkan didasari atas komitmen yang kuat, telah mampu memberikan sumbangsih pada lingkungan sekitar, yang berarti Anda adalah pahlawan bagi lingkungan sendiri, hanya dengan berdiam (silent).

Tags:

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

4 Responses to “Jadi Pahlawan Dengan Berdiam”

  1. wirama says:

    bukan bulan hening, tapi 1 hari 5 jam hening namanya =P

  2. thanks ya atas artikelnya salam kenal

  3. blognya ini menjadi inspirasi buat saya.

Leave a Reply