Catatan Kecil Earth Hour dan Gaya Hidup
Sabtu malam 27 Maret 2010 pukul 20.30-21.30 LT, program Earth Hour dilaksanakan. Program yang dirancang guna menekan laju perubahan iklim global dan dimulai sejak tahun 2007 ini digagas oleh World Wide Fund for Nature (WWF). Seperti apa respon masyarakat terhadap program yang mengkampanyekan mematikan lampu dan alat-alat listri selama satu jam tersebut?
Rekaman Tempointeraktif mengatakan bahwa Earth Hour di Jakarta Kurang Gereget. Lampu penerangan di jalan-jalan protokol yang membelah jantung Kota Jakarta memang sengaja dipadamkan, namun aksi ini tidak diikuti oleh pengelola gedung yang ada di jalan-jalan protokol tersebut. Sebagian besar gedung pencakar langit di Jalan Sudirman-Thamrin tetap terang-benderang. Begitu juga kantor Wakil Presiden dan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Jalan Merdeka Selatan. Bahkan, di sepanjang Jalan Cikini hingga kawasan Menteng, Jakarta Pusat, penggunaan listrik tak ada bedanya dengan hari-hari biasa (Lihat Tempointeraktif Earth Hour di Jakarta Kurang Gereget, Minggu, 28 Maret 2010).
Aksi dan program Earth Hour sebenarnya sangatlah sederhana, yaitu mematikan lampu dan peralatan listrik selama satu jam. Cukup satu jam saja. Namun, sering ditemui sesuatu hal yang gampang tersebut sangat sulit untuk dikerjakan. Sebagai bentuk dukungan terhadap Earth Hour, saya pun ikut mematikan lampu mulai dari pukul 20.30 WITA-21.30 WITA, dan beberapa menit sebelum itu, mengingatkan teman-teman di Facebook dan Twitter untuk ikut berkontribusi. Semoga dengan tindakan tersebut, teman-teman di jejaring sosial itu mau ikut mendukung.
Idenya sangat sederhana, hanya mematikan lampu atau paling tidak mengurangi pemakaian listrik. Satu jam dalam program Earth Hour pun berlalu dengan cepat malam kemarin. Ketika satu jam telah berlalu, berarti giliran waktu Indonesia barat yang mematikan lampu. Ketika membuka Tuitwit, ternyata tidak bisa menggunakan aplikasi tersebut untuk twitteran. Dalam halaman depannya, Tuitwit akan bisa digunakan lagi pada pukul 21.30 pm GMT+7. Hal ini menandakan bahwa Tuitwit pun ikut mendukung program Earth Hour dengan mengatakan We support #earthhour. Sebuah aksi yang patut didukung.

Salah satu hal yang ada dibenak saya adalah apakah program Earth Hour ini didukung oleh stasiun televisi nasional dengan cara tidak siaran pada pukul 20.30-21.30 WIB. Namun, sepertinya hal itu tidak terjadi sebab semua stasiun televisi masih tetap siaran. Berbeda dengan Nyepi 2 minggu lalu. Semua stasiun televisi pun ikut nyepi di Bali.
Ada juga yang berkampanye setengah-setengah. Seperti Abdi Negara, gitaris Slank. Dalam salah satu status di Twitter, dia mengatakan “Earth Hour,,, Matiin lampu malam ini,,tapi jangan lupa nyalain lagi jam 21,, karena. Slank main di indosiar,,
“. Padahal jam 21.00 masih dalam aksi Earth Hour lho. Mungkin karena kampanye Earth Hour hanya untuk mematikan lampu, tidak untuk mematikan alat-alat listrik, jadi masih tetap bisa menonton TV.
Bagaimanapun, mematikan lampu atau mengurangi penggunaan alat listrik sepatutnya tidak hanya ketika aksi massive seperti Earth Hour saja, namun harus dijadikan gaya hidup sehari-hari. Tindakan kecil dengan mematikan lampu dan alat-alat listrik yang tidak digunakan seyogyanya menjadi gaya hidup sehari-hari yang selalu dilakukan dan terus menerus dikampanyekan. Selain ramah lingkungan, aksi tersebut juga ramah dompet alias tidak boros. Jadi, gaya hidup ramah lingkungan, juga berarti gaya hidup hemat.








kami melayani sedot wc/stp ,memperlancar saluran mampet seluruh saluran2 di JAKARTA BOGOR DEPOK TANGERANG BEKASI Silahkan hubungi no. tlp./hp.=(021)74631310-(021)70492265
Karena tuitwit adalah sahabat salingsilang.com, maka website2 di bawah saling silang juga gak bisa dibuka pas jam2 earth hour mas. Misalnya aja politikana.com, dan curipandang.com. Btw saya seminggu ini mau road trip sama temen2 WWF, dan berkunjung ke Bali pula!! Hehe.. Siapa tau bisa ketemu yaa..
waduh… yang pertamax itu nyomot dari mana OM ?
saya pikir ada pemadaman listrik lagi. :p
[...] Aksi kecil namun berdampak besar tersebut hanya dilakukan setahun sekali, pula hanya satu jam. Catatan kecil saya tentang Earth Hour pernah menuliskan bahwa perlu ada perubahan gaya hidup masyarakat dalam [...]