Ketika Atribut Ditanggalkan

Judul tulisan ini muncul ketika membaca sebuah berita dari Vivanews yang berjudul Bonek Ikuti Jejak Aremania. Seperti diketahui akibat ulah nekat kelompok suporter Persebaya Surabaya tersebut, mereka terancam kena sanksi disiplin. Dan memang, kelompok suporter itu akhirnya dijatuhi hukuman tidak boleh bertandang ke kandang lawan hingga tahun 2014 oleh Komisi Disiplin (Komdis) PSSI.
Menurut berita di Vivanews tersebut, di meja Komding PSSI, hukuman Bonek pun berubah. Lewat sidang yang digelar di kantor PSSI, Senayan, Kamis 18 Februari 2010, Komding memutuskan untuk memberikan hukuman yang dianggap lebih berat. Sebagaimana diungkapkan oleh Rusdi Taher, ketua Komding PSSI, kelompok suporter Persebaya dilarang masuk ke seluruh stadion yang ada di Indonesia untuk menyaksikan pertandingan yang digelar oleh Badan Liga Indonesia (BLI) dengan menggunakan atribut seperti kostum, spanduk, slogan, dan poster.
Ditambahkan oleh Rusdi, keputusan itu diambil dengan tujuan untuk meredam kebrutalan pendukung Persebaya yang mulai meresahkan warga Surabaya. Masih menurut Rusdi, kebrutalan yang terjadi selama ini sebenarnya karena mereka menggunakan identitas yang sama. Kalau penggunaan atribut tersebut dilarang, kebrutalan itu menurut Rusdi tak akan ada lagi.
Hemm, apakah benar demikian? Apakah hanya dengan pelarangan penggunaan atribut suporter maka kekacauan dan kericuhan suporter akan tidak ada lagi? Saya pribadi masih ragu jika pelarangan menggunakan atribut suporter tersebut bisa menghapus kebrutalan suporter karena jika masih bermental suporter yang tidak menjunjung fair play, suporter yang tidak memiliki modal Bondo dan Bondho dan suporter yang tidak berprinsip “menang ora umuk, kalah ora ngamuk“, sangatlah mustahil untuk menciptakan sepakbola tanpa kerusuhan.
Bagaimana menurut Anda?








lihat bal2an nek ra ono gelut e ra seru