Diana, Suami dan Ketiga Anaknya

Masih ingat dengan Diana, seorang ibu 3 anak yang meninggalkan anaknya di dalam kamar dan menguncinya di kamar selama 5 hari? Kamis Malam dalam sebuah tayangan Apa Kabar Indonesia Malam, Diana diwawancarai oleh Tina Talisa. Pada acara tersebut terungkap bahwa Diana memiliki kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga dan anak-anaknya. Suami Diana pun telah pergi meninggalkannya, sehingga praktis Diana yang harus mencari uang demi mencukupi kebutuhan hidup.

Tidak jarang Diana harus mencari utang ke tetangga untuk membeli makanan dan susu buat anak-anaknya. Bahkan juga kudu meminta belas kasihan orang lain demi memertahankan hidup dirinya dan anak-anaknya. Pada bagian lain, pihak berwenang yang menyelidiki kasus ini menyatakan bahwa Diana melakukan hal tersebut karena naluri keibuan, yang tidak menginginkan ketiga anaknya itu keluar rumah karena berbahaya, sedangkan dia pergi untuk mencari uang. Tidak ada niat dalam diri Diana untuk menelantarkan ketiga anaknya (Lihat Detikcom, Polisi: Naluri Keibuan yang Membuat Diana Mengunci Anaknya).

Memang sebuah keputusan yang sulit. Dalam sebuah himpitan ekonomi dan sosial yang mendera, di satu sisi dia harus pergi untuk mencari uang serta harus meninggalkan ketiga anak-anaknya. Di sisi lain, Diana sudah malu karena terus-terusan merepotkan para tetangganya sehingga tidak mau menitipkan anak-anaknya itu ataupun meminjam uang kepada mereka. Jadi, peristiwa yang dipersepsikan sebagai penelantaran anak-anak tersebut akhirnya terkuak setelah para tetangga mendengar anak-anak Diana menangis.

Yang jadi pertanyaan, dimanakah tanggung jawab suami Diana yang sekaligus bapak dari anak-anak itu? Sebagai seorang kepala keluarga, dia telah mangkir dan tidak bertanggung jawab sebagai seorang ayah dan suami karena tidak memberikan nafkah untuk keluarga, bahkan melarikan diri entah kemana.

Diana, sebagai seorang istri sekaligus ibu yang harus menanggung beban berat karena memiliki 3 orang anak yang masih kecil-kecil dan masih sangat tergantung pada orang tua. Tentu peristiwa ini bisa menjadi pelajaran untuk semua masyarakat baik yang sudah berkeluarga maupun yang belum, bahwa ketika mengikat perjanjian dalam ikatan perkawinan ada tanggung jawab yang besar di balik perjanjian itu.

Entah apa yang dipikirkan oleh suami Diana ketika meninggalkan istri dan anak-anaknya? Apakah pernikahan yang dilakukan hanya untuk main-main atau hanya untuk memenuhi keinginan biologis belaka? Padahal akibat “ulah ranjang“-nya itu membuahkan keturunan yang harus dibesarkan dan dididik. Apakah sebelum memutuskan berumah tangga dan akhirnya memiliki anak, tidak dipikirkan terlebih dahulu konsekuensi dan tanggungjawab yang menyertainya? Orang tua kudu mencukupi kebutuhan sehari-hari, pendidikan, kesehatan¬† dan kebutuhan-kebutuhan yang lainnya.

Pada kasus Diana dan suaminya, jika memang memiliki kemampuan ekonomi yang tidak kuat, mengapa memiliki 3 orang anak yang pasti membutuhkan dana yang besar pula untuk membesarkan dan mendidik mereka. Mungkin dalam benak mereka masih percaya istilah “banyak anak banyak rezeki”, namun pada kenyataannya malahan membuat sengsara anak-anaknya. Semoga peristiwa itu bisa menjadi pelajaran bersama.