My Words as My Mind and Soul

Suatu sore ketika jarum jam sudah beranjak dari pukul 5, dan pelan tapi pasti menuju ke pukul 6, sinar mentari menyorot hingga menembus jendela kaca dan masuk ke sebuah ruang kamar. Sujowo masih asyik menatap komputer dengan jari-jemarinya menari-nari di atas keyboard. Pikirannya terfokus pada tulisan yang harus diselesaikan.

Untuk melepas penat, Sujowo membuka situs jejaring sosial yang masih saja terkenal, Pacebuk. Pada bagian Live Feed, ada banyak teman yang baru saja mengupdate status di tembok masing-masing, salah satunya adalah Susan, seorang teman kuliah satu angkatan yang kini bekerja di Maglanglang. Di bagian bawah statusnya, tertulis “via Pacebuk for Bleckberry”.

Tergerak untuk memberikan komentar, maka Sujowo membuka profil Susan serta menuliskan beberapa komentar pada status dan beberapa foto koleksinya. Ketika membuka tab info, Susan menuliskan akun Tahoo Messengernya. Sujowo pun menambahkan akun tersebut pada kontak Tahoo Messenger. Bermula dari sana, dialog maya dengan Susan pun dimulai.

Setelah ngalor-ngidul-ngetan-ngulon, Susan bertanya mengenai Sujatak, yang semasa kuliah juga sangat dekat. Pada awal pertemuan, Sujowo, Susan dan beberapa teman memanggil Sujatak dengan sebutan “Bang”, sebagai wujud penghormatan ke kakak angkatan. Namun, lama-kelamaan, merekapun akhirnya “njangkar” dengan langsung memanggil nama.

Sudah lama Susan tahu bahwa Sujatak bersama dengan Sujowo di Densipar, sehingga dalam setiap kesempatan, Susan banyak bertanya ke Sujowo tentang Sujatak. Ketika Sujowo masih bersama Sujatak, pasti Sujowo memberitahu apa yang terjadi dengan Sujatak. Namun, pasca Sujatak menghilang tiada kabar, ketika Susan bertanya mengenai abang yang satu itu, Sujowo hanya bisa menjelaskan apa yang dia alami.

Via media chatting Tahoo Messenger, Sujowo bercerita ke Susan mengenai Sujatak. Sujowo menceritakan pertemuan dengan Sujatak di sebuah lokasi parkir di Densipar, namun dengan tergesa-gesa meninggalkan Sujowo. Demikian juga dengan perilaku Sujatak yang serasa tidak kenal lagi padahal sudah berpandangan mata ketika bertemu di depan sebuah hotel di daerah Tetinget, yang akhirnya setelah ditelusuri di depan hotel itu adalah kantor tempat bekerja Sujatak. Cerita tentang koper dan usaha untuk menagih supaya Sujatak mengembalikan koper itupun tidak luput diceritakan Sujowo ke Susan, hingga akhirnya nomor handphone Sujatak sudah tidak aktif lagi untuk bisa dihubungi.

Mendengar cerita tersebut, Susan malahan bertanya kok bisa Sujatak berperilaku kewanen seperti itu, melupakan semua kebersamaan yang dijalani bersama ketika berada di Kota Tigasal, bahkan tidak mau menceritakan masalah apa yang sebenarnya terjadi dan harus menghilang tanpa pesan.

Sujowo pun menimpali Susan bahwa selama ini memang tidak ada masalah. Bahwa ketika Sujatak ke Jotakar pun, masih saling mengirim pesan lewat SMS, hingga beberapa bulan yang lalu Sujowo ngonangi Sujatak dan bertemu secara tidak sengaja di gereja dan Tetinget. Susan pun juga turut heran dengan perilaku Sujatak dan bahkan bila nanti ada kesempatan berlibur, dia berencana ke Densipar untuk bertemu langsung dengan Sujatak.

Hemmmm, silahkan kalau mau bertemu. Selama belum pindah, kantornya mudah dicari kok atau mau ikut daftar reality show Termenyek-Menyek???

§1294 · February 3, 2010 · Short Stories · · [Print]

3 Comments to “Dialog Maya Dengan Susan”

  1. Ari Yuliyanto W says:

    haii… tertarik aku membaca cerita ini, serasa dekat dengan para tokoh yang diceritakan :-bd

  2. James says:

    jangan-jangan Sutajak itu sudah jadi “maya”. :)

Leave a Reply