Tahun Negeri Maya

Fever

Ketika terhenti oleh lampu lalu lintas di perempatan Imam Bonjol dan Teuku Umar, terlihat seorang gadis yang mengendarai sepeda motor berhenti tepat di depan sepeda motor saya. Dengan sedikit tergesa-gesa, dia mengeluarkan handphone yang dia miliki. Terlihat dari posisi dimana saya berada, gadis tersebut membuka aplikasi Facebook melalui handphone, dan mengetik sesuatu. Sambil tersenyum sumringah, dia pun bergegas memasukkan kembali handphone tersebut ke tas karena lampu merah telah berubah menjadi hijau.

Peristiwa di atas, barangkali bisa sedikit menggambarkan bagaimana demam bersosial media dan berjejaring sosial telah menghinggapi masyarakat Indonesia. Tahun 2009 boleh disebut sebagai tahun kebangkitan “negeri tetangga” (meminjam istilah sebuah acara parodi politik di televisi) yang berkembang melalui teknologi internet. Itulah “negeri maya”. Jumlah penduduk negeri maya semakin hari semakin meningkat pesat, terlihat dari jumlah populasi (baca: pengguna) pada beberapa sosial media.

Kebangkitan dan peningkatan populasi penduduk di negeri maya merupakan sebuah kemajuan. Dibandingkan dengan tahun 2008, gaung dan peran negeri maya itu di tahun 2009 lebih terasa dan lebih menggetarkan. Simaklah bagaimana peran para penduduk negeri maya tersebut pada berbagai kasus-kasus yang ada di negeri Indonesia. Kasus yang masih juga hangat adalah dukungan di Facebook pada Bibit dan Chandra melalui “Gerakan 1.000.000 Facebookers Dukung Chandra Hamzah & Bibit Samad Riyanto yang hingga kini telah memiliki lebih dari 1,4 juta orang. Kiprah para penghuni negeri maya tersebut mampu memengaruhi kehidupan nyata.

Satu lagi kiprah yang tidak terlepas dari peran penduduk di negeri maya yang mampu menggetarkan sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara adalah aksi peduli koin untuk Prita. Sekali lagi, kiprah penduduk negeri maya telah terbukti mampu memengaruhi penguasa dan aparat hukum di negeri Indonesia. Pada kedua kasus tersebut, berbagai macam komentar mengalir dengan sangat deras dan update dari para pendukung kedua belah pihak. Hal ini bisa dimaknai sebagai bentuk “perlawanan baru” masyarakat  serta sebagai sebuah proses belajar untuk menuju masyarakat Indonesia yang cerdas dan kritis.

Tidak hanya berjejaring sosial, blogging di tahun 2009 memiliki catatan tersendiri. Keberadaan internet dan blog mendorong masyarakat untuk berani menuliskan berbagai macam tema tulisan, baik melalui blog pribadi atau dengan memanfaatkan blog citizen journalism. Kemajuan-kemajuan seperti inilah yang perlu terus dimotivasikan ke masyarakat, mengingat sempat timbul ketakutan-ketakutan di masyarakat terutama melihat kasus Prita.

Harapan 2010

Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan setelah tahun 2009 diakhiri dan memasuki tahun 2010. Demam dan geliat dunia maya akan semakin terus bergema dengan segala bentuk dan variasinya. Keasyikan masing-masing penghuni negeri maya hendaknya tidak membawa dampak buruk dalam kehidupan bersosial di dunia nyata mereka. Ibarat sebuah candu, bermain di dunia maya terus memberikan rasa nagih dan ingin terus dan terus, ingin nambah dan nambah. Pekerjaan rumah yang pertama bagi penghuni dunia maya tersebut bagaimana mengatur waktu antara beraktivitas di dunia maya dan nyata sehingga keduanya berjalan tidak timpang.

Cerita pada awal tulisan ini barangkali adalah bentuk kecanduan dan ketagihan penghuni dunia maya karena rasa penasaran yang tinggi terhadap apa yang terjadi di dunia itu sehingga setiap saat ingin mengunjunginya, bahkan ketika di jalan raya sekalipun. Ada satu hasil penelitian yang menarik yang dilakukan di Utah mengenai “Texting While Driving Much More Dangerous Than Talking While Driving“. Akan tetapi, hal tersebut malahan banyak terjadi dan dilakukan oleh masyarakat Indonesia.

Pada aspek lain, meskipun pengguna internet di Indonesia menunjukkan sebuah peningkatan, namun belum menunjukkan pemerataan. Ini adalah pekerjaan besar pemerintah untuk menyediakan infrastruktur internet yang memadai, agar jangan sampai terjadi ketimpangan pada daerah-daerah di Indonesia. Barangkali akan sangat menarik apabila slogan “internet masuk desa” bukan hanya sebuah jargon-jargon kebanggaan dan terus digembar-gemborkan pemerintah namun internet tersebut memang betul-betul dinikmati oleh semua lapisan masyarakat.

Aspek penting lain adalah memotivasi para pengguna internet untuk memilih, memilah dan menggunakan informasi di internet secara tepat, mengingat ketidakterbatasan informasi yang bisa dikumpulkan dari internet dan media-media pendukungnya. Mungkin perlu berterima kasih ke Facebook, vendor-vendor ponsel dan provider, yang oleh karenanya banyak masyarakat yang jadi tahu dan menikmati internet. Selamat berjelajah dan menjadi penduduk negeri maya.