Sujowo Dikhianati Sujatak (1)

Pada sebuah pagi di hari Minggu di bulan Ruwah 1431 H, Sujowo masuk ke tempat parkir di sebuah gereja di Densipar Ketika hendak memarkir sepeda motornya, dari kejauhan sangat kaget karena dia melihat Sujatak, kakak angkatan sekaligus sahabatnya berada di gereja itu, namun dengan mengendarai sepeda motor, dia hendak keluar dari area parkir. Di satu sisi, Sujowo juga gembira, karena sudah sekitar 4 bulan tidak bertemu Sujatak setelah dia berpamitan untuk pulang ke kampung halamannya di Jotakar karena banyak alasan; salah satunya karena disuruh untuk pulang oleh keluarganya dan ingin mencari pekerjaan di Jotakar.

Namun pertemuan Sujowo dan Sujatak di gereja tersebut sangatlah mengejutkan. Keduanya saling berpapasan, namun tidak ada lagi rasa persahabatan di antara mereka berdua. Sujowo mencoba untuk menyapa Sujatak, namun dijawab dengan jawaban singkat dan dengan tergesa-gesa meninggalkan area parkir. Sujowo berpikir, adakah sesuatu yang salah?

Pasca kepulangan Sujatak ke Jotakar di bulan Bakdamulud 1931 H, keduanya masih sering berkomunikasi melalui SMS dan telah mendengar bahwa Sujatak sudah bekerja di bidang legal. Selama di Densipar, Sujowo dan Sujatak tinggal di rumah Subeli, yang juga sahabat sejak berkuliah di Universitas Sekedar Membaca. Sujatak sendiri telah berada di Densipar selama 1 tahun, tepatnya setelah dia diwisuda di Universitas Sekedar Membaca.

Di bulan itu pula keduanya terakhir bertemu. Sebelum pulang, Sujatak kebingungan untuk mencari tas yang akan menjadi wadah pakaiannya yang sangat banyak. Sujowo yang merasa sebagai seorang sahabat, pun akhirnya merelakan koper besarnya miliknya yang dibeli dengan susah payah untuk dipakai oleh Sujatak. Karena tas itu memang tidak akan dipakai oleh Sujowo dalam waktu dekat, dia berkata ke Sujatak untuk memakai koper itu, dan Sujatak pun berkata bahwa dia akan mengirim koper itu dari Jotakar ke Densipar.

Setelah pertemuan di gereja itu, ada yang membuat Sujowo terpukul atas perlakuan Sujatak. Kenapa sampai harus merahasiakan kedatangannya? Adakah sesuatu yang salah? Apakah dia sudah memiliki kehidupan lain dan ingin melupakan kehidupannya yang dulu? Bukankah kehidupannya yang sekarang pun tidak lepas dari kehidupannya yang dulu bersama sahabat-sahabatnya?

Sujowo berpikir seperti itu karena memang sedari pertemuan pertama di Universitas Sekedar Membaca, Sujowo banyak menolong Sujatak, demikian pula sebaliknya. Bahkan bisa dikatakan Sujowo lebih banyak berjasa ke Sujatak. Salah satu yang tidak mungkin bisa dilupakan adalah ketika Sujatak harus bergulat dengan tugas akhirnya yang tidak selesai-selesai dan bisa terancam drop out. Karena merasa sebagai seorang sahabat, Sujowo bersama-sama dengan Subeli harus sering bedagang untuk membantu agar Sujatak segera menyelesaikan skripsinya dan maju ujian karena waktu sudah sangat mendesak. Paling tidak skripsi itu dikumpulkan, layak ujian dan akhirnya mau ujian akhir.

Dan memang, karena Sujatak selalu kebingungan, dengan bantuan Sujowo dan Subeli, akhirnya skripsi itu layak ujian dan akhirnya lulus dengan revisi. Dan hingga revisipun, peran Sujowo dan Sujatak dalam memoles skripsi itu tidak bisa dilepaskan.

Itu hanyalah sekelumit cerita kedua orang yang dulu katanya sahabat. Dan pikiran Sujowo bahwa Sujatak sudah “berkhianat” dan tidak ingin lagi bersahabat terjadi pada bulan Dulkaidah 1431 H yang lalu. Ketika itu, mereka berdua bertemu di  daerah Tetinget. Kala itu mereka berdua malah bertemu dan saling berpandangan mata. Namun ketika disapa, Sujatak sudah tidak seperti mengenai Sujowo lagi. Apakah Sujatak sudah kehilangan ingatan?

Teringat dengan tas kopernya, Sujowo pun mengirim SMS dan meminta tas koper itu, hingga mengatakan kalau memang tidak mau bertemu dengan Sujowo dan Subeli, tas koper itu bisa dikirim. Dua kali SMS itu dikirim namun tidak ada balasan. Sekali lagi SMS itu dikirim, namun akhirnya gagal, mungkin Sujatak sudah ganti nomor.

Yang diherankan oleh Sujowo adalah sebenarnya apa yang terjadi? Apakah itu yang disebut dengan sahabat? Ketika  sedang dibutuhkan selalu dicari, dan ketika sudah tidak dibutuhkan kemudian disingkirkan?

Bersambung dengan cerita Sujatak yang ingin menghilang, namun malahan bersembunyi di Facebook. Sebuah persembunyian yang bodoh