Kembalikan Koperku…Kembalikan Koperku

http://www.minimoves.eu/blog/wp-content/uploads/2009/06/briefcase.jpg

Subeli tergopoh-gopoh masuk ke kamar Sujowo di suatu pagi-pagi buta. Dia mendengar Sujowo berteriak-teriak dari dalam kamarnya. Subeli mencoba membangunkan Sujowo yang saat itu sedang mengigau. Sujowo berteriak tak sadar “Kembalikan koperku…kembalikan koperku…kembalikan koperku”. Subeli pun mencoba membangunkan Sujowo dan kemudian memberikan segelas air putih.

Setelah betul-betul sadar, Subeli yang semula panik malahan tertawa dan bertanya kejadian yang baru menimpa Sujowo. Sujowo mengatakan bahwa dia pun tidak tahu mengapa dia bisa sampai mengigau. Tapi biasanya, hal tersebut terjadi kalau di dalam hatinya menyimpan sesuatu keinginan yang terpendam. Lalu, apa hubungannya dengan koper?

Subeli pun menjadi penasaran. Apa yang istimewa dengan koper tersebut? Bukankah masih bisa beli lagi? Subeli akhirnya ingat bahwa koper Sujowo dibawa oleh Sujatak, dan beberapa waktu yang lalu setelah mengetahui bahwa Sujatak ada di Bali, Sujowo meminta koper itu namun tidak ada inisiatif baik dari Sujatak untuk menghubungi dan mengembalikan.

Sujowo pun akhirnya menceritakan bahwa koper itu memiliki banyak kenangan. Jadi, meskipun mencoba untuk merelakan koper itu karena tidak ada inisiatif yang baik dari Sujatak, namun sepertinya masih belum rela melepaskan koper besar itu. Kalau saja Sujatak mengatakan bahwa koper itu telah rusak atau dicuri atau memberitahukan informasi atas keberadaan benda itu, Sujowo masih bisa menerimanya. Namun, karena tiada berita tentang koper itu, sedangkan Sujowo tahu bahwa Sujatak terus berfoto-foto ria bersama pacar dan teman-temannya di Densipar, tentu itu merupakan sebuah pukulan telak, seolah-olah memang persahabatan yang sudah terjalin sejak di Silotelu dan kebaikan-kebaikan yang sudah diberikan selama ini sudah dianggap sampah.

Koper besar itu dibeli oleh Sujowo 1,5 tahun yang lalu sebelum berangkat ke Densipar. Koper itu adalah pemberian ayah Sujowo yang harus merelakan seperempat dari gajinya untuk membelikan koper itu sebagai modal Sujowo sebelum merantau ke Densipar. Dia berkata ke Sujowo bahwa hanya koper itu yang bisa diberikan sebagai bekal sehingga harus dijaga. Dalam hati Sujowo kala itu, dia telah berjanji akan menjaga koper itu karena dia tahu, koper itu dibeli dari jerih payah ayahnya yang bekerja sebagai buruh dan pesan yang disampaikan itu adalah sebuah amanah.

Sayangnya, koper itu sekarang tidak ada kabar. Sujatak yang kini berada di Densipar pun tiada berkirim kabar, jadi masih terasa sulit untuk merelakan koper itu hilang tanpa kabar. Mungkin sebuah koper yang berharga sekitar tiga ratus ribu tersebut sangat kecil dan sepele, namun amanah dan pesan dari orang tua untuk memelihara koper, itulah yang terpenting dan terutama.  Jadi sangat wajar jika hal itu menelusup dalam alam bawah sadar Sujowo hingga membuat dia mengigau.

Akhirnya Subeli pun tahu penyebab mengapa Sujowo mengigau. Mungkin memang benar bahwa Sujatak sudah menganggap sebagai sampah persahabatan yang selama ini terjalin, dan sampah itu layak untuk dibuang.  Terbukti dengan tidak ada inisiatif dari Sujatak untuk memberitahukan keberadaan koper itu, meskipun Sujowo sudah mencoba untuk menghubunginya beberapa waktu yang lalu. Dalam hati, Sujowo hanya bisa minta ampun kalau dia tidak mampu menjaga amanah dan pesan orang tua untuk menjaga koper itu. Dia hanya bisa berdoa supaya tidak mengigau lagi untuk persoalan yang sama yang menandakan bahwa dia sudah merelakan koper itu hilang.