Catatan Gladag Langen Bogan (GALABO)

Catatan Malam minggu, 26 Desember 2009
Untuk kali kedua, saya mengunjungi Gladag Langen Bogan setelah berkunjung perdana bersama teman-teman semasa SMA.Namun, kunjungan kedua ke Galabo ini bersama dengan Tirta Agung dan kekasih hatinya. Sebetulnya hendak mengajak beberapa kawan seperjuangan semasa kuliah di Satya Wacana yang disebut dengan “Genk Kontrakan Cemara 2/69” yang terdiri dari Akris,Krisantomo “Tomblok”, Micho “Ndambiq”, Bondhan, Bobby, Deri dan Made, namun karena ada yang sudah punya acara dan atau sedang tidak ada di Solo, maka hanya bertiga saja ke GALABO malam itu.

Berangkat dari rumah di Palur sekitar pukul 18.30 WIB dan sampai di GALABO 15 menit kemudian. Sedari rumah dan diperjalanan terlihat mendung dan gerimis. Oleh karenanya, mantel hujan kudu dipersiapkan. Setiba di tempat parkir dan memarkir sepeda motor di depan Pusat Grosir Solo, bertiga menuju ke deretan gerobag yang membentang panjang di Jalan Mayor Sunaryo dan menawarkan aneka makanan khas Solo.

Kereta JaladaraBertiga berjalan, memerhatikan setiap menu yang ditawarkan pada masing-masing gerobag. Karena bertiga masih relatif pengunjung baru yang belum mengetahui kesemua menu yang dijual, piputuskan untuk berjalan dan melihat semua menu yang ditawarkan baru kemudian memesan. Di tengah perjalanan, dari kejauhan ada kereta yang lewat. Ternyata Kereta Api Wisata Jaladara yang melewati rel yang ada di Jalan Mayor Sunaryo tersebut (Untuk informasi mengenai kereta ini, lihat Launching Kereta Wisata Jaladara).

Kereta api tersebut berhenti di GALABO. Momen tersebut dimanfaatkan oleh pengunjung GALABO untuk berfoto bersama kereta wisata tersebut. Untuk penumpang kereta, mereka memanfaatkan untuk menjajal kuliner khas Solo di GALABO. Sangat ramai malam itu.

DSC_0530Setelah berjalan dan melihat semua menu yang ditawarkan serta berpikir menu yang hendak disantap, akhirnya kami hendak memesan batagor dan tengkleng dan aneka es juice. Karena memang suasana sangat ramai, kami kebingungan mencari tempat duduk dan meja yang kosong. Hendak berlesehan, namun langit terlihat mendung dan gerimis. Ada beberapa meja dan payung yang kosong, namun kursi-kursinya sudah diambil dan dipakai orang.

Setelah melakukan pencarian, akhirnya kami menemukan meja dan kursi yang kosong, namun mejanya masih kotor dengan tumpahan makanan. Saya berpikir dan bertanya siapa yang bertanggung jawab untuk membersihkan meja-meja itu? Beda dengan rumah makan atau restoran, (mungkin) hal tersebut menjadi salah satu kelemahan konsep food court ala GALABO ini, apalagi dalam kondisi hujan.

Satu hal lagi yang (kemungkinan) bisa menjadi kelemahan konsep GALABO ini adalah tidak adanya nomor meja sehingga sangat menyulitkan baik pembeli maupun penjual. Seperti yang kami alami. Setelah memesan batagor, kami menunggu di meja, hanya dengan memberikan “ancer-ancer” meja dan kursi tempat kami duduk. Kami menunggu cukup lama, padahal tempat antara penjual batagor dan meja kami berdekatan. Dan yang lebih lucu lagi, setelah batagor itu habis, kami memesan tengkleng. Kami menunggu sangat lama. Pikir saya, penjual itu tidak menemukan meja kami.

Tiba-tiba, seorang ibu-ibu tergopoh-gopoh mencari-cari dan bertanya. Ternyata ibu itu adalah penjual tengkleng yang kami pesan. Dia meminta maaf karena lupa apa yang kami pesan, sehingga harus diulangi lagi. Waduh, sudah menunggu lama, ternyata karena penjual lupa apa yang pembeli pesan. Selama 2 kali ke GALABO, beberapa penjual memang tidak menulis pesanan yang dipesan pengunjung, sehingga sangat memungkinkan penjual lupa, apalagi kalau pembeli sangat ramai, seperti malam minggu kemarin. Satu catatan tersendiri untuk GALABO.

Catatan terakhir adalah seharusnya branding GALABO yang menjadi pusat kuliner di Kota Solo, tetap diimbangi dan dibarengi dengan kualitas menu-menu yang disajikan, jadi tidak sekedar pasang nama-nama menu spesial kuliner Solo. Di GALABO, saya memesan wedang jahe, minuman hangat yang tepat di kala dingin dan gerimis seperti malam itu. Namun, harapan saya untuk menikmati minuman hangat tersebut sirna karena wedang jahe yang dijual di pinggir jalan (wedangan) jauh lebih enak dan mantap daripada wedang jahe yang ada di GALABO malam minggu kemarin. Wedang jahe itu sama sekali hambar. Dan saya juga melihat, banyak penjual yang tidak menutup atau memayungi makanan/minuman yang diantar ke pembeli di kala hujan, yang sangat berpotensi untuk kemasukan air hujan. Barangkali faktor kualitas menu dan pelayanan di GALABO harus diperhatikan.

Catatan singkat ini semoga berkenan dan menjadikan pelajaran untuk meningkatkan kualitas GALABO sehingga orang berbondong-bondong mencari dan berkunjung ke GALABO serta dapat menikmati menu-menu kuliner khas Solo yang betul-betul berkualitas dan “maknyus”, meminjam istilah Pak Bondan Winarno.