My Words as My Mind and Soul

BONEKEmpat hari belakangan ini, ulah suporter sepakbola di tanah air, terutama kelompok suporter yang disebut dengan bondho nekad atau “bonek”, kembali menjadi sorotan banyak pihak. Sepertinya deretan catatan buruk pada pentas sepakbola di Indonesia bertambah panjang.

Pertandingan klasik Persib versus Persebaya yang dimainkan di Stadion Si Jalak Harupat hari Sabtu kemarin, telah mendorong sekitar 4000 suporter dari Surabaya itu untuk “nglurug” ke Bandung (Lihat: Surya Online Minggu, 24 Januari 2010).

Memang sangatlah wajar jika suporter sepakbola mendukung timnya bahkan harus rela menonton di kandang lawan. Namun, bagaimana kalau para suporter malahan menjadi biang keributan? Belajar dari kasus kelompok suporter dari Surabaya tersebut, setidaknya ada banyak hal yang bisa dipelajari.

Jadi suporter itu butuh bondho, bukan hanya sekedar nekat. Ujung-ujungnya, masyarakat dan suporter itu sendiri yang dirugikan. Lihatlah bagaimana kelompok suporter asal Surabaya tersebut ketika naik kereta api dari Surabaya ke Bandung. Dari sekian ribu suporter tersebut, bisa dipastikan bahwa banyak diantara mereka yang tidak bayar ongkos transportasi. Tidak hanya itu, pada setiap jalan yang dilaluinya, kelompok suporter tersebut juga melakukan aksi pengrusakan pada fasilitas-fasilitas umum, yang tidak jelas tujuannya apa. Bahkan, untuk mengisi perut, mereka juga meminta secara paksa ke para pedagang kecil (Lihat: Kompas 23 Januari 2010).

Dari sisi kelompok suporter, dengan menumpang kereta hingga ke atas atap, sangat berpotensi untuk terjadinya kecelakaan. Terbukti dengan dua orang suporter yang tewas akibat terjatuh dari kereta api, satu korban di Nganjuk dan lainnya di Banyumas (Lihat: Suara Karya Sabtu 23 Januari 2010 dan Kompas Senin 25 Januari 2010).

Belum lagi terhitung korban-korban yang luka akibat aksi brutal suporter. Ketiga mereka berangkat ke Bandung, insiden terjadi di Stasiun Purwosari Solo. Beberapa fasilitas umum rusak dan korban luka akibat lemparan batu (Baca: Kompas Minggu, 24 Januari 2010). Peristiwa tersebut menimbulkan rasa dendam pada warga Solo sehingga pada arus balik kelompok suporter tersebut pulang ke Surabaya, banyak warga Solo yang nyegat” kereta api yang mengangkut mereka di Stasiun Purwosari. Di sana terjadi aksi dendam dengan cara melempari kereta api dengan batu maupun kayu. Banyak yang luka maupun pingsan dan kereta api yang mengalami gangguan harus dihentikan di Stasiun Jebres Solo (Baca: Antara News 24 Januari 2010), dan salah satu korban lemparan adalah Kapolda Jawa Tengah (Baca: Tempointeraktif Minggu, 24 Januari 2010). Meskipun kelompok suporter tersebut bermodal nekat, namun ada pihak lain yang dirugikan, seperti Walikota Surabaya yang harus membayar 105 juta kepada PT Kereta Api Daerah Operasi II Bandung, Jawa Barat untuk pemulangan para suporter dari Bandung ke Surabaya (Baca: Metrotv News, Minggu 24 Januari 2010), dan juga masyarakat umum tentunya.

Apakah aksi-aksi tersebut akan terus berlanjut? Ulah suporter brutal tersebut ada hampir di semua belahan negara. Kasus di atas, setidaknya bisa mencerminkan dan mewakili kondisi suporter di Indonesia. Paling tidak ada 2 hal yang bisa dilihat, yaitu suporter harus memiliki bondho (Bahasa Jawa, bisa diartikan sebagai harta, modal, uang) dan bondo (Bahasa Jawa, yang bisa berarti “Diikat tangannya).

Kalau ingin mendukung tim sepakbola, sebaiknya para suporter tersebut perlu berkaca terlebih dahulu, apakah kedua hal itu mereka miliki. Jangan sampai berpendapat bahwa semua bisa diperoleh secara mudah dan gratis. dan hanya dengan modal nekat. Alat transportasi saja memerlukan bahan bakar, untuk masuk ke stadion juga tidak bisa “mbludhus” dan jika lapar dan haus juga tidak bisa menjarah para pedagang kecil. Namun, kenapa ada banyak yang nekat nglurug dan mbludhus tanpa memiliki bekal yang cukup, malahan melakukan tindakan yang merugikan banyak pihak?

Bondo, berarti diikat. Yang dimaksudkan adalah emosi yang meledak-ledak dan mudah marah tersebut seyogyanya diikat sehingga tidak melakukan perbuatan-perbuatan yang merugikan, berupa pengrusakan, pembakaran, penjarahan, pelemparan dan sebagainya. Kelegaan hati dan Sikap fair play untuk menerima hasil pertandingan di kala menang, seri ataupun kalah sangat penting untuk disadari oleh semua suporter. Terakhir, bagi para suporter ingat slogan ini “Menang Ora Umuk, Kalah Ora Ngamuk”. Berubahlah suporter Indonesia dan majulah sepakbola Indonesia.

§1252 · January 25, 2010 · Opinion · · [Print]

5 Comments to “Bondo dan Bondho Suporter”

  1. [...] tidak sengaja ketika mengetik kata kunci “nekat” di Google ketika sedang menulis “Bondo dan Bondho Suporter“. §1254 · January 25, 2010 · Photoblog · · [...]

  2. imadewira says:

    kayaknya suporter Indonesia masih susah diajak damai

  3. PanDe Baik says:

    Cuma bisa heran dengan perilaku mereka… dan ini sudah berlangsung sejak lama…

  4. [...] jika masih bermental suporter yang tidak menjunjung fair play, suporter yang tidak memiliki modal Bondo dan Bondho dan suporter yang tidak berprinsip “menang ora umuk, kalah ora ngamuk“, sangatlah [...]

Leave a Reply