Minimal Menjaga Rumput

PandeBaik, seorang blogger hebat yang berdominisi (dikoreksi PandeBaik, harap kemudian dibaca “berdomisili) di Bali, memposting satu tulisan yang sangat menarik, sebagai sebuah opini mengenai bencana alam yang terjadi dan hubungannya dengan Film 2012 yang baru-baru ini dirilis dan terus antri oleh penonton. Tulisan yang berjudul “Pada Akhirnya Kekuatan Alam-lah yang Berbicara” diposting sekitar sore hari, namun masih belum ada komentar yang masuk. Untuk meramaikan tulisan tersebut, saya menulis 6 komentar sangat singkat untuk menanggapinya. Pada komentar yang terakhir, saya mengatakan bahwa belum berkomentar, karena masih sibuk mengerjakan sesuatu.

Jika ingin melihat kedinamisan komentar yang saya posting, langsung saja mengunjungi tulisan “Pada Akhirnya Kekuatan Alam-lah yang Berbicara“. Namun, karena sudah berjanji pada komentar ke-6 bahwa akan menulis komentar yang sesungguhnya, maka setelah berkutat dengan pekerjaan rutin, untuk refreshing, maka saya menulis komentar untuk tulisan tersebut. Kejadiannya seperti tulisan yang saya posting tadi siang di blog ini. Pada awalnya ingin berkomentar, tapi karena asyik, lama-lama komentarnya menjadi banyak. Kalau siang tadi berjudul “Komentar Yang Terposting“, saya pun akhirnya memutuskan memposting komentar di tulisan tentang alam tersebut di blog ini. Ini hanyalah pandangan pribadi saja. Komentar di Pandebaik dapat diakses di link berikut ini.

Ini adalah komentar yang saya tulis. Judul tulisan ini saya ambil dan terinspirasi dari joke yang saya utarakan pada paragraf terakhir.

Saya sebenarnya tertarik pada konsep Tri Hita Karana yang menjadi pandangan dan pedoman hidup untuk masyarakat Bali, yaitu sebuah konsep untuk menjaga keharmonisan dan hubungan baik antara (a) manusia dengan Tuhan (Parahyangan) (b) manusia dengan sesama (pawongan) dan manusia dengan lingkungan sekitar (palemahan).

Konsep kearifan lokal yang berasal dari Bali tersebut, apabila dijalankan dan tercipta keharmonisan antar ketiganya, maka akan terjadi keseimbangan dalam kehidupan. Namun, konsep yang jika dipelajari dan dihafalkan terlihat sangat mudah bin gampang, namun untuk melakukannya sangatlah sulit.

Dalam ajaran agama-agama lain pun, konsep dasar Tri Hita Karana itu pun sebenarnya ada, dan diajarkan kepada umat pemeluknya. Jadi, kalau semua umat di dunia ini melakukan dan menjaga keseimbangan ketiganya, secara ideal akan mampu menciptakan kehidupan yang selaras.

Tapi, keseimbangan seperti itu sulit untuk diciptakan, bahkan bisa disebut utopis, karena untuk menciptakan “KESEIMBANGAN”, harus ada “KETIDAKSEIMBANGAN” sehingga keduanya akan menjadi SEIMBANG. Jika gelap vs terang, pria vs wanita, demikianlah adanya.Maka itu, tetap akan ada tindakan-tindakan “KETIDAKSEIMBANGAN” yang dilakukan, termasuk eksploitasi alam yang berlebihan, penggundulan hutan dan bentuk-bentuk lain yang mengganggu keseimbangan alam.

Jadi, ketika salah satu tidak dijaga, pastilah ketidakseimbangan itu akan terjadi, namun ketidakseimbangan untuk menuju seimbang dan menyesuaikan dengan perubahan yang terjadi. Contoh yang mudah adalah semburan lumpur Lapindo ke permukaan bumi dan karena semburan itu, bukankah ada suatu “ruang kosong” di dalam perut bumi sana?

Itu adalah ketidakseimbangan yang terjadi, dan pasti perut bumi membutuhkan keseimbangan baru, dan untuk mencapainya, sangat mungkin terjadi bencana akibat perut bumi yang kosong karena banyak material dari dalam perut bumi yang menyembur keluar.

Banyak yang menilai alam murka, namun hal itu sebenarnya adalah tidak lepas dari ulah manusia sendiri. Sebenarnya alam sudah cukup sabar untuk berdiam diri, akan tetapi lama-lama alam juga tidak bisa mengulur kesabarannya. Kalau hutan terus digunduli, secara akumulasi waktu, bencana ibarat sebuah bom waktu. Itulah wujud alam yang marah, alam murka.

Jadi, sudah berapa lama keseimbangan alam terganggu? Mungkinkah bencana alam yang terjadi akhir-akhir ini dan yang diramalkan akan terjadi, termasuk berakhirnya semua kehidupan ini (untuk yang percaya kiamat), adalah ketika alam sudah tidak lagi mampu sabar akibat setiap hari dan setiap saat diusik keberadaannya oleh manusia?

Kalau sudah ada pertanyaan-pertanyaan seperti itu, sepertinya Bang Ebiet G. Ade adalah salah satu musisi yang jenius dan memiliki penglihatan ke depan melalui salah satu lagu yang ditulis dan dinyanyikannya:

“Barangkali di sana ada jawabnya, mengapa di tanahku terjadi bencana, mungkin Tuhan mulai bosan, melihat tingkah kita, yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa, atau alam mulai enggan, bersahabat dengan kita, COBA KITA BERTANYA PADA RUMPUT YANG BERGOYANG”

Pesan yang ingin disampaikan “tetaplah MINIMAL menjaga rumput, karena kalau rumput sudah tidak ada, maka sudah tidak ada lagi tempat bertanya”.