
Ketika hendak makan mie ayam di warung dekat rumah, kebetulan ada koran Jawa Pos tertanggal 25 Desember 2009 yang diletakkan di meja. Sambil menunggu mie ayam, saya membaca koran tersebut. Mata saya tiba-tiba menangkap sesuatu. Ada sebuah ucapan selamat yang ditujukan untuk Dahlan Iskan yang dilantik sebagai Dirut PLN dari Dr. H. Sukarwo, Gubernur Provinsi Jawa Timur.
Namun, pada ucapan tersebut kata “Gubernur” ditulis dengan “Gubenur“. Saya biasa menggunakan kata “Gubernur“. Saya coba cari di Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam jaringan di alamat http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/, namun tidak menemukan kata “Gubenur”. Saya hanya bisa menemukan kata “Gubernur”, yang diartikan sebagai:
“gu·ber·nur n 1 kepala pemerintah tingkat provinsi; kepala pemerintahan daerah tingkat I; 2 kepala bank sentral atau bank internasional dsb; 3 pemimpin lembaga pendidikan militer: ~ Lemhanas;
ke·gu·ber·nur·an n rumah atau kantor gubernur”
Namun, saya mencoba melakukan pencarian di mesin pencari Google dengan kata kunci “gubenur”, ditemukan banyak website yang menggunakan kata tersebut. Akan tetapi, pada hasil pencarian tersebut, ada sebuah notifikasi yang mengatakan “Mungkin maksud Anda adalah: gubernur“.
Jadi, jika merujuk pada kaidah Ejaan Yang Disempurnakan, Gubernur atau Gubenur?



Pertama ya Win ?
Kedua masih ada ?
Kalo ketiganya masih ada ?
Nah, yang keempat ???
kelima ? kelima belas…
Itu bukan salahnya PakDe Soekarwo, tapi salahnya tukang sablon…
Kayaknya yang bener Gubernur deh.. tapi mungkin karena sering diucapkan dengan terburu-buru jadi Gubenur..
*analisa kangin kauh ndak jelas