Bendera Setengah Tiang

DSC_0565

Rabu, 30 Desember 2009 sore. Kebetulan lagi membaca Kompas dan DetikNews. Ada berita yang mengejutkan. Mantan Presiden RI ke-4, Abdurrahman Wahid alias Gus Dur wafat. Satu berita yang berjudul “Gus Dur Wafat” mengarahkan¬† mouse untuk membuka dan membaca berita tersebut. Pada Kompas pun menurunkan berita yang sama yang menginformasikan bahwa Gus Dur telah wafat di RSCM pada hari Rabu Pahing, 30 Desember 2009 pukul 18.45 WIB.

Indonesia, diakhir tahun 2009 ini telah kehilangan salah satu putra terbaiknya. Gusdur adalah tokoh nasional dan internasional yang dikenal sangat mencintai dan mendukung keberagaman/pluralisme Indonesia. Pada masa menjabat menjadi Presiden Republik ini, Gusdur telah membuat sebuah terobosan dalam kehidupan berdemokrasi dan pluralitas bangsa Indonesia, seperti mengakui Kong Hu Chu sebagai agama resmi, penghapusan SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia), mencanangkan Imlek sebagai hari Libur Nasional dan seterusnya.

Begitu kabar duka tersebut tersebar, Indonesia pun berkabung. Ucapan bela sungkawa mengalir deras dari berbagai kalangan dan dengan berbagai macam cara. Di situs jejaring sosial, Facebook, dan Microblogging, Twitter, berita bahwa Gusdur telah wafat menjadi hot topic (Lihat Detiknews,  Innalillahi Gus Dur Menggema di Twitter).

Sebagai wujud penghormatan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Rabu malam meminta rakyat Indonesia mengibarkan bendera setengah tiang mulai Kamis 31 Desember 2009 sampai Rabu 6 Januari 2010 (Lihat, Seminggu Bendera Setengah Tiang untuk Gus Dur). Pagi-pagi begitu bangun tidur, saya mengambil tiang bendera dan bendera merah putih, kemudian memasang bendera setengah tiang di depan rumah.

Tokoh yang memopulerkan “Gitu aja kok repot” ini sangat suka guyonan dan setiap kali diberi pertanyaan, Gusdur akan melontarkan jawaban yang membuat orang tersenyum dan tertawa, dan itulah yang ditunggu dan dikangeni oleh masyarakat. Kebetulan, kemarin siang saya mengambil gambar patung polisi (Lihat, Coba Tebak, Siapakah Namanya?). Setelah mendengar berita duka kemarin sore, saya jadi teringat salah satu guyonan yang dilemparkan oleh Gusdur. Beliau pernah mengatakan, “Polisi yang baik itu cuma tiga; Pak Hugeng almarhum bekas Kapolri, patung polisi dan polisi tidur”. Mungkin karena patung polisi, seperti yang saya potret senantiasa memberi hormat (Lihat humor Gusdur yang lain di Media Indonesia, Humor-Humor Gusdur).

Selamat jalan Gusdur, jasa-jasamu untuk bangsa dan negara ini senantiasa dikenang. Kami berterima kasih untuk pengabdian dan guyonan-guyonanmu.

***Winarto’s Hermitage Abode***