Ojo Lamis

http://www.polyp.org.uk/cartoons/wealth/polyp_cartoon_rich_poor_neoliberal.jpg

Kamarin, ada satu email yang masuk dari sebuah mailinglist. Isi dari pesan itu adalah “Ada dua masalah yang cukup serius di negeri ini yaitu, masalah “TERUS TERANG” dan masalah “TERANG TERUS“. Yang pertama, masalah ketidakjujuran, yaitu ketika orang tidak lagi menyatakan sesuatu secara “TERUS TERANG“, berkaitan dengan masalah ketidakjujuran dan ketidakadilan. Yang kedua, masalah kelistrikan yaitu ketika lampu di beberapa daerah tidak lagi “TERANG TERUS” (masalah pemadaman listrik).

Untuk masalah yang berkaitan dengan krisis listrik dan pemadaman bergilir, sudah saya posting dalam blog ini (lihat Listrik oh Listrik). Meskipun pemadaman dan krisis listrik tersebut menimbulkan banyak protes dan keluhan dari warga masyarakat, namun ada sekelompok orang yang meraup untung atas “problematika TERANG TERUS” di masyarakat itu.

Untuk permasalahan yang pertama, bisa disebut sebagai krisis kejujuran, pun turut meramaikan dan menambah permasalahan di negeri ini. Inilah krisis “TERUS TERANG”, ketika orang yang berani berjanji namun banyak yang tidak ditepati dan banyak pula yang berani bersumpah untuk mempertegas bahwa dirinya telah ber-TERUS TERANG. Mungkinkah benar jika sekarang ini kalau “seseorang yang jujur bakalan ajur?“.

Pesan moral yang ingin disampaikan adalah berjanji dan bersumpah itu adalah sesuatu hal yang gampang dilakukan. Namun, dibalik janji dan sumpah tersebut memiliki konsekusensi dan tanggung jawab yang besar dan mulia. Jangan mudah berjanji karena janji adalah ibarat sebuah hutang yang harus dilunasi. Jangan mudah bersumpah, karena memang harus bersumber dari hati nurani, jujur dan tidak ada kebohongan.

Jadi, Ojo Lamis, karena hanya akan membuat orang kecewa, seperti 1 bait dalam lagu tersebut.

Ojo sok gampang
janji wong manis
yen to amung lamis
Becik aluwung prasojo nimas
ora agawe cuwo

Kalau tidak mengerti arti syair di atas karena Berbahasa Jawa, silahkan menuju ke Win’s Contact.