Nasionalisme dari Kacamata Blogger

On AirDalam rangka peringatan hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, Bali Blogger Community bekerja sama dengan Bali FM mengadakan talkshow yang mengambil tema “Blogger, Sumpah Pemuda dan Nasionalisme” pada hari Minggu, 1 November 2009 pukul 19.00-20.00 WITA. Bertempat di Studio Bali FM di Kawasan Batu Bulan, Gianyar, talk show ini merupakan kali keempat BBC on Air di Bali FM, dan mulai minggu ini, announcer yang memandu BBC on Air yang biasanya diperankan Tari Tantra, diganti oleh Trisna Apriani Arita.

Ada 4 blogger yang tampil sebagai narasumber pada talk show tersebut. Mereka adalah Hendra WS, Nyoman “Baliun” Suardana, Agung Pushandaka dan Winarto. Di awal sesi, para blogger tersebut bersama-sama mengucapkan “Sumpah Pemuda“, sebagai peringatan hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober.

Berbicara mengenai makna nasionalisme, keempat blogger dari BBC tersebut sepakat bahwa hanya satu kata yang harus diingat untuk menggambarkannya yaitu “Indonesia“. Setiap warga negara dalam segala tindakannya perlu senantiasa mengingat dan memiliki Indonesia sebagai sebuah bangsa yang terdiri dari berbagai macam suku bangsa, bahasa dan budaya. Perbedaan-perbedaan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia, adalah sebuah kekayaan yang sangat luar biasa, oleh sebab itu harus senantiasa dijaga dan dipelihara.

Lalu bagaimana nasionalisme itu diwujudnyatakan, terutama oleh para blogger? Anton Muhajir mengirimkan pesan melalui SMS dan mengatakan bahwa nasionalisme ala blogger itu misalnya dengan tulisan-tulisan potensi di negeri ini. Jadi tidak melulu tentang hal-hal besar. Dia menambahkan bahwa dengan menulis kuliner negeri sendiri adalah juga bentuk nasionalisme.

Ada satu pertanyaan juga yang dilontarkan Ibu Maria di Sidakarya yang menyinggung masalah penggunaan Bahasa Indonesia di tengah maraknya penggunaan Bahasa Indonesia versi gaul, dan mengabaikan penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar, berdasarkan kaidah-kaidah ketatabahasaan. Menjawab pertanyaan tersebut, memang tidak bisa dihindari penggunaan Bahasa Indonesia gaul, baik secara tertulis maupun lisan, karena bahwasanya bahasa adalah sesuatu hal yang dinamis terus berkembang. Tentu penggunaan bahasa tersebut, baik bahasa Indonesia yang formal maupun versi gaul, perlu disesuaikan dengan situasi, kondisi, audience/pembaca.

Bagi seorang blogger, tentu akan melihat kepada siapa tulisan itu akan ditujukan, dengan pertimbangan keefektifan proses komunikasi melalui tulisan yang dimuat. Jika segmen pembaca akan lebih mudah menyerap informasi/pesan dengan menggunakan bahasa gaul, tentu penggunaan bahasa gaul tidak bisa dihindari. Terkecuali jika memang dituntut untuk menggunakan Bahasa Indonesia dengan baik dan benar, misal dalam pidato-pidato sambutan atau laporan-laporan ilmiah seperti skripsi, thesis atau disertasi.

Meskipun demikian, masih ada rasa kekhawatiran terhadap nasionalisme bangsa Indonesia terutama oleh generasi muda. Seringkali, wujud nasionalisme dinyatakan dengan tindakan-tindakan yang sulit untuk dilakukan bahkan menjurus ke kekerasan, seperti pada kasus Indonesia-Malaysia dengan bersama-sama menyerukan ganyang Malaysia. Padahal, ada tindakan-tindakan kecil yang bisa dilakukan untuk menunjukkan rasa nasionalisme.

Selain itu, di tengah gelombang globalisasi yang semakin kuat, teknologi berkembang yang semakin pesat dan semakin boom jejaring sosial di dunia maya, salah satu yang turut menjadi kekhawatiran adalah terkikisnya rasa kebersamaan dan interaksi antar sesama (Lihat juga tulisan Hendra WS di sini) yang akan berdampak pada rasa nasionalisme Indonesia. Di akhir sesi, para blogger tersebut berpesan agar senantiasa mengingat “Indonesia” sebagai bangsa dan negaranya serta selalu berpikir dan bertindak positif sesuai dengan perannya masing-masing.