
Pagi ini, Kabar Pasar di TV ONE menurunkan berita mengenai krisis listrik di Bali. Liputan tersebut diambil dari toko-toko handphone di sekitar jalan Teuku Umar, Denpasar ketika terjadi pemadaman bergilir. Dua orang pebisnis handphone di sana yang diwawancarai mengeluhkan mengenai pemadaman bergilir tersebut dan meminta agar bisa normal kembali karena hal tersebut jelas sangat merugikan sebab pelanggan jadi enggan berkunjung ke counter.
Itu hanya 2 dari konsumen PLN yang mengeluh mengenai pemadaman bergilir. Belum lagi pengusaha besar maupun kecil, masyarakat segala lapisan yang merupakan pengguna listrik PLN jelas mengeluh karena mereka melakukan “pendiskonan” servisnya. Tidak perlu melakukan survei ke pengguna listrik, pasti bisa ditebak di muka bahwa mereka sangat terganggu dengan pemadaman bergilir ini. Kalaupun dibutuhkan sebuah sebuah survei untuk mengetahui tanggapan masyarakat terhadap pemadaman bergilir tersebut, bisa segera direncanakan, sehingga ada dasar ilmiah untuk mengatakan bahwa masyarakat terganggu dengan tindakan pemadaman bergilir tersebut.
Dalam sebuah status di Facebook tertanggal 9 November 2009, tertulis:
“Win Arto lg taruhan;pemadaman listrik ini akan berlangsung brp lama?”
Memang sore itu terjadi pemadaman listrik di sekitar wilayah Kesiman, Denpasar untuk kesekian kalinya dengan durasi yang bervariasi. Durasi pemadaman itulah yang menjadi sebuah taruhan. Dalam salah satu komentar di status tersebut mengatakan “di pekanbaru pernah pemadaman lebih dari 40 jam…apakah ada yang lebih lama?”. Waduh ternyata parah juga krisis energi di negeri ini.
Meski demikian, ada yang meraup untung dari pemadaman listrik ini. Penjual genset panen. Seperti yang juga diberitakan oleh Kompas bahwa sejak pemadaman bergilir yang terjadi di Jakarta, penjualan genset meningkat. Untuk yang tidak memiliki budget yang cukup untuk membeli genset, kembali ke produk tradisional mungkin bisa menjadi sebuah jawaban, jika terjadi pemadaman, yaitu dengan membeli lampu teplok/templok ataupun lilin. Seperti yang dinyatakan oleh Harian Umum Pelita, bahwa pemadaman aliran listrik secara bergilir di sejumlah wilayah di Bali, ternyata memberi berkah bagi para penjual lampu minyak tanah yang kerap disebut lampu templok.
Begitu sangat penting listrik dalam kehidupan manusia, baik untuk bisnis dan usaha, belajar, hiburan dan sebagainya. Mengurangi penggunaan dan mematikan alat-alat listrik yang tidak dibutuhkan merupakan sebuah solusi kecil dalam upaya penghematan listrik dan energi. Namun herannya, ketika lagi ramai-ramainya pemadaman oleh PLN, pada siang hari terdapat lampu penerangan jalan yang dibiarkan menyala. Apakah ini sebuah wujud penghematan? Adakah solusi yang bisa diberikan?



templok opo teplok mas?
neng ndesoku jenenge lampu teplok
Desa mawa cara, negara mawa tata, bahasa mawa beda
Ada yang menyebut teplok, templok, senthir, malah ana lagu ne, “alah senthir lenga patra, sing dipikir kok ora rumangsa”
oh ya??
baru tau klo siang2 ada lampu penerang jalan yang nyala??
bukanna pake timer ya??
*PLN yg anegh..
Penerangan jalan yang nyala pada siang hari itu banyak ditemui. Coba saja tanya pada orang lain? meskipun pakai timer/saklar otomatis, tapi banyak juga yang tidak berfungsi
Mengamankan klimax dari postingannya bung winarto.
banyak sudah suara hati berupa keluhan dan syukur dari yang meraup untung soal pemadaman listrik oleh PLN ini tapi koq masih juga belum ada “listrik swasta” yang bisa bersaing secara sehat seperti halnya di bidang telekomunikasi di Indonesia nya ?!?
Halo Pak Sugeng,
Terima kasih sudah berkomentar. Waduh, kalau listrik swasta rasanya Indonesia belumlah siap kalau urusan listrik “dilempar” ke swasta.
Harusnya sekalian aja bikin perayaan Nyepi seminggu sekali, hahaha..
btw, saya baru baca stiker di bawah meteran listrik di rumah, ada pemberitahuan bahwa pemadaman bergilir ini akan terjadi sampai bulan desember…
Minggu yang lalu, di daerah saya, dalam seminggu pemadaman dua kali.
[...] berkaitan dengan krisis listrik dan pemadaman bergilir, sudah saya posting dalam blog ini (lihat Listrik oh Listrik). Meskipun pemadaman dan krisis listrik tersebut menimbulkan banyak protes dan keluhan dari warga [...]