“Jamane wis edan“, atau “manungsane wis edan“, dua hal itu yang terbersit ketika pagi ini ada sebuah berita di TV ONE bahwa di Banjarmasin, ada seorang Ibu yang tegang memberikan racun ke anaknya sendiri. Di berita itu hanya disebutkan bahwa sang ibu sudah tidak tahan lagi dengan kelakukan anaknya. Penasaran dengan berita tersebut, akhirnya mendapat sebuah berita dari sebuah koran online, yang berjudul “Diancam Parang, Ibu Racun Anaknya Hingga Tewas“.
Bukankah ada peribahasa “Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”, yang berarti bahwa kasih yang dimiliki seorang ibu terhadap anaknya adalah kasih yang tak akan termakan oleh waktu. Dia mengasihi anaknya semenjak anak di dalam dikandung hingga akhir hidupnya.
Kejadian ini menggambarkan keadaan yang sangat memprihatinkan. Apakah benar ungkapan “zaman edan” itu sudah terjadi? Zamannya yang edan ataukan manusianya yang edan? Ada satu lagu yang menarik untuk menggambarkan hal tersebut, selain Jangka Jayabaya yang mengatakan bahwa “Selot-selote mbesuk wolak-waliking jaman teka”, yaitu lagu berjudul “Ning Nong Ning Gung” yang dinyanyikan oleh Genk Kobra dari album Ngayogjokarto.
Ning Nong Ning Gung Pak Bayan
Sego Jagung Ra doyan
Jamane wis jaman edan
Yen ra edan ra keduman
Jaman kemajuan ning lali paugeranInggah inggih – Inggah inggih jebul ra kepanggih
Iya iyo – Iya iyo mung waton suloyo
Sluman slumun lageyane wis mesthi ra cetho
ingah ingih wani omong, yen wonge ra onoPlilak plilik – Plilak plilik isine curigo
Glenak glenik – Glenak glenik yen tanggane mulyo
Ubyang ubyung gaweyane ngrasani wong liyo
Imbas imbis dijak maju, kok malah klewo-klewoPingine mulyo ning podho wegah rekoso….
Ning Nong Ning Gung Pak Bayan
Sego Jagung Ra doyan
Jamane wis jaman edan
Yen ra edan ra kedumanNing Nong Ning Gung Pak Bayan
Sego Jagung Ra doyan
Jamane dudu jaman perang
Ning kok isih do grejeganNing Nong Ning Gung Pak Bayan
Sego Jagung Ra doyan
dudu kebon dudu ratan
Dijak ngulon malah ngetanNing Nong Ning Gung Pak Bayan
Sego Jagung Ra doyan
Iwak kebo iwak jaran
Uwong bodho kok glelengan
Lagu tersebut pas dengan makna yang ingin disampaikan jika menggunakan bahasa Jawa karena gaya bahaya yang digunakan. Namun demikian, bila tidak mengerti bahasa Jawa, secara khusus akan dicoba untuk dirangkum ke dalam bahasa Indonesia (versi bebas). Informasi yang ingin dbagikan melalui lagu itu adalah:
- Zaman sudah edan (gila), kalau tidak edan tidak akan kebagian.
- Zaman kemajuan, namun tidak mengindahkan/lupa pada aturan-aturan.
- Berkata “Ya” (Jawa: Nggih), namun kenyataannya “Tidak” (Jawa: Ora kepanggih).
- Penuh rasa curiga, iri melihat orang lain sukses.
- Senang membicarakan orang lain (gosip)
- Bukan zaman perang, namun senangnya ribut-ribut.
Setidaknya ada enam point di atas yang ingin disampaikan oleh lagu itu, dan point-point tersebut sudah cukup untuk menggambarkan betapa kacau keadaan yang sudah, sedang dan akan dihadapi. Tapi “sak bejo-bejone wong edan, luwih bejo wong kang waras tur tetep eling lan waspodo. Mari tetap eling lan waspodo



jaman edan, mau nggak mau jadi ikut edan….
Tetep eling lan waspodo
walopun aku gak bgitu ngerti boso jowo, edannya jaman kalo diBali itu dikatakan sebagai jaman Kaliyuga…
Bagus membaca jaman Kaliyuga itu di Wikipedia http://id.wikipedia.org/wiki/Kaliyuga
ya edan banget…
bulan yang seharusnya musim hujan malahan panas gila…
terus orang ganteng kayak saya malahan jauh jodoh…
bener-bener edan…Hehehehe
Good statement Eka