You are here: Home > Recent activities > Disiksa Bahasa Bali

Disiksa Bahasa Bali

Jumat sore, ada undangan dari Eka Dirgantara untuk rapat pamungkas ultah Bali Blogger Community. Kebetulan memang tidak ada acara, maka memutuskan untuk mengikuti rapat tersebut yang diadakan di Forrest Club yang menurut rencana dimulai jam 19.00 WITA. Namun, karena sudah mengetahui “budaya” BBC yang cenderung jam karet, jam 19.30 baru berangkat dari rumah setelah menyelesaikan banyak pekerjaan, termasuk membuat “term of reference” untuk BBC on Air tanggal 22 November 2009.

Sampai di lokasi, ternyata baru ada Lina PW dan Eka Dirgantara. Beberapa saat kemudian datanglah Chris yang membawa 3 buah kardus AQUA. Satu per satu pun akhirnya berdatangan yaitu Pakdhe Yanuar, Mbok Arie, Gustulank, Mas Tri, Saylow, Riri dan Yuna.

Rapat yang dipimpin oleh Eka tersebut akhirnya dimulai dan membahas banyak hal untuk persiapan ultah BBC di Desa Kertalangu hari Minggu nanti. Namun, posting ini bukan ingin membahas jalannya rapat, akan tetapi ingin mengungkapkan bagaimana tersiksanya berada pada kelompok/komunitas dan tidak menguasai bahasa yang digunakan. Ya, rapat itu menggunakan bahasa Bali, sebuah bahasa yang sama sekali tidak dikuasai, meskipun tetap menggunakan bahasa Indonesia dan Jawa. Kalau dalam bahasa Jawa, dirapat itu hanya bisa “ndomblong“.

Bagaimana tidak “ndomblong“, banyak kosakata baru yang sama sekali baru dan tidak tahu makna atau artinya, bahkan tidak bisa melafalkan dan mengucapkan. Namun, ada beberapa kosakata yang mirip atau sama dengan bahasa Indonesia dan Jawa, sehingga paling tidak mengetahui keyword dan topik yang sedang dibahas. Meskipun demikian, tetap ada yang kurang karena tidak memahami komunikasi secara utuh yang kemungkinan besar akan dapat mengurangi efektifitas berkomunikasi dan terjadinya distorsi informasi.

Saya jadi teringat dengan teks pidato pengukuhan Prof. Christantius Dwiatmadja, yang intinya adalah “Jika engkau berada di Roma, berlakulah seperti orang Roma“. Saat ini saya berada di Bali, sebuah pulau yang jauh dari Karanganyar, dan tentu saja sangat berbeda bahasa, budaya dan adat istiadat. Bercermin dari ungkapan tersebut, berarti satu pelajaran yang bisa saya petik dari cerita di atas adalah segera “berlaku seperti orang Roma” dengan cara belajar bahasa Bali mulai dari sedikit demi sedikit.

Serius…tersiksa sekali tidak mengetahui dan mengusai bahasa yang digunakan oleh lawan bicara atau komunitas, apalagi dalam suatu rapat, karena saya hanya bisa “ndomblong“. Lain kali saya butuh orang yang secara ikhlas menerjemahkan Bahasa Bali ke Bahasa Persatuan Bahasa Indonesia jika ada orang yang berbahasa Bali. Saya hanya ingin belajar.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

14 Responses to “Disiksa Bahasa Bali”

  1. PanDe Baik says:

    ijin mengamankan yang PERTAMA, boleh kan ?

  2. PanDe Baik says:

    ijin mengamankan yang KEDUA, masih boleh kan ?

  3. PanDe Baik says:

    ijin mengamankan yang KETIGA, bagaimana ?

  4. PanDe Baik says:

    ck ck ck… seseorang yang memiliki riyawat eh riwayat CV begitu panjang dan me-Nasional merasa kelabakan dengan bahasa Bali ? wah, pasti itu dalam rangka ngerjain WinArto tuh…
    Baru tau kalo Dosen penguji saya ini memang beneran pantas jadi seorang Dosen Penguji. Salut Win…

  5. wira says:

    lho, tenang aja mas win, bahasa bali dan jawa nggak jauh2 beda kok… hehe

  6. .gungws says:

    bener2…ga kebayang…+_+ rapat pake bahasa bali…tumben yo..!?

  7. [...] “Disiksa Bahasa Bali“, ada satu perenungan yang terkait penggunaan bahasa dalam kehidupan sehari-hari. Kasus [...]

Leave a Reply