Icip-Icip RW Special

Tentu sudah banyak orang yang tahu ketika orang menyebut RW. Namun, dalam konteks makanan, belum tentu banyak orang akan tahu, ketika ada orang yang nyeletuk “makan RW”. Ada yang mengatakan “ooooo”, atau “ndak suka”, atau “makanan kesukaan” dan komentar-komentar lainnya setelah mengetahui bahwa RW yang dimaksud adalah Rica-Rica Waung. Memang bagi beberapa kelompok tertentu, RW adalah makanan yang dilarang, “diharamkan”. Entah karena apa alasannya, yang pasti berbagai macam alasan, ketika diajak makan RW, sudah langsung menolak.

Sejujurnya, RW sudah kukenal sejak lama ketika masih di Jawa Tengah dan tidak begitu aku sukai. namun setelah berurban ke Bali dan gara-gara Agung-lah aku mulai “icip-icip” RW, dan ternyata memang enak, meski agak pedas. Awalnya, sangat sulit menemukan penjual RW di Denpasar. Kalaupun ada tidak semurah dan seenak RW di Salatiga. Demikian kegundahan Agung, penggemar berat RW hingga mengatakan bahwa daging yang paling enak itu adalah daging anjing. Tentu, jika sudah dimasak dan dibumbui. Dan kegundahan itu akhirnya terjawab. Sebenarnya sudah beberapa bulan yang lalu memperoleh informasi warung yang berjualan, yaitu sekitar bulan April 2009, ketika Agung naik bus Safari Dharma Raya dari Jakarta ke Denpasar. Nah di dalam bus tersebut kebetulan bertemu dengan seseorang yang juga bekerja di Bali dan merekomendasikan warung RW yang berlokasi di Jalan Sungai Musi No. 17, Renon, Denpasar,

Tulisan singkat ini hanya sekedar berbagi untuk para penggemar RW terutama di wilayah Denpasar. Di warung tersebut menjual beberapa menu, mulai dari RW basah, RW kering, Rawon hingga rica-rica babi. Masalah harga masih sangat terjangkau. Per porsi rawon dijual seharga Rp. 6000 dan untuk RW basah/kering dijual seharga Rp. 7500. Bisa dinikmati ditempat ataupun dibawa pulang.

Pada mulanya karena hanya icip-icip, aku hanya memesan RW basah saja, namun ternyata rawonnya pun menggoda. Dan jangan lupa, saat makan RW harus ditemani dengan merica bubuk. Di pasaran sudah banyak kan merica bubuk dalam kemasan, namun kalau pun terpaksa, tinggal menggerus butiran-butiran merica hingga halus, demi menambah kenikmatan ketika makan RW dan rawon. Seperti pengalaman hari Rabu malam. Timbul hasrat untuk makan RW dan akhirnya menuju ke Renon untuk beli RW dan rawon.  Setelah misi selesai, dilanjutkan dengan misi mencari merica bubuk. Namun tidak ketemu. Akhirnya, membeli sekitar 20 bungkus merica butiran dan diuleg oleh Mbok Luh, saudaranya Agung.

Uleg MericaCukup lama juga Mbok Luh “nguleg” butiran-butiran merica tersebut hingga halus. Bau merica tersebut menusuk hidung. Wow, pasti akan sangat pedas ala merica. Oya, untuk penggemari pedas alas cabe, di warung itu juga mempunyai sambal yang super duper pedas. Namun, sekali lagi kalau makan RW, lebih enak kalau ditemani dengan merica bubuk lho.

Akhirnya, butir-butir merica itu menjadi halus berkat perjuangan nan keras dan penuh keringat Mbok Luh. Saatnya makan. Kebetulan aku hanya pesan rawon. Dengan demikian, sudah lengkaplah menu dinner nan sederhana, namun sangat istimewa; nasi rawon yang ditambah merica bubuk. Wonderful tonight. Jika sudah siap, saatnya makan malam.

Yuk, makan dulu ya. Merica dibubuhkan ke rawon, kemudian diaduk. Terasa pedas ala merica, dan berbeda dengan merica bubuk yang dijual dalam kemasan. Lebih mantaff man. Tidak percuma menempuh perjalanan dari Kesiman ke Renon, kemudian “ngrusuhi” Mbok Luh untuk “nguleg” merica hingga halus.

Merica, RW dan Nasi
Memang terasa sangatlah istimewa. Peluh mengalir seiring menyantap daging-daging dan kuah yang tercampur pedasnya merica. Wow, fantastic.

Sesekali harus meneguk air putih untuk meredam rasa pedas di mulut. Untuk yang suka RW atau rawon, silahkan mencoba. Dijamin sangat istimewa dan murah meriah.

Selamat makan!! Setelah makan, saatnya cuci piring, sendok dan gelas.