Gempar Gempa di Negeri Lindu
Gempa
Bumi bergoyang lagi? Bukan karena musik dangdut, bukan karena piringan hitam seorang DJ. Lagi-lagi gempa mengguncang salah satu wilayah di Republik Indonesia. Sabtu, 19 September yang lalu, ketika sedang di kamar melihat Editorial Media Indonesia di Metro TV, tiba-tiba 2 kali goncangan menimpa Pulau Bali yang dirasakan di daerah Nusa Dua, Denpasar, Tabanan dan beberapa wilayah di Bali hingga sampai terasa di Mataram. Bedasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMGK) gempa tersebut berpusat di 101 tenggara Nusa Dua, terjadi pada pukul 06:06:56 WIB dan berada di posisi 9.67 LS – 115.49 BT dengan kekuatan gempa berkisar 6.4 SR dengan kedalaman 36 Km.
Tanggal 2 September 2009, atau 17 hari sebelum gempa mengguncang Pulau Dewata, gempa yang berkekuatan besar juga mengguncang wilayah Jawa Barat. Gempa yang terjadi pada pukul 14:55:00 WIB tersebut berpusat di 8.24 LS – 107.32 BT dengan kekuatan sekitar 7.3 SR dengan kedalamanan 30 Km berada di posisi 142 km barat daya Tasikmalaya, Jawa Barat. Teman-teman yang ada di Jakarta pun melaporkan melalui Facebook, Twitter dan Plurk bahwa getaran gempa tersebut terasa hingga Jakarta dan sekitarnya. Ketika terjadi gempa tersebut, beberapa orang yang berada di Bali International Convention Centre di Nusa Dua pun merasakan getaran dengan kekuatan yang ringan. Papan-papan dan lampu gantung terlihat bergoyang-goyang.
Kemarin sore, atau tepat hari peringatan Gestapu, gempa kembali meluluhlantakkan wilayah Sumatra Barat. Gempa yang terjadi pada pukul 17:16:09 WIB dengan kekuatan gempa berkisar 7.6 SR, pusat gempa pada posisi 0.84 LS – 99.65 BT, berada pada kedalaman 71 Km di 57 km barat daya Pariaman-Sumatera Barat. Korban jiwa terus berjatuhan, demikian pula dengan kerugian harta dan benda. Salah satu yang terus disiarkan oleh TV One adalah evakuasi 60 siswa yang pada saat gempa sedang belajar di bimbingan belajar Primagama. Proses evakuasi masih terus berlangsung hingga tulisan in diturunkan. Tanggap darurat segera diturunkan oleh pemerintah selama 2 bulan mendatang.
Sudahkah berhenti?
Pertanyaan itu tentu menjadi pertanyaan semua orang. Sudahkah “goyangan” bumi yang memorak-porandakan beberapa wilayah di Indonesia akan berhenti? Catatan gempa yang telah dikemukakan di atas, hanyalah sedikit dari sekian banyak gempa yang terjadi di wilayah Indonesia. Berdasarkan catatan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), tercatat sejak 23 Agustus 2009 hingga 1 Oktober 2009 terdapat 60 gempa bumi yang mengguncang wilayah Indonesia dengan kekuatan lebih dari 5 SR. Gempa terakhir dengan kekuatan cukup besar yang dicatat oleh BMKG terjadi pada 1 Oktober 2009 pada pukul 08:52:29 WIB, berada di posisi 2.44 LS – 101.59 BT dengan kekuatan gempa 7.0 SR berada di kedalaman 10 Km di 46 km Tenggara Sungai Penuh, Jambi.
Negeri lindu, mungkin demikian sebutan untuk Indonesia. Wilayah Indonesia termasuk dalam lingkaran api pasifik (Ring of Fire) atau juga dikenal dengan sabuk gempa pasifik. Dalam lingkaran api pasifik tersebut, berderetlah pegunungan berapi, yang merupakan tempat penyaluran energi bumi, disamping itu Indonesia juga menjadi pertemuan dua lempeng antar benua, Indoaustralia dan Eurasia, yang tiap tahun juga bergeser, kira-kira 7 cm per tahun, dan jika tekanan yang diakibatkan lempeng yang bergerak tidak dapat ditahan oleh tepi lempengan maka terjadi gempa bumi.
Salah satu yang ditakutkan dari bencana gempa bumi adalah terjadinya tsunami. Mengutip situs BMKG, tsunami adalah:
Gelombang laut yang disebabkan oleh gempabumi , tanah longsor atau letusan gunung berapi yang terjadi di laut. Gelombang tsunami bergerak dengan kecepatan ratusan kilometer per jam di lautan dalam dan dapat melanda daratan dengan ketinggian gelombang mencapai 30 m atau lebih. Magnitudo Tsunami yang terjadi di Indonesia berkisar antara 1,5-4,5 skala Imamura, dengan tinggi gelombang Tsunami maksimum yang mencapai pantai berkisar antara 4 – 24 meter dan jangkauan gelombang ke daratan berkisar antara 50 sampai 200 meter dari garis pantai.
Tentu belum hilang dari ingatan musibah nasional berupa tsunami yang terjadi di Aceh pada 26 Desember 2004, dan pasti tidak menginginkan musibah-musibah yang serupa menimpa kembali di Indonesia. Namun harus disadari, bahwa wilayah Indonesia adalah rawan gempa, meskipun Kalimantan relatif lebih aman dari gempa. Yang diperlukan adalah senantiasa waspada. Setiap bencana atau musibah dapat terjadi pada siapa saja. Untuk Saudara-Saudaraku yang berada di Padang dan Pariaman serta beberapa wilayah di Sumatra yang sedang dirundung kesusahan, kami semua turut berdua. Semoga Bangsa Indonesia senantiasa dikaruniai kedamaian dan ketentraman.







