You are here: Home > (Not) Daily Stories > Satu Bahasa, Bahasa Campuran

Satu Bahasa, Bahasa Campuran

Berbahasa Campuran

Tulisan ini merupakan kelanjutan dari postingan berjudul (Dan) Aku Kembali, sebuah kisah yang diangkat dari pengalaman offline ngeblog selama sebulan ini. Title di atas sedikit menggelitik, namun telah menjadi sebuah kebiasaan dalam masyarakat kita. Tulisan ini juga berangkat dari sebuah pengalaman bertemu dengan Prof. Ian, seorang professor dari Charles Darwin University yang telah lama tinggal di Bali dan lebih suka dipanggil dengan Pak Ian.

Perbedaan penguasaan bahasa seringkali menjadi kendala dalam sebuah komunikasi. Meski demikian, ada sejumlah usaha untuk meminimalkan permasalahan interpretasi dalam komunikasi, misalnya dengan komunikasi non-verbal yang menggunakan alat bantu, isyarat, gerak bahkan tidak jarang menggunakan bahasa campuran sesuai dengan bahasa yang dikuasai.

Komunikasi antar manusia,(Human Communication) adalah sebuah kegiatan penyampaian informasi, berita, pesan, atau amanah  dari seseorang kepada orang lain dengan harapan agar hal-hal yang diberitahukan itu dapat diterima, dimengerti, diikuti dan diaplikasikan, bahkan menjadi milik bersama antara sumber dan penerima (Harun, 2008). Menurut pengertian tersebut, betapa sangat penting agar  pesan, informasi, berita atau sejenisnya untuk dapat ditangkap  dan diterima.

Intensitas pertemuan dengan Pak Ian, berakibat pada peningkatan intensitas penggunaan bahasa Inggris. Meskipun demikian, bukan lantas percakapan mutlak menggunakan bahasa Inggris, namun lebih bahasa yang dipergunakan adalah bahasa campuran, kadang satu kalimat murni bahasa Inggris, atau murni bahasa Indonesia. Juga, dalam satu kalimat malahan menggunakan campuran Inggris-Indonesia. That’s very fantastic.

Meskipun bahasa campuran bin gado-gado, namun yang terpenting adalah informasi, pesan, berita yang disampaikan dapat ditangkap oleh lawan bicara. Mungkin juga perlu dimaklumi karena bahasa sehari-hari yang digunakan berbeda-beda, disamping keinginan untuk belajar bahasa lain juga. Penggunaan first language dan second language dalam bahasa campuran setidaknya dapat menjadi pertukaran budaya, dan bagi yang masih belajar menggunakan second language, akan lebih mempermudah penguasaannya secara perlahan-lahan.

Bahasa Inggris telah menjadi bahasa global, namun untuk kalangan masyarakat Indonesia, bahasa tersebut mungkin menjadi second, third, fourth…. language. Namun, bagi Pak Ian (setidaknya orang asing yang berada di Indonesia), keinginan untuk mempelajari bahasa selain Bahasa Inggris (Baca: bahasa Indonesia) menjadi tantangan tersendiri juga. Maka itulah, sebagaimana pertemuan dengan Pak Ian, penggunaan bahasa campuran malahan memperlancar dalam belajar bahasa.

Bahasa Masyarakat

Dalam kasus lain, penggunaan bahasa campuran amatlah mudah ditemui dalam percakapan/perbincangan di kelompok-kelompok masyarakat, misal bahasa campuran Indonesia-Jawa. Sering pula tidak sesuai dengan pakem-pakem kebahasaan, atau dikenal dengan bahasa slang (slang language). Dikatakan menggunakan bahasa Indonesia, tapi tidak sesuai dengan ejaan yang disempurnakan, namun juga tidak bisa disebut menggunakan bahasa Jawa.

Ketika berkuliah di Salatiga beberapa tahun yang lalu, sangat sering terdengar ditelinga kata-kata “damana”, “ndek mana”, “ndak isa” dan banyak contoh-contoh lainnya. Sudah sangat popular bagi yang sering menggunakannya, namun untuk yang jarang menggunakan akan terasa sangat asing. Sebagaimana contoh-contoh di atas, penggunaan bahasa campuran dalam komunitas sudah begitu meluas dan digunakan oleh sebagian besar masyarakat.

Beberapa waktu yang lalu, melalui sebuah milis ikatan alumni, ada sebuah postingan lucu, terkait dengan penggunaan bahasa Inggris oleh masyarakat Indonesia.  Berikut contoh beberapa kata yang ditampilkan dalam postingan milis tersebut; tranver vidio, brun, don’t payment, fisiting, thangs, second, pantay; adalah sebagian kecil kekeliruan berbahasa, meskipun demikian dimungkinkan orang telah jelas dan mengerti.

Namun demikian, pakem-pakem berbahasa jangan sampai ditinggalkan. Masing-masing bahasa, entah bahasa Inggirs, Indonesia, Jawa dan bahasa-bahasa yang lain, memiliki aturan-aturan tertentu yang juga telah disepakati. Yang perlu diperhatikan adalah situasi dan kondisi penggunaan bahasa tersebut. Apabila di dalam suatu forum resmi (seminar misalnya), tentu bahasa campuran bin gado-gado, tidak pas digunakan.  Bila dalam pergaulan yang rileks dan kehidupan sehari-hari yang santai, berbahasa campuran adalah sah-sah saja bahkan tidak dilarang. Lebih lagi, penggunaannya tidak dapat terbendung, sehingga diambil sebuah kesimpulan “satu bahasa, bahasa campuran“.

Tags: , , , , , , , ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

One Response to “Satu Bahasa, Bahasa Campuran”

  1. Sable says:

    LMr2E4 Good point. I hadn’t thuohgt about it quite that way. :)

Leave a Reply