Sekilas
Setelah sekian lama terhenti menulis di blog ini, coret-coretan ini sebagai tulisan pertama setelah terhenti hampir satu bulan yang lalu. Tulisan terakhir di blog ini ketika aku mengangkat pengalaman seorang kawan yang lagi putus asa karena diputus oleh pacarnya, yang aku beri tajuk “Cinta di Antara Dua Tuhan“. Melihat sebentar postingan tersebut, dipublished pada tanggal 6 July 2009 pukul 12.31 am. Wow, ternyata tepat sebulan tidak mengupdate website.
Apakah yang terjadi selama sebulan yang telah berlalu ini? Apakah kehabisan ide untuk menulis? Kehilangan semangat untuk menulis? Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, paling tidak dalam seminggu ada postingan baru masuk di website My Hermitage Abode, juga di Kompasiana. Sebulan ini betul-betul mandul, tidak produktif dalam menulis untuk ditampilkan di website.
Sibuk bin busy. Demikian yang bisa menjadi jawaban atas pertanyaan itu. Weitssss, jangan sampai menyalahkan kesibukan. Yang tepat mungkin tidak cukup ada kesempatan untuk menulis di blog. Yang terjadi memang demikian. Selama sebulan ini, kerjaan di kantor Global Research and Intelligence Network sangatlah padat, apalagi untuk sementara waktu harus jadi commuter dari Denpasar-Nusa Dua yang berjarak kurang lebih 30 km. Fokus konsentrasi harus diberikan pada pekerjaan, terutama pada hari Senin hingga Jumat.
Sepulang dari kerja, sebenarnya ada cukup sisa-sisa tenaga untuk menulis, dan biasanya sepulang kerja itulah saat yang enak untuk menulis sambil melihat berita di TV dan serta ditemani oleh segelas kopi Bali. Namun di bulan ini, kegiatan itu tergeser oleh aktivitas lain yaitu bersama Agung kudu mengupdate website Pusat Studi Kawasan Timur Indonesia. Coba deh cek ke website ini dengan klik disini. Cukup lumayan memakan banyak waktu untuk menjadi mengelola website itu. Kemauan untuk menulis tetaplah ada dan tetaplah bersemangat.
Meskipun tidak ada hasil tulisan di website, namun ada hal lain yang dihasilkan, website PSKTI itu salah satunya. Berawal dari website tersebut, aku dan Agung mulai menenun jaring-jaring social capital dengan beberapa pihak. Mengapa bisa terjadi demikian? PSKTI saat ini tengah terlibat dalam Australia-Indonesian Biosecurity Community Management Project. Pada tanggal 13-15 July yang lalu, para peneliti project tersebut berkumpul di Rainforest Villa, Tabanan, Bali. Project tersebut dikomandoi oleh Prof. Ian Falk dari Charles Darwin University, Australia.
Kebetulan aku sudah lama kenal dengan Prof. Ian ketika Ausindo Biocom Workshop di Salatiga tahun lalu tepatnya pada tanggal 18-19 April 2008. Begitu mendengar bahwa akan diadakan workshop di Bali, aku dan Agung meminta untuk bisa hadir di kegiatan tersebut, hanya sebagai observer. Namun sedikit kurang beruntung, karena aku harus bekerja, aku tidak jadi ikut kegiatan tersebut, hanya Agung yang berangkat ke Tabanan.
Tentu jaring-jaring social capital tersebut sangatlah bermanfaat. Banyak diskusi dan ilham yang diperoleh melalui workshop itu. Demikian yang aku simpulkan dari diskusi dengan Agung sepulang dari workshop. Mendengar cerita-cerita yang disampaikannya pun memberikan ilham kepadaku. Pun ketika melihat foto-foto workshop tersebut. Saat aku edit untuk diupload di website PSKTI, betapa kagetnya, ternyata workshop yang aku bayangkan sangatlah formal, berlangsung sangat santai namun tetap serius. Meskipun tidak bertemu dengan semua tim peneliti Ausindo Biocom, namun tetap memberikan kesan.
Perjumpaan
Satu hal yang berkesan selama sebulan ini adalah aku menikmati perjumpaan dengan beberapa orang dan melalui perjumpaan itu memberikan inspirasi dalam hidupku, serta tidak terasa kata “nostalgia” menjadi salah satu kesimpulannya. Bagaimana tidak, bahwa tim PSKTI UKSW yang datang ke Bali mengingatkanku pada kota kecil yang sejuk di Jawa Tengah sana beserta dengan universitas yang ada di kota tersebut, Salatiga.
Pertemuan dengan Pak Marthen, Ibu Helty dan Kak Theo berlangsung pada Minggu malam tanggal 13 Juli 2009. Pesawat dari Jogya mendarat terlambat di Bandara Ngurah Rai, yang semula janjian di Seminyak pada pukul 10.00 WITA namun kudu mundur hingga pukul 00.00 WITA. Setelah membeli nasi campur di Pasar Kuta, ngobrol ringan dilakukan di lobi hotel milik Kak Wayan Ruspendi. Perbincangan mulai dari website PSKTI hingga terkait dengan penelitian. Tidak terasa, hari sudah menjelang pagi yaitu hingga pukul 02.00 WITA. Saatnya istirahat, namun harus menunda sekitar 30 menit karena harus menempuh perjalanan dari Seminyak ke Denpasar.
Senin dan Selasa, seperti yang sudah dijadwalkan, workshop AUSINDO BIOCOM berlangsung di Tabanan. Aku tidak bisa ikut Agung untuk bersama-sama datang ke workshop itu karena harus bekerja. Hanya Senin dan Selasa Malam saja, aku berdiskusi dengan Agung atas apa yang dia pelajari dan dapat melalui workshop. Satu hari kemudian, yaitu hari Rabu, aku dan Agung diajak untuk makan malam oleh Pak Marthen. Rabu itu, sepulang kerja, aku langsung mandi untuk kemudian berangkat ke Hotel Ratu (Queen Hotel) di Denpasar. Dengan naik sepeda motor Honda Grand Astrea yang ku miliki, meluncurlah dari daerah Kesiman ke Hotel Ratu. Sampai disana, ternyata ada Ibu Ruth Wallace, salah satu peneliti AUSINDO BIOCOM dan dosen di Charles Darwin University.
Bermaksud mencari makan malam yang enak. Karena belum jelas tujuannya kemana, akhirnya diputuskan untuk berjalan kaki mencari rumah makan di Denpasar. Keluar dari Hotel Ratu, bergerak menuju Jalan Diponegoro. Dalam perjalanan itu, aku ngobrol dengan Ibu Ruth sambil berjalan di trotoar. Lalu lintas sangat padat malam itu. Ibu Ruth bercerita pengalamannya bahwa sangat sulit menyeberang jalan di Bali. Butuh waktu yang lama untuk bisa menyeberang.
Sudah cukup jauh menyusuri Jalan Diponegoro, namun belum ketemu rumah makan yang hendak dituju. Agung mengajak ke Pasar Badung. Cukup jauh kalau ditempuh dengan jalan kaki. Setelah berdiskusi sebentar, akhirnya diputuskan untuk berputar arah ke Tiara Dewata. Ibu Ruth bercerita pernah ke food court di Tiara Dewata dan masakannya pun enak. Meski jarak yang ditempuh lumayan jauh, namun perjalanan itu terasa menyenangkan. Tidak terasa sampai juga di Tiara Dewata. Sudah tidak tahan dengan rasa lapar yang menyerang bertubi-tubi akhirnya kuserang juga makanan dan minuman yang dipesan oleh Bu Helty dan Pak Marthen.
Moment lain yang ditemui adalah perjumpaan dengan Prof. Ian, atau lebih sering dipanggil dengan Pak Ian. Dalam workshop Ausindo Biocom, Agung mendapat tugas untuk fotocopy buku-buku yang akan dibagikan untuk para peneliti di Ausindo Biocom. Mau tidak mau harus berkoordinasi dengan Pak Ian sebagai project leader, dan mau tidak mau juga harus ke rumah Pak Ian. Selain itu, intensitas pertemuan dengan Pak Ian juga semakin tinggi karena komputer Pak Ian ada masalah. Aku dan Agung mencoba untuk memperbaikinya. CPU dibawa pulang kemudian di format ulang. Tidak hanya CPU, ternyata laptop Pak Ian juga disinyalir terinfeksi banyak virus, oleh sebab itu harus dibersihkan. So, lot of things to do with Pak Ian. Dari pertemuan dengan Pak Ian itulah, terbiasa untuk berbahasa campuran, English campur Indonesia; Indonesia campur English.
Bersambung…….dengan kompilasi cerita “Satu Bahasa, Bahasa Campuran” yang mulai popular.


