Cinta di Antara Dua Tuhan
Baru beberapa hari yang lalu, seorang sahabat merayakan harlah yang ke-27. Tapi sahabatku mengalami kejadian yang bisa dikatakan sangat ironis. Tepat pukul 12.00, ia mendapatkan sebuah hadiah yang mungkin tidak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya. Di satu sisi sahabatku mendapatkan banyak ucapan selamat untuk sekedar melupakan umurnya yang bertambah pendek. Namun, di sisi lain, kekasihnya justru memutuskan cintanya di hari yang sama. Yang membuatku tercengang, mereka sudah hampir 7 tahun saling memadu kasih, mencoba untuk melawan kemunafikan dan egoisme lingkungan dan keluarga dengan latar belakang berbeda suku dan agama. Sekedar untuk informasi, sahabatku itu sudah 2 tahun ini berpacaran jarak jauh, dan terakhir bertemu dengan sang kekasih lebih dari 10 bulan yang lalu. Jadi, keputusan yang diambil oleh cintanya itu, hanya sebatas telepon.
Malam itu akhirnya kami merayakan ulang tahun sahabatku itu dengan dua botol MIX MAX dan satu botol kecil bir Bintang. Sambil menikmati malam, kami pun larut dalam sebuah diskusi menyikapi kejadian yang baru saja ia alami. Ia bertanya kepadaku dengan 2 pertanyaan yang menurutku sangat serius buat orang Indonesia, “Bukankah seharusnya Tuhan itu menyatukan segala umat, mau kaya miskin, tua muda, tanpa memandang agama, suku, ras dan lainnya? Tetapi kenapa, dalam urusan cintaku, Tuhan selalu menjadi semacam tembok tebal penghalang?”
Bak disambar geledek, aku sendiri pun sulit untuk menjawab 2 pertanyaan sahabatku itu. Belum sempat menjawab, kemudian, dia malah menggempurku dengan hujanan pertanyaan lain, “Kenapa keluarga di Indonesia itu begitu egois? Bukankah hidup kami adalah hidup kami, dan bukan hidup mereka?” Dia lalu menambahkan, “Bukankah mereka (keluarganya) yang mengajarkanku untuk bertanggung jawab atas semua yang aku lakukan? Bukankah mereka juga yang mengajariku untuk memiliki prinsip? Salahkah jika aku berprinsip bahwa Tuhan hanya satu tapi karena kebesaranNya banyak orang menyembahnya dengan banyak cara? Lalu, bukankah mereka juga yang mengajarkanku untuk tidak egois terhadap orang lain? Salahkah aku jika aku membenci mereka karena memaksa cintaku yang Katolik untuk jadi Hindu Bali agar sama seperti mereka? Karena jika mereka mengatasnamakan Hindu, sepengetahuanku bukan seperti itu, sebab buat apa lantas Tantular menulis Bhinneka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrua? Salahkah aku jika punya prinsip kalau anak-anakku nanti bebas memilih agama yang mereka yakini, sebab aku berpegang kalau aku hanya bisa mengenalkan mereka kepada Tuhan, atau apapun bentuk, konsep dan teorinya (itupun kalau Dia ada), berbuat baik dengan tidak mengganggu hak orang lain, mengajarkan cinta dan kasih, tanpa harus memaksakan kepada mereka bagaimana caranya mereka akan menyembah dan bersujud atas kebesaranNya?”
Setelah hujaman pertanyaan-pertanyaan itu dilontarkan, akhirnya sahabatku itu malah menyimpulkan sendiri, “Sepertinya sila pertama Pancasila bertentangan dengan pasal 29 UUD 1945. Sebab di Indonesia, Tuhan tidak satu, tapi ada 6, bahkan bisa lebih, hanya saja yang dilindungi oleh Undang-Undang hanya 6, Tuhan orang Islam, Tuhan orang Kristen, Tuhan orang Katolik, Tuhan orang Hindu, Tuhan orang Budha, Tuhan orang Konghuchu. Dan sepertinya buat orang Indonesia, keenam Tuhan itu saling membenci satu sama lain, mengharamkan umat-umatnya untuk saling membangun jalinan keluarga dengan umat dari Tuhan yang berbeda. Lagipula kenapa harus ada ayat-ayat multilevel marketing di setiap agama yang menawarkan umatnya untuk masuk surga dengan menarik umat lain? Sepemahamanku, bahkan mungkin Yesus, ataupun orang suci lainnya dari semua agama yang ada di muka bumi ini, menggunakan ayat tersebut guna mengajak umatnya untuk mewartakan berita Tuhan kepada orang-orang yang belum pernah kenal Tuhan, bukan yang sudah ber-Tuhan untuk berpindah ke lain Tuhan, tentu kalau kita berasumsi bahwa Tuhan ada banyak. Tapi, kalau betul bahwa Tuhan itu Maha Esa seharusnya ayat-ayat itu sudah basi karenanya seluruh pemuka agama di jagad ini harus mulai membuka matanya sebab sebagian besar manusia di dunia ini Berketuhanan, sedangkan sisanya, bukannya tidak Berketuhanan, namun mereka memiliki konsep tersendiri bagaimana dan apa itu Tuhan. Malah terkadang, perilaku orang yang menggemborkan dirinya Berketuhanan (beragama), jauh lebih buruk daripada mereka yang hanya percaya Tuhan (konsep Ketuhanan) namun tidak Berketuhanan (beragama). Disamping itu, jika memang Tuhan itu ada, bukankah yang lebih penting adalah Tuhan dibandingkan agama, sedangkan saat ini kenapa agama menjadi lebih dominan, sedangkan Tuhan tenggelam di dalamnya? Bahkan bisa dikatakan Tuhan tidak lebih sebagai “atas nama” saja.”
Menyikapi pertanyaan-pertanyaan yang membabi buta dan sedikit emosional, serta kesimpulan yang disampaikan oleh sabahatku itu, aku terdiam berpikir sambil menikmati sebotol MIX MAX. Dalam benakku sendiri, aku kebingungan untuk menjawab sebab kalaupun Tuhan yang ku percaya hingga saat ini ada disampingku, Ia sendiri mungkin akan menjadi frustasi untuk menjawabnya. Tentunya kecuali, ada salah satu malaikat yang mengusulkan diadakannya KTT (Konferensi Tingkat Tuhan) khusus membahas permasalahan ini. Kalau dirunut-runut, pertanyaan-pertanyaan sahabatku itu sangat relevan dengan konteks masyarakat Indonesia yang plural. Dalam kasus yang lain, seringkali hal-hal yang ditanyakan oleh sahabatku itu menimpa orang-orang yang ada di bumi Indonesia ini.
Kepada sahabatku, aku katakan untuk tidak patah arang, dan tidak memengaruhi produktivitasnya, karena dari beberapa pengalaman, seseorang bisa menjadi sangat jatuh hingga depresi. Maklum, ada rencana dan cita-cita besar besar yang harus terus direalisasikan. Terkait dengan pertanyaan-pertanyaan yang membabi buta itu, satu hal yang pasti adalah sangat sulit untuk menembus tembok dan sekat tebal yang menghalangi kisah cintanya. Kalaupun itu sampai diterobos, butuh perjuangan maha hebat menembus tembok dogma-dogma agama atau budaya-budaya yang dianut. Tidak hanya itu, kalaupun sampai “nekad” untuk menjalani cinta itu, seperti apakah perasaan dan kesiapan pihak keluarga sebagai suatu lingkungan terdekat yang telah merawat dari kecil hingga dewasa. Dalam hidup mesti harus memilih, dan harus ada yang dikorbankan. Kalaupun sang cintanya lebih menurut kepada perintah orang tua dan keluarga, hendaknya patutlah dihormati dan dihargai. Dan, kalaupun sahabatku itu menjadi “korban” atas pilihan kekasihnya itu, bukan berarti dunia akan berhenti dan berakhir.
Tembok perbedaan agama memang sering menjadi penghalang kisah cinta dua umat manusia. Butuh perjuangan yang hebat menembus tembok penghalang itu. Dalam beberapa kasus, tidak hanya perbedaan agama saja yang bisa menjadi sekat, namun tembok perbedaan suku pun jamak terjadi dan menimpa sejumlah orang. Adakah yang salah jika laki-laki dan perempuan yang berbeda suku bangsa menjadi satu dan menjalani cintanya? Yang dibutuhkan selain perasan saling cinta, juga komitmen untuk saling menghargai, menghormati, bertoleransi dan menerima setiap perbedaan-perbedaan itu. Namun demikian, mungkin keduanya memiliki hal-hal itu, berjanji berkomitmen serta betul-betul saling mencintai, namun belum tentu diterima/direstui secara ikhlas oleh kedua belah pihak keluarga.
Kalaupun kejadian itu sampai menimpa diri ini, memang terasa mudah untuk memberikan nasihat, akan tetapi sangat sulit untuk melakukannya. Paling tidak, ada pelajaran berharga yang diperoleh setelah mengamati dan berdiskusi atas peristiwa yang menimpa sahabatku itu. Menurut sahabatku, cinta harus memiliki dan cinta mesti diperjuangkan. Baginya, kalimat “cinta tidak harus memiliki”, itu hanya untuk orang-orang yang munafik, sebab bagaimana mungkin, jika mereka tidak saling memiliki mereka bisa saling mencintai. Karena, di dalam cinta ada kata saling, entah itu saling memiliki, memberi, menerima, menghargai dan menghormati. Aku setuju hal itu, sebab biasanya, orang-orang yang mengatakan “cinta tidak harus memiliki”, mencari pasangan baru untuk melampiaskan cintanya terhadap kekasih yang tidak bisa ia miliki, dan bagi kami, orang-orang itu adalah orang munafik. Bagaimana mungkin, jika ia masih mencintai seseorang, bisa membohongi dirinya sendiri, dengan “belajar” mencintai pasangannya yang baru. Artinya, kekasih barunya itu harus menerima kenyataan dibohongi seumur hidupnya, karena sebenarnya ia tidak mencintai cintanya yang baru. Betul-betul munafik dan pendosa. Berdosa karena sudah membohongi dirinya sendiri, sekaligus membohongi pasangan barunya seumur hidup.
Akhirnya, pembicaraan itu ditutup dengan sebuah lagu MP3 dari Daniel Bedingfield, tepat pukul 02.30 pagi dan seiring dengan habisnya 2 botol MIX MAX dan sebotol kecil bir bintang.
If you’re not the one
If you’re not the one then why does my soul feel glad today?
If you’re not the one then why does my hand fit yours this way?
If you are not mine then why does your heart return my call?
If you are not mine would I have the strength to stand at all?
I never know what the future brings
But I know you’re here with me now
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with
I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am?
Is there any way that I can stay in your arms?
If I don’t need you then why am I crying on my bed?
If I don’t need you then why does your name resound in my head?
If you’re not for me then why does this distance maim my life?
If you’re not for me then why do I dream of you as my wife?
I don’t know why you’re so far away
But I know that this much is true
We’ll make it through
And I hope you are the one I share my life with
And I wish that you could be the one I die with
And I’m praying you’re the one I build my home with
I hope I love you all my life
I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?
‘Cause I miss you, body and soul so strong that it takes my breath away
And I breathe you into my heart and pray for the strength to stand today
‘Cause I love you, whether it’s wrong or right
And though I can’t be with you tonight
You know my heart is by your side
I don’t wanna run away but I can’t take it, I don’t understand
If I’m not made for you then why does my heart tell me that I am
Is there any way that I can stay in your arms?









tinggal bagaimana membuka pikiran mereka yang merasa beragama untuk lebih menggali konsep ketuhanan itu sendiri
masalah cinta bwakakakaka gue suka gaya loe
Setuju Mas Bowo
Itu berarti Tuhan belum mengijinkan sahabat pak winarto itu untuk menjadi pasangnnya…
TUHANlah yang mengatur segala hal di muka bumi…
mungkin sahabat bapak belum jodoh dengan pasangannya….
maaf kalo salah…
Iya, mungkin belum jodoh meski dah pacaran 7 tahun. Siapa tahu tar baru kenal, malah langsung nikah
perbedaan agama memang sering dijadikan alasan untuk memutuskan suatu hubungan (pacaran) tetapi kembali lagi ke individu yang menjalaninya … seberapa yakin mereka akan hubungan yang mereka bina …..
Tuhan tidak menghalangi, tidak membenci, tidak menyayangi, dan tidak tidak tidak yang lainnya bagi siapapun, kita yang mengekspresikan apa yang Tuhan berikan …. dan Tuhan itu cuma ada satu …
Demikian terima kasih …
*lagi lost focus*
Memang banyak yang menjadikan “Tuhan” sebagai pihak yang dipersalahkan karena menjadi penghalang dalam kisah cintanya, termasuk Sahabat saya ini. Sebenarnya keduanya memiliki komitmen, namun dari pihak keluarga saya kira yang “menentang”.
ini benar2 susah dan super ribet, jangankan beda agama, di Bali beda kasta aja sudah menjadi masalah besar… yang sudah terjadi dan menjadi kepercayaan orang tua dan lingkungan kita memang susah dirubah… tapi jangan sampai nanti kita menyalahkan tuhan…
Karena manusia berada pada sistem dan komunitasnya masing-masing dan di dalam komunitas itu memiliki norma-norma yang berlaku. Jadi, pernikahan beda agama/suku/ras tentu akan memunculkan penolakan dan perlawanan.
I knew a friend, dia seorang Bali dan beragama Hindu, dia memiliki seorang istri beragama Katolik, sampai hari ini pun demikian, kedua-duanya tetap pada agama masing-masing, karena hal yang begitu personal mereka tak bisa saling memaksakan, pun demikian mereka hidup dengan harmonis…
I think when we see that burden hard enough to carry on our life, then let it go…, but only if we see the condition (that condition) as a burden, but if you let go “the condition”…, if you let go “that burden”…, then nothing such a problematic would appear and make you confuse in a deep sorrow. I think as those moments come, we have meet the “unconditional love”, which has been spoken by many religions and its priestes. Even God shall not speak the word of no when the unconditional love appear on earth.
Well, saya rasa itu kembali pada pribadi masing-masing
Benar, kembali ke pribadi masing-masing
umm., di balik badai hujan, telah menunggu mentari yang cerah & indahnya pelangi…
pada akhirnya, semua itu akan berlalu
mirip pengalaman pribadi…, whua… *masuk jurang!
Tapi pelangi hanya sebentar saja lo tampak indah, terus juga akan pudar
hehehehe
I’ve been there… so I guess….. it’s quite…. eerrmm.. confusing.
Seorang “dewasa” tak selaiknya bersikap seperti sahabatmu.Menyalahkan semua yg bisa
disalahkan.Jadi teringat ucapan ibuku’memang keturunane AdamHawa tuh,bisane cuma nyalahke”.Ada benarnya juga.Segala sesuatu sudah diatur secara tepat dan sempurna olehNya,tanpa harus meminta pendapat kita.Mengambil hikmah yang pasti ada dibalik peristiwa ini menjadi PR untuk sahabatmu.BTW1,keadaannya sekarang bagaimana?Masihkah meratapi dan menyalahkan apa dan siapapun?Sabar,nrimo,lihat lebih dalam….
sulit emang yang begituan. jangankan katolik hindu, yang katolik protestan aja ribet nyatukannya huhahahah atau hiks….hiksss…
Hati memang nggak bisa dikendalikan kepada siapa dia jatuh cinta…
bah, mengerikan
Kisah yang menarik. Menurutku permasalahannya hanya satu hal, karena kita mungkin menganggap ada Tuhan A,,b,c,d dan seterusnya maka kita terbelenggu oleh prasangkan diri pada Tuhan. Kita selalu ingin Tuhan mau memahami bahwa Cinta adalah penyatu segala perbedaan manusia, tapi bagaimana kalau sesungguhnya Tuhan Yang Esa menginginkan cinta yang terjalin antara manusia dalam bingkaiNya? Justru manusia lah yang harus berfikir jernih mengapa bisa semua ini terjadi, mengapa Cinta tak pernah bisa menyatukan semua perbedaan. Bukankah jika kita mengenal siapa Tuhan maka kita pun akan paham apa mauNya? Apakah manusia masih mau berkilah bahwa Tuhan berhak terlibat dalam urusan cinta manusia, yang menyatukan atau memisahkan?
Terkadang manusia ini aneh, mereka yang membuat perbedaan, tetapi menyalahkan Tuhan.