You are here: Home > (Not) Daily Stories > Sebuah Pelajaran dari Ahli Tambal Ban

Sebuah Pelajaran dari Ahli Tambal Ban

Kepakaran dan keahlian seseorang, ibarat pedang bermata dua, terkadang bisa memberikan manfaat, namun juga bisa mendatangkan madorot. Paling tidak, itulah yang mencuat dari pengalaman di hari Minggu, 20 Juni 2009. Bersama dengan Agung, ada sebuah rencana untuk pergi ke daerah Kerobokan, dengan mengendarai Vespa yang selama ini dipakai.

Vespa berjalan menyusuri Jalan Noja, Denpasar. Terasa tidak nyaman. Ternyata ban belakang sedikit kempes. Mungkin kurang angin. Mencoba mencari bengkel. Namun, baru ketemu di dekat Jalan Nangka Denpasar. Ada sebuah ban bekas yang ditulisi “Tambal Ban Press”. Lega, karena meski bisa dinaiki sampai tukang tambal ban tersebut, ban belakang itu telah kempes, pertanda bocor.

Setelah berdiskusi sebentar, tukang tambal ban segera bekerja. Namun, pada saat hendak melepas ban tersebut, dia kelihatan sangat kesuliatan melepas ban belakang. Agung mencoba membantu. Untuk melepas ban itu, butuh waktu 20 menit. Dalam hatiku mulai menebak kalau tukang tambal ban itu belum pernah memperbaiki Vespa. Dengan lain kata, tukang tambal tersebut tidak ahli Vespa, namun hanya ahli tambal ban. Untuk menambal ban yang bocor tersebut, tukang itu terlihat sangat cekatan, mahir dan berjalan tanpa hambatan. Tidak terlihat kebingungan ketika melepas ban.

Setelah penambalan selesai, ban tersebut akan dipasang lagi. Kembali, tukang tambal ban tersebut kelihatan bingung, bagaimana cara untuk memasangnya. Hipotesaku semakin kuat manakala melihat tukang tambal tersebut kebingungan memasang ban. Tukang itu hanya jago menambal ban, tidak mahir dalam memasang ban Vespa. Bisa bahaya kalau sampai tukang itu memasang namun tidak kuat, bisa-bisa lepas di jalan. Demikian kira-kira kekhawatiran yang terbersit dipikiran.

Sangat terlihat bingung, dan beberapa kali melakukan kesalahan dalam proses pemasangan. Berulang kali ban itu lepas lagi. Agung mencoba membantu. Kira-kira tiga puluh menit kemudian baru ban itu kembali terpasang dan siap digunakan. Meki telah selesai, namun ada keraguan yang muncul mengenai kehandalan roda ban belakang Vespa itu. Meskipun sempat “ngadat”, karena terjadi banjir di karburasi, namun setelah didorong, akhirnya bisa kelar juga, dan melanjutkan perjalanan ke Kerobokan. Namun, mampir makan malam dulu di daerah Cokroaminoto, Denpasar.

Selesai makan, perjalanan dilanjutkan kembali dengan menyusuri sepanjang jalan Gatot Subroto. Hampir memasuki daerah Kerobokan, ada bunyi-bunyi aneh pada roda belakang. Berharap tidak terjadi apa-apa. Namun, ketika melewati Jalan Raya Banjar Semer, tiba-tiba “Braaaak”, dan ternyata roda belakang telah lepas. Vespa terhenti di tengah jalan. Mau tidak mau, Vespa yang berat itu kudu diangkat dan dibawa ke pinggir jalan. Keraguan akan kehandalan roda belakang itu menjadi kenyataan. Roda belakang telah copot. Celakanya, lokasinya jauh dari rumah Noja. Selain itu, tidak memiliki perlengkapan-perlengkapan bengkel yang memadai. Akhirnya, untuk semalam, Vespa itu ditinggal di sana.

Entah ini hari yang apes, atau hari yang aneh, namun tukang tambal ban itu sepertinya hanya ahli menambal, namun tidak ahli dalam memasang roda belakang Vespa. Kemungkinan, tukang itu belum pernah memperbaiki Vespa, terlihat dari kebingungannya dalam melepas dan memasang roda, sangat lama dan sering melakukan kesalahan. Namun ketika menambal ban yang bocor, dia sangat cekatan dan terampil. Apakah mungkin dengan keahlian dan ketidakahliannya itu hanya untuk mendapatkan uang sepuluh ribu rupiah, namun harus mengorbankan keselamatan konsumennya?

Tags: , , , , , ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

One Response to “Sebuah Pelajaran dari Ahli Tambal Ban”

  1. dian says:

    seorang dpt dinilai dr caranya melihat persoalan yg dihadapinya.

Leave a Reply