My Words as My Mind and Soul

Nanin, demikian nama panggilan Chrisnanin Kusumadewi, teman satu angkatan di Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Beberapa waktu yang lalu mengirim message bahwa hendak pergi ke Bali. Aku memberitahu Agung mengenai hal tersebut. Karena memang semasa kuliah di Satya Wacana Salatiga, kami bisa dikatakan satu genk, yang pasti bukan genk cobra.

Menurut rencana, Nanin akan tiba di Bali pada Minggu 7 Juni 2009 bersama dengan rekan kerjanya. Minggu itu, Agung sudah menelpon Nanin, dan berbicara mengenai rencana bertemu serta jalan-jalan selama di Bali. Akhirnya disepakati bahwa akan bertemu pada hari Senin malam, berlokasi di hotel tempat Nanin menginap din kawasan Jalan Imam Bonjol Denpasar.

Senin Malam

Senin, jarum jam sudah melewati pukul 17.15 WITA. Aku bersiap-siap pulang ke Denpasar, karena sesuai dengan kesepakatan bahwa akan bertemu Nanin di hotel dan muter-muter di sekitar Denpasar. Kendaraan kupacu keluar dari Patra Hotel, melintasi Jalan Raya Kuta, Imam Bonjol, Diponegoro, melewati lapangan Puputan Badung, Jalan Surapati, Jalan Kepundung dan akhirnya ketemu Jalan WR. Supratman. Kalau sudah melalui jalan yang terakhir tadi, berarti sudah hampir tiba di Jalan Noja, Kesiman.

Tiba di rumah waktu sudah menunjukkan hampir pukul 18.00 WITA, terlihat Agung masih sibuk menggerak-gerakkan tangannya di atas mouse laptop di “kantor eksklusifnya“. Beberapa saat kemudian, ada SMS masuk ke handphone. Ternyata dari Nanin. Dia ingin pergi foto-foto di Monumen Bajra Sandhi di daerah Renon, Denpasar. Karena Nanin tidak sendirian, maka perlu dua sepeda motor dan empat helm. Untuk motor sudah ada 2 memang, satu Honda Grand 1996 dan Vespa milik Agung. Namun untuk helm, sepertinya perlu mencari pinjaman dua helm lagi.

Setelah mandi dan berganti pakaian, segera meluncurlah ke hotel dimana Nanin menginap. Hotel tersebut di kawasan Jalan Imam Bonjol, dekat dengan Jalan Thamrin Denpasar. Jalan-jalan di Denpasar masih terlihat sibuk lalu-lalang sepeda motor, taksi, mobil pribadi hingga bus pariwisata. Memasuki bulan Juni ini, memang secara kasat mata terjadi peningkatan jumlah wisatawan ke Bali, baik domestik maupun asing, seiring dengan masa-masa mendekati hari libur.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit, akhirnya sampailah di daerah Jalan Imam Bonjol. Sempat bingung hingga tersesat mencari hotel tempat Nanin menginap. Maklum, nomor-nomor di Jalan Imam Bonjol tersebut tak beraturan. Setelah sempat berputar-putar, akhirnya ketemu juga hotel itu. Ternyata, Nanin dan temennya sudah ada di warung depan hotel. Teman Nanin bernama Lia.

Setelah berbincang-bincang sebentar, akhirnya dengan berboncengan akan berkeliling Denpasar. Karena hari sudah malam, tujuan ke Monumen Bajra Sandhi juga dibatalkan karena sudah gelap, tidak mendukung untuk foto-foto. Pilihan dijatuhkan ke Pasar Kreneng untuk makan malam di sana. Dari jalan Imam Bonjol, bergerak menuju ke Pasar Kreneng, di dekat Jalan Hayam Wuruk Denpasar. Karena bensin motor menipis, aku membelokan motor di Pompa Bensin Kreneng. Menurut petugas di sana, pompa bensin tersebut baru dua minggu dibuka dan difungsikan. Begitu selesai, segera menuju ke Babi Guling Kusumadewi di Pasar Kreneng. Hidangan babi guling pun dipesan. Meski beredar pemberitaan pandemi flu babi, makanan babi guling tetap ramai dicari dan dinikmati.

Setelah kenyang, perjalanan berkeliling Denpasar dimulai lagi. Tujuannya adalah ke Kuta namun sebelumnya akan lewat Renon terlebih dahulu. Di tengah hiruk pikuk Kota Denpasar, dua buah motor melaju dengan kecepatan sedang melalui Jalan Raya Puputan, Renon. Banyak melewati kantor-kantor pemerintahan, karena memang kawasan Renon adalah sentral kantor pemerintah. Kemudian menembus Jalan Jendral Sudirman dan Teuku Umar. Jika sudah melalui jalan tersebut, berarti sama dengan rute yang kutempuh setiap hari kerja.

Masih cukup jauh untuk sampai di Kuta, butuh kira-kira 30 menit lagi. Jika sudah melalui Jalan Teuku Umar, maka giliran Jalan Imam Bonjol yang perlu dilalui. Jarak yang harus ditempuh di jalan tersebut sekitar 3 km untuk sampai di Jalan Raya Kuta. Sangat lancar perjalanan yang dilalui. Kalau pagi atau pulang kerja, jalan sepanjang 3 km itu biasanya macet. Terasa sangat jauh dan melelahkan, demikian kira-kira yang dirasakan Nanin maupun Lia. Mungkin tidak biasa menempuh jarak yang jauh tersebut dengan sepeda motor.

Begitu memasuki Jalan Raya Kuta, berarti tinggal sekitar 10-an menit lagi akan sampai di Kuta. Malam itu mengambil Jalan Patih Jelantik, yang apabila lurus terus akan sampai di Jalan Legian, sebuah area yang sangat dikenal sebagai kampong turis, dan pada tahun 2002 yang lalu terjadi tragedi Bom Bali I di Sari Club dan Paddy’s Club.

Tujuan pertama adalah menuju ke Jalan Werkudara. Disana akan survey hotel yang dimiliki oleh salah satu alumni dari FE UKSW juga. Nanin dan Lia berencana pindah ke Kuta karena akan lebih dengan dengan bandara, selain juga karena di daerah Kuta akan lebih banyak kehidupan dan aktivitas dibandingkan Denpasar. Sampai disana, lanjut menuju resepsionis untuk bertanya mengenai price rate dan kondisi kamar tentunya. Mengenai harga sepertinya tidak masalah, namun mengenai kondisi kamar, sepertinya terlalu menyeramkan untuk Nanin dan Lia. Akhirnya diputuskan untuk mencari alternatif lain di sepanjang jalan Legian.

Tiba di depan Agung Cottage, kedua kendaraan menuju ke tempat parkir dan berhenti di sana. Suasana Agung Cottage sangat menyenangkan. Hening, sepi dan asri karena banyak pepohonan di sana. Di dekat resepsionis terdapat 5 orang perempuan dengan seragam hitam putih dan seorang pria setengah baya duduk di kursi. Sepertinya 5 cewek tersebut adalah siswa sekolah yang tengah magang di sana dan seorang pria setengah baya itu adalah karyawan di Agung Cottage. Nanin bertanya mengenai price rate serta fasilitas yang diterima bila menginap. Nampaknya cukup tertarik, namun tidak langsung booking kamar. Disamping itu juga tidak bisa melihat kamar karena sedang full. Perlu menelpon kembali ke Agung Cottage untuk konfirmasi pada keesokan harinya.

Karena hasil sudah malam, maka diputuskan untuk pulang. Tentu harus ke Jalan Imam Bonjol dulu untuk mengantar Lia dan Nanin. Keluar dari Agung Cottage menyusuri Jalan Legian, melewati Monumen Bom Bali hingga menembus jalan Raya Kuta lagi sampai habis dipotong oleh Sunset Road untuk kemudian masuk Jalan Imam Bonjol Denpasar. Meski telah sampai di Imam Bonjol, butuh waktu sekitar 10-15 menit lagi untuk sampai di hotel tempat Nanin dan Lia menginap.  Jalan tidak begitu ramai, karena sudah malam. Dengan kecepatan sedang, akhirnya 10 menit kemudian sampai juga di hotel.

Lia yang sudah sangat mengantuk pamitan untuk masuk kamar, sedangkan aku, Agung dan Nanin masih ngobrol di lobby hotel serta cigarette  time untuk Agung. Hampir 30 menit di lobby hotel, akhirnya rasa kantuk dan lelah pun menghinggapi. Saatnya pulang ke Noja karena besok harus kerja. Dengan dibayang-bayangi rasa kantuk, motor berjalan pelan melewati Pasar Badung, Lapangan Puputan Badung, Jalan Surapati, Jalan Kepundung dan Jalan WR Supratman. Jalan yang disebutkan terakhir merupakan jalan utama paling akhir yang harus dilewati, untuk kemudian berbelok di Jalan Surabi dan Jalan Noja.

Jam sudah menunjukkan lebih dari pukul 23.00 WITA. Setelah memarkir sepeda motor di depan rumah, segera menuju ke kamar untuk berganti baju dan celana serta membasuh kaki tangan dan muka. Namun sebelum tidur, Agung mengajak minum kopi di kamar. Setelah aku membuat satu gelas kopi, aku menyalakan komputer untuk mengecek email dan buka Facebook. Barangkali ada sesuatu yang penting. Akhirnya, karena sudah terlalu capek, akan lebih enak kalau memejamkan mata dan berbaring agar keesokan harinya kembali fresh.

Selasa Malam: Malam Kedua

Selasa pagi, saatnya beraktivitas kembali. Sebelum mandi, aku ingin menyalakan komputer untuk mendengarkan lagu, juga ingin membuka email. Beberapa email masuk di inbox, dari beberapa teman, milis serta newsletter. Ada yang dibaca dengan cermat, namun ada pula yang hanya dibaca sekilas dan kemudian dihapus. Setelah itu, segera mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Shower dan air yang sangat segar sudah menunggu di sana.

Selesai, segera berganti baju dinas kantor. Setelah semuanya siap, komputer dan lampu kamar aku matikan, kunci pintu kamar, kemudian menuju ke sepeda motor yang terparkir di depan rumah. Para tukang yang sedang membangun sudah mulai bekerja. Beberapa yang ada disana menyapaku. Segera kugenjot sepeda motor itu, dipanasi sebentar, kemudian meluncur ke Patra Hotel. Untuk sampai ke sana membutuhkan waktu sekitar 40 menit. Apabila berangkat dari Denpasar pukul 08.00 WITA maka akan sampai di Patra 08.40 WITA, terkecuali kalau macet, bisa pukul 08.55 baru tiba di Patra Hotel. Kemacetan terjadi biasanya di Jalan Imam Bonjol. Begitu sampai di kantor, berarti saatnya fokus pada setiap pekerjaan mulai dari jam 09.00 WITA sampai dengan 17.00 WITA.

Menjelang pukul 17.00 WITA, SMS masuk ke inbox. Ternyata dari Nanin. Dia mau ketemuan di Pantai Kuta setelah aku pulang kerja. Pukul 17.30 WITA, aku menutup laptop dan bersiap-siap untuk ke Kuta. Setelah menutup pintu kantor, bersama sepeda motor Hondaku, meluncur ke arah Pantai Kuta. Kalau sore seperti ini biasanya sangat ramai karena banyak wisatawan yang ingin menyaksikan sunset di Pantai Kuta. Aku juga kirim SMS ke Agung bahwa akan ketemuan di Pantai Kuta.

Karena merasa haus, berhenti dulu di sebuah warung dan memesan kopi serta makan makanan kecil sambil menikmati orang maupun kendaraan yang berlalu lalang di depan Jalan Dewi Sartika. Sementara itu pelan tapi pasti, matahari terbenam. Hari sudah mulai gelap. Nanin kirim message bahwa sedang dalam perjalanan ke Pantai Kuta. Bergegas menuju ke Pantai Kuta. Sepanjang jalan Kartika Plaza sangat ramai, bahkan hingga Jalan Pantai Kuta. Ramai oleh para pejalan kaki, sepeda motor mobil sampai dengan pedagang bahkan ada anak-anak kecil yang menengadahkan tangan ke para turis.

Hampir mendekati pantai, Nanin sms lagi bahwa dia dan Lia mampir dulu ke KFC karena lapar. Kebetulan aku pas melintas di depan KFC dan melihat Nanin di dalam. Namun aku berjalan terus dan berhenti di depan gerbang masuk Pantai Kuta. Di tepi pantai sudah sangat gelap dan sepi, meskipun ada beberapa orang yang yang terlihat masih duduk di pinggir pantai. Karena posisi tidak strategis, aku bergerak memarkir sepeda motor di depan Pizza Hut. Sambil menunggu Nanin, Agung dan Lia, aku bergerak masuk ke Pantai Kuta dan duduk di tepi pantai.

Suara ombak terdengar sangat bergemuruh, sesekali terliat pula pesawat terbang yang landing di Bandara Ngurah Rai. Beberapa saat kemudian, handphone bergetar. Ternyata Nanin sudah berjalan menuju Pantai Kuta. Aku berdiri dan menuju ke jalan raya di depan Mercure, dekat Pizza Hut. Dari seberang sudah kelihatan Nanin dan Lia. Mereka kemudian menyeberang jalan dan ingin masuk ke pantai.  Bertiga menuju ke pinggir pantai dan duduk di pasir pantai, sambil menunggu Agung. Aku bermain-main dengan membuat gunung pasir.

Gunung pasir sudah meninggi. Agung belum juga datang. Namun beberapa saat kemudian, Nanin mengangkat telepon. Ternyata dari Agung. Ternyata dia sudah ada di sekitar Pantai Kuta juga. Namun karena gelap tidak bisa mengetahui dimana lokasi kami duduk. Aku coba membantu dengan menyorotkan lampu senter yang ada di handphoneku sebagai tanda lokasi duduk. Ternyata sangat membantu dan akhirnya ketemu juga.

Berempat duduk dan ngobrol ringan, terutama mengenai rencana jalan-jalan di Bali untuk keesokan harinya. Agung bersedia menjadi guide untuk Nanin dan Lia. Aku tidak bisa ikut karena harus masuk kerja. Rencana awal ingin menyewa sepeda motor dan Agung akan menggunakan vespa. Akan tetapi setelah ditimbang-timbang lebih enak kalau menyewa mobil, Karimun atau Katana, karena hanya digunakan oleh 3 orang. Disamping itu, karena  ada rencana untuk berbelanja di Pasar Sukowati, tentu akan lebih efektif jika menggunakan mobil untuk mengangkut barang-batang belanjaan ketimbang menggunakan sepeda motor.

Karena juga ingin tahu Garuda Wisnu Kencana, malam ini berempat ingin pergi ke sana. Namun sebelumnya kudu kembali ke hotel untuk meminjam helm. Hotel tempat menginap Nanin dan Lia berada di Kawasan Legian, di Agung Cottage tepatnya. Setelah berupaya keras, akhirnya dapat juga helm pinjaman dari security hotel. Awalnya akan meminjam di resepsionis, namun ada syarat sebelum jam 22.30 harus sudah kembali sebab akan ada pergantian shift jaga. Oleh karena tidak ada kepastian pulang jam berapa, maka mencoba untuk meminjam di tempat lain. Akhirnya, keamanan hotel memberikan pinjaman helm, meski agak kotor karena jarang dipakai, namun bisa dibersihkan.

Perjalanan ke Garuda Wisnu Kencana akan memakan sekitar 25 menit. Menyusuri sepanjang jalan Legian, terlihat banyak turis asing maupun dalam negeri yang mondar-mandir, menambah keramaian kampung turis itu. Demikian juga ketika melintas di Monumen Bom Bali, banyak wisatawan yang berpose di sana, membaca tulisan-tulisan di monumen atau hanya sekedar duduk di sekitaran monumen peringatan bom Bali I itu. Keluar dari Jalan Legian terlihat ada kemacetan di Jalan Raya Kuta, namun tidak sampai parah. Hanya perlu kesabaran karena sepeda motor perlu berjalan pelan-pelan. Akan tetapi, begitu berbelok di Puskesmas Kuta, perjalanan kembali menjadi lancar.

Tadi ketika di Agung Cottage, Agung mengatakan padaku bahwa nanti perlu berhenti di pompa bensin untuk mengisi tanki vespanya. Akupun mengatakan hal yang sama. Jarum tanda petunjuk isi tanki bensin sudah berada di warna merah. Namun, hingga Jalan Raya Tuban bahkan telah memasuk Jalan Bypass Ngurah Rai, pompa bensin belum ketemu juga. Jangan sampai kehabisan bensin di jalan. Bisa mendorong motor nanti. Namun, tidak berapa lama kemudian, terlihat pompa bensin di depan. Horaiii. Tidak jadi mendorong motor. Begitu sampai di SPBU itu, langsung menuju ke antrian.

Selesai mengisi bensin, perjalanan dilanjutkan. Dari by Pass Ngurah Rai, berbelok ke arah kampus UNUD Bukit Jimbaran. Jalan terlihat sedikit gelap. Harus berhati-hati pula karena jalan ada yang rusak, selain itu jalan yang dilalui naik turun juga, namanya juga bukit. Sepeda motorku dan Vespa Agung sedikit kesulitan ketika harus melalui jalan yang menanjak. Setalah harus bersabar melintas di jalan yang sedikit gelap dan naik turun, akhirnya sampai juga di Jalan Raya Uluwatu. Agung sempat salah ambil jalan sehingga harus berbalik arah. Dia mengambil jalan kembali ke Jimbaran, bukannya menuju ke Garuda Wisnu Kencana. Tidak berapa lama, sampai juga di Garuda Wisnu Kencana. Memasuki wilayah yang terlihat sangat megah.

Untuk masuk ke Garuda Wisnu Kencana, per orang kudu membayar tiket masuk Rp 20.000 per orang. Namun karena sudah malam dan terlihat banyak yang masuk tanpa tiket, terjadilah negosiasi antara Nanin, Agung dan petugas jaga, dengan maksud untuk  meminta diskon. Diskusi terlihat sangat seru. Akhirnya, petugas meluluh dengan mengizinkan masuk ke Kawasan Garuda Wisnu Kencana hanya dengan membeli dua tiket. Begitu beres, akhirnya perjalanan dilanjutkan ke parking area. Dalam perjalanan menuju kesana, meskipun terlihat gelap, nampak bangunan-bangunan megah. Kalau boleh dikatakan, perpaduan antara modal (baca: uang) dengan kreatifitas dan keahlianlah yang bisa membuat bangunan di Garuda Wisnu Kencana sangat menakjubkan.

Memasuki pintu gerbang, petugas penjaga tiket sempat menghalangi  masuk karena hanya menggunakan tiket. Dia menghendaki satu tiket untuk satu orang. Biarlah Nanin dan Lia yang masuk ke dalam, sedangkan Agung dan aku di luar, begitu yang aku diskusikan dengan Agung. Namun, kendala yang dihadapi adalah tidak ada yang diminta tolong sebagai pengambil foto, selain itu area GWK juga telah sepi dan sedikit remang-remang. Akhirnya, terjadi lagi negosisasi dengan petugas jaga. Petugas tiket itu tidak berani kalau hanya dengan 2 tiket karena masih ada bos yang mengawasi. Namun, setelah didesak akhirnya dia minta tambahan uang apabila ingin 4 orang itu masuk dengan menggunakan 2 tiket saja. Setelah melalui negosiasi, akhirnyaku, Agung, Nanin dan Lia bisa masukke Garuda Wisnu Kencana. Sangat sepi, karena hanya ada 4 orang pengunjung dan beberapa orang petugas.

Dengan berjalan kaki dan menaiki puluhan anak tangga, berempat menuju ke Patung Wisnu, dengan maksud untuk foto-foto. Begitu sampai disana, karena sudah tidak tahan, aksi berfoto-foto ria pun dilakukan. Agak jelek hasil fotonya, karena pencahayaan yang kurang. Tiba-tiba muncul peetugas tiket yang tadi diajak negosisasi. Hanya mengecek keadaanya katanya. Akhirnya dia ikut serta dan menjadi guide untuk berkeliling di kawasan GWK, malah dia diminta tolong untuk mengambil foto di bawah patung garuda yang sangat besar. Menakjubkan sekali memang ukirannya. Perjalanan dilanjutkan ke lokasi dimana tahun lalu sebagai lokasi pembukaan Asian Beach Games. Lokasi yang tepat untuk foto-foto lagi.

Setelah berfoto-foto di beberapa tempat di Garuda Wisnu Kencana, karena sudah malam, saatnya untuk turun bukit, kembali ke Kuta. Sebenarnya belum begitu puas jalan-jalan dan foto-foto di sana. Foto-foto hasil jepretan malam itu kurang sempurna. Selain itu belum semua area GWK dikunjungi dan dijadikan background foto. Namun, foto-foto yang sudah diambil paling tidak mewakili keseluruhan tempat di GWK dan minimal sudah pernah berkeliling di GWK.

Berempat menuju ke parkir sepeda motor. Sudah sangat sepi, tinggal beberapa petugas yang terlihat bercakap-cakap. Aku dan Agung menggenjot sepeda motor masing-masing, diikuti oleh Nanin dan Lia yang membonceng. Pelan-pelan menyusuri jalan di GWK yang menurun sambil menikmati pemandangan lampu-lampu di daerah Kuta dan Jimbaran yang terlihat sangat elok.

Jalan untuk pulang tidak melalui kampus UNUD Bukit Jimbaran, namun melalui Jalan yang langsung menembus ke arah Pantai Jimbaran dan akhirnya sampai di By Pass Ngurah Rai. Perjalanan pulang lebih cepat ketimbang berangkat karena jalanan yang menurun. Sempat kehilangan jejak Agung karena dia berada jauh di depan. Sampai di pertigaan dekat Jalan Raya Tuban, ternyata dia berhenti di lampu merah, karena memang lampu berwarna merah. Agung mau berbelok menuju Jalan Raya Tuban. Namun aku terlanjur jalan terus ke arah Bandara Ngurah Rai, karena ketika berada di GWK tadi hanya janjian akan makan di Kuta.

Handphone pun dimainkan, dan sepakat akan bertemu di depan Joger. Aku pun berbalik arah, menuju ke Joger di Jalan Raya Tuban. Setelah beberapa saat, hampir tiba di depan Joger. Ternyata Agung kebablasan beberapa meter dari Joger, hingga akhirnya mengirim pesan akan bertemu di depan Supernova. Sesampai di depan Supernova, segera menuju ke Pasar Kuta yang tidak jauh dari Supernova untuk makan. Akibat telah menempuh perjalanan yang jauh dan berjalan yang cukup membuat kaki pegal, kini rasa lapar telah menyerang.

Rencana mau makan nasi pedas. Namun karena beberapa warung nasi pedas sangat ramai, akhirnya dipilihlah warung nasi campur. Disampingnya juga ada warung soto. Aku, Lia dan Agung memilih makan nasi campur dengan ditemani Teh Botol Sosro, sedangkan Nanin memesan soto. Sambil makan, sambil bercakap-cakap santai. Semua kenyang, saatnya kembali pulang. Sebelumnya tentu mengantar Nanin dan Lia ke Agung Cottage di Jalan Legian. Jalan jalan yang dilalui telah sepi. Mulai dari Jalan Raya Kuta, Jalan Majapahit dan Jalan Patih Jelantik. Namun, begitu menembus Jalan Legian, suasana gegap gembira terdengar disepanjang jalan itu. Sangat ramai oleh live music atau suara musik jedag-jedug yang diatur oleh DJ pada beberapa kafe. Pengunjung disana ada yang hanya duduk-duduk sambil minum bir, ada pula yang ikut menari-nari seirama dengan musik yang diputar.

Sampai juga di Agung Cottage. Vespa dan motor diparkir disamping pos security. Sebelum pulang ingin membicarakan mengenai rencana Nanin, Agung dan Lia untuk tour keliling Bali. Nanin mengambil beberapa brosur yang berisi informasi pariwisata Bali di Tourism Information Centre yang terletak di samping resepsionis.  Untuk memperkaya informasi, Nanin pun membuka laptop dan menghubungkannya dengan internet untuk mencari informasi pariwisata Bali terutama peta wisata Bali. Dalam perbincangan itu pula untuk perjalanan besok itu, mereka akan menyewa satu mobil, entah Katana atau Karimun. Cukup murah harga sewa mobil setelah membuka informasi harga di internet. Selain itu juga lebih efektif menyewa mobil daripada menyewa sepeda motor.

Untuk driver dan guide sudah ada, tidak lain dan tidak bukan adalah I Putu Tirta Agung Setiawan. Dia sudah siap mengantar dan memandu Nanin dan Lia, meskipun belum khatam dengan jalan-jalan di Bali. Namun bukan menjadi suatu masalah, selama membawa peta Bali, google maps, atau bisa juga bertanya pada orang-orang, apabila sampai tersesat nantinya. Untuk mobil besok pagi aku akan menghubungi beberapa orang yang aku kenal untuk bertanya mengenai harga sewa mobil Karimun atau Katana. Agung menyuruh menelpon malam itu juga namun rasanya sudah tidak mungkin karena waktu sudah menunjukkan hampir pukul 00.00 WITA. Akan sangat mengganggu, meskipun terkait dengan bisnis.

Setelah arah dan tujuan tour jelas, demikian juga dengan mobil (meskipun masih besok pagi akan mencari), akhirnya aku dan Agung pulang ke Denpasar dengan berboncengan naik motorku, sedangkan vespa di tinggal di hotel. Aku berada di belakang, sedangkan Agung yang mengendarai. Aku sudah sangat pegal dan capek. Rasanya ingin segera sampai di rumah, namun masih perlu 40 menit lagi untuk sampai di Noja. Sesampai di rumah, sepeda motor diparkir di depan rumah. Para tukang yang membangun hotel sudah terlelap dalam tidur. Segera kuambil handuk dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Setelah mandi, badan menjadi segar. Sebelum tidur, kubuka internet sebentar untuk mengecek email dan menonton berita melalui TV tuner.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 01.00 lebih. Namun rasa kantuk sudah tak tertahan. Terima kasih Tuhan untuk hari yang telah kau beri untukku. Kupejamkan mata hanya untuk beberapa jam, tetap izinkan matahari pagi terbit, bersinar dan terbenam kembali.


6 Comments to “Perjalanan Dua Malam”

  1. Jalan-jalan terus sam

  2. Winarto says:

    Yo mes to thi thi

  3. Nanin says:

    Wah winnn….Luar Biasa…Thanks ya udah di ajak muter2…Hehehehehee….

  4. Winarto says:

    @Nanin: Yang ngajak muter-muter kan Agung, mpe pegel tu kakinya, hehehehehehehehehe
    Jangan kapok ke Bali, kalau resepsi nikah atau honeymoon ke Bali aja, tar kita-kita yang jadi EO :-)

  5. Winarto says:

    @Nanin: Salam untuk semua orang Jakarta

  6. Stevanus says:

    Pak minta informasi kl misalnya jalan dari Joger, raya kuta trus ke jalan Teuku umar itu brp kilometer? Kl normal brp lama waktu perjalanannya?
    Trima kasih yah, Pak.

Leave a Reply