Berpendapat, Menulis dan Sistem Pendidikan
Mencermati thread tulisan yang terdapat pada Forum Halaman Kampus oleh Yodie Hardiyan (28/4), Hadziq Jauhary (4/4) dan Achmad Choirudin (11/4), sepertinya masih relevan untuk memberikan pandangan yang lebih luas mengenai diskusi yang menyoroti permasalahan kehidupan kemahasiswaan, kuliah dan menulis.
Pembahasan didasari oleh kehidupan mahasiswa dan perkuliahan yang begitu dekat dengan atmosfer ilmiah, seperti diskusi, debat, membaca, hingga menuangkan gagasan/ide dalam sebuah tulisan. Sorotan, pembahasan dan argumentasi yang tajam telah dikemukaan oleh rekan-rekan di atas terutama mengenai aspek kehidupan tulis menulis di kalangan mahasiswa.
Secara sederhana, menulis merupakan ungkapan ide/gagasan yang ada didalam pikiran untuk kemudian dibaca oleh khalayak ramai, dikritik sampai didiskusikan. Seperti itulah bangunan pemikiran/ilmu yang selama ini berkembang di dunia. Sebuah gagasan/ide akan berkembang dan makin kokoh manakala terjadi diskusi atas argumen-argumen yang mendukungnya, meskipun argumen yang disampaikan saling bertolak belakang/paradoks.
Ketika kembali persoalan kehidupan kuliah dan bermahasiswa, terutama dikaitkan dengan budaya tulis-menulis, makalah untuk tugas perkuliahan sampai dengan skripsi yang dibuat oleh mahasiswa bisa timbul karena ada faktor pendorongnya. Tulisan dalam bentuk makalah, paper atau skripsi tersebut lahir karena adanya “desakan” dan tuntutan kuliah. Tuntutan tugas dari dosen yang “mendesak” mahasiswa untuk akhirnya menulis.
Dilihat dari prosesnya, berdasarkan pengalaman yang dilihat, pembuatan makalah untuk tugas tersebut kebanyakan hanyalah copy paste dari makalah lain, tentu dengan memerhatikan koherensi dan keterkaitan dengan topik yang dibuat. Masih terdapat kekurangan dalam olah pikir terhadap gagasan yang dituangkan.
Selain itu, makalah/paper yang disajikan oleh karena untuk memenuhi tugas matakuliah biasanya memiliki reader yang terbatas, kebanyakan malah hanya dosen saja yang menjadi pembaca. Kualitas makalah/tulisan tersebut akan terlihat kalau dipresentasikan dan didiskusikan di dalam kelas. Karena dari sanalah akan teruji dan terjadi diskusi yang akan memperkaya informasi dan pengetahuan melalui argumentasi-argumentasi yang dilontarkan.
Akan tetapi, di sanalah kelemahan yang terjadi selama ini.Atmosfer akademik melalui diskusi, berpendapat, menulis masih sangat minim dilakukan. Sistem pendidikan yang diberlakukan, telah membelenggu peserta didik untuk enggan, bahkan malu untuk mengungkapkan pendapat baik secara tertulis maupun lisan.
Sejak pendidikan dasar, peserta didik di Indonesia, telah dibiasakan untuk bersikap pasif dalam belajar. Di sekolah hanya terjadi komunikasi satu arah oleh pengajar dan sangat kurang ruang untuk berpendapat atau menuangkan gagasan. Secara terus menerus, budaya tersebut terpupuk dan akhirnya tertanam dalam diri peserta didik,bahkan hingga pendidikan tinggi.
Seperti yang diutarakan oleh Achmad Choirudin, bahkan dalam menulis diperlukan penalaran yang logis dengan didukung oleh data maupun argumentasi. Namun, sistem pendidikan di Indonesia kurang memberikan pelajaran yang melatih penalaran peserta didiknya. Yang terjadi adalah proses penghafalan buku-buku literatur, atau paling tidak catatan yang telah dirangkum oleh pengajar. Pengukuran keberhasilan pun (baca: tes) diberikan untuk mengukur kemampuan peserta didik dalam menghafal suatu mata pelajaran bahkan tinggal memilih pilihan ganda; kurang dilatih untuk mengungkapkan pendapat/menjawab persoalan-persoalan essay yang bisa memiliki jawaban yang sangat kompleks, tidak sekedar jawaban hafalan atau pilihan ganda.
Memang tidak bisa “digebyah uyah”, namun itulah yang terjadi secara umum. Proses pendidikan yang seperti itulah yang akhirnya membelenggu dan menghalangi mahasiswa untuk berpendapat, berpikir, berdiskusi atau menghasilkan tulisan yang kritis. Kalaupun telah dibuka ruang untuk berpendapat melalui lisan/tulisan, pasti masih terdapat rasa ketakutan maupun keraguan yang dirasakan oleh beberapa kalangan mahasiswa. Tentu itu akan dapat dieliminir, apabila mereka memiliki keberanian untuk mengungkapkan pendapat dan mau belajar dari kesalahan-kesalahan. Bahwasanya sangat wajar apabila dalam proses belajar melakukan kesalahan.
Dalam kaitannya dengan kegiatan tulis menulis, “learning by doing” dan tidak berhenti latihan menulis adalah salah satu solusi untuk menggairahkan atmosfer menulis, di kalangan mahasiswa khususnya, baik yang ditujukan untuk tulisan akademik maupun tulisan di media massa. Selain itu, banyak membaca, berpartisipasi dalam diskusi-diskusi seyogyanya menjadi “daily food” yang tentunya bisa memerkaya pengetahuan dan informasi serta melatih keberanian untuk berpikir, berpendapat dan berbicara yang logis.
Terakhir, tentu media-media teknologi informasi yang selama ini telah berkembang pesat seperti internet, website, blog dan media-media serupa, dapat menjadi sebuah sarana untuk meningkatkan kemampuan menulis. Dengan saling berdiskusi, saling berkomentar dan menulis di website/blog pribadi, dapat memertajam kemampuan menulis. Untuk selanjutnya, tinggal keberanian untuk melangkah.









Semangat Win!
Teruskan!
@Sunny Batubara: Ok Mas Sunny
Wah tulisannya berat2 juga Mas.
Jadi habis baca saya koq malah mikir ya? Hehehehehe….
Ini pendapat pribadi, tulisan yang enak dan membuat saya betah membacanya sih tulisan yang padat isinya tapi disajikan dengan cara yang ringan.
Tulisan2 yang saya suka seperti tulisannya Hermawan Kartajaya.
Tulisan ringan, disertai banyak contoh kasus (bukan teori), tapi isinya padat.
Salam,
Didi
@Dek Didi: Thanks Dek Didi untuk komentarnya. Bagaimana pengalaman untuk ketika membuat sebuah tulisan? sudahkan seperti Hermawan Kertajaya? hehehehe
Dear Mas Win,
Website baru yah?! Wah, pasti web ini sebentar lagi akan diisi tulisan2 mantap dari seorang alumni FE UKSW yang top markotop, hehehe! Kabarku baek, Mas Win piye? Udah nikah sama bule atau perempuan Bali? hehehe
Kembali ke laptop. Mas, mungkin akan lebih menyenangkan dan seru, apabila Mas Win ikut berbagi gagasan untuk FHK di SM. Apalagi kolom itu terbuka untuk penulis lepas, dosen, mahasiswa, alumni kampus, bahkan preman kampus sekalipun.
Mungkin lagi, Mas Win bisa kaitkan perihal “menulis” dengan sistem pendidikan yang seperti disebut tulisan di atas sebagai: “kurang memberikan pelajaran yang melatih penalaran peserta didiknya”. Mas Win kan pernah nulis soal “pelacuran intelektual” (hahaha?) skripsi di e-time. Kalau kata seorang dosen di UKSW, hal seperti itu adalah banalitas paradigma mahasiswa. Yah, setidaknya Mas Win sudah dapat bingkai menulisnya lah.
Aku prediksi, kalau tulisan Mas Win dimuat, bakal ada ketidakpuasan pendapat (dan kritik!) dengan menggunakan artikel seperti waktu aku nulis di FHK dulu. Melalui proses kritik itu, aku rasa, meski bisa saja hanya sedikit, pasti ada pemahaman-pemahaman baru yang muncul yang berguna bagi penulis dan pembaca FHK.
Oce? Kan kata Mas Win: “untuk selanjutnya, tinggal keberanian untuk melangkah.”
Sangat yakin, seorang Winarto sangatlah berani untuk melangkah!
Thanks Yod semangatnya, hehehehe
Siapa takut
@Winarto: Boy, buka Facebook mu
@Winarto:
wah kalo saya mah bukan penulis bro…
cuma bisa menikmati tulisan saja. mungkin otak juga gak mempan sama tulisan yang berat-berat…hehehehehe…
makanya lebih suka sama tulisan yang disajikan dengan cara sederhana, baik kata2 maupun idiom2nya…
keep writing…
@Dek Didi: Ok thanks, saya juga baru belajar kok,semangat