Persaingan selalu ada dalam kehidupan sehari-hari. Kompetisi tidak bisa dilepaskan dan selalu terkait erat dengan aspek-aspek yang dikerjakan oleh umat manusia, seperti bidang ekonomi, bisnis, politik, olahraga dan lain sebagainya. Pada dasarnya semua orang berusaha untuk menjadi pemenang atas kompetisi yang dijalani. Segala macam daya, upaya dan usaha dikerahkan untuk menjadi pemenang.
Sebuah pelajaran yang menarik dan seringkali diucapkan adalah “kecap itu selalu nomor satu”, bahkan kecap yang bermerek tidak dikenalpun selalu memasang motto “kecap nomor satu”. Klain berada di peringkat pertama, teratas, terbaik atau ter- yang lain, memanglah sangat mudah ditemui dengan bermacam-macam model, bentuk dan variasinya.
Apapun klaim, slogan, motto dan jargon, semua didasari motivasi untuk menjadi pemenang mengalahkan kompetitornya. Namun demikian, meskipun pada akhirnya tidak berada diperingkat pertama, tentu setelah melalui proses penilaian, tetap saja nomor satu itu terus melekat. Contoh sederhana dialami beberapa hari yang lalu ketika membeli semangkok bakso pada salah satu warung di Bali. Tentu, bakso akan enak kalau dibumbui dengan kecap. Motto “Kecap nomor satu” tertulis jelas pada etiket botol kecap tersebut. Dari sekian banyak merek kecap yang ada, tentu ada yang benar-benar nomor satu, apabila dilakukan penilaian dan pengukuran.
Dalam setiap iklan, spanduk dan media-media yang digunakan, keunggulan produk yang ditawarkan selalu dikedepankan. Dengan berbagai jalan dan variasi, inti yang ingin diraih adalah menjadi nomor satu, dan tidak ingin dikalahkan. Keunggulan produk tersebut ditampilkan untuk membentuk dan membangun opini, pada akhirnya hendak menguasai alam pikir manusia. Oleh sebab itu, alam pikir manusia selalu dipenuhi pertempuran slogan-slogan tersebut, yang secara langsung ataupun tidak langsung memengaruhi pada saat memilih.
Slogan, motto, jargon atau simbol-simbol yang ditampilkan itu memang penting, namun yang lebih perlu didahulukan adalah kualitas atas produknya. Mengumbar janji-janji melalui iklan dan slogan itu memanglah mudah, namun memenuhi janji-janji yang ditawarkan itu yang tidak mudah, apalagi mempertahankannya.
Masyarakat semakin cerdas dalam menilai kualitas suatu produk, ini tentu akan memengaruhinya dalam memilih dan pasca memilih. Janji-janji yang diucapkan dan diiklankan akan menciptakan reaksi, entah janji-janji yang ditawarkan dipenuhi atau tidak dipenuhi. Bila janji-janji dalam slogan/iklan tersebut dipenuhi tentu ada kesempatan terjadinya hubungan jangka panjang antar keduanya, namun sebaliknya jika slogan-slogan tersebut hanyalah isapan jempol, maka dapat dipastikan hubungan antar keduanya tidak akan berlangsung lama. Reaksi yang positif tersebut perlu dijaga dan dipelihara, sebaliknya apabila terjadi reaksi yang negatif perlu segera dilakukan perbaikan, apabila tidak dilakukan berarti tinggal menunggu hilang dari peredaran.
Baca juga di Kompasiana


