Pindah….Pindah….Pindah
Minggu pagi, di hari terakhir bulan Mei. Alarm handphone berbunyi pada pukul 05.30 WITA. Tidak hari libur, tidak hari kerja, alarm tersebut setia membangunkanku dari tidur lelap, meskipun mata masih terasa sangat berat untuk dibuka, namun harus dibuka dan bangun dan melakukan aktivitas.
Minggu pagi ini tidak seperti minggu-minggu sebelumnya. Ada sesuatu yang spesial. Hari ini rencana mau pindah kamar, lebih tepatnya pindah rumah. Kamar yang selama ini ditempati “tergusur” oleh pembangunan hotel. Ya begitulah kira-kira. Selama di Bali, aku menumpang di rumah Agung di kawasan Jalan Noja I no. 6, Denpasar Timur. Di pekarangan yang luas itu terdapat 3 rumah dan lahan kosong di belakang. Rencananya rumah tersebut akan di bangun sebuah hotel. Secara bertahap, pembangunan akan dimulai dari lahan kosong di belakang dan rumah yang aku tempati bersama Agung di bagian tengah, sementara rumah di bagian depan akan dihancurkan dan dibangun kemudian.
Selama pengerjaan tersebut, aku dan Agung akan menempati rumah yang berada di bagian samping lahan kosong, yang terlebih dulu telah dipugar dan dipercantik. Sebenarnya rencana pindah rumah ini sudah diwacanakan sejak bulan lalu, namun karena proses mempercantik rumah yang bakal ditempati belum selesai akhirnya masih tertunda. Juga karena informasi dari sang mandor yang dinilai tidak konsisten mengenai kepastian kapan harus pindah.
Akhirnya diputuskan bahwa aku dan Agung akan pindah ke rumah samping pada hari Minggu, hari terakhir di bulan Mei 2009, pas ketika aku libur. Sebagai implikasinya, aku harus bergereja pagi di Kebaktian Umum I di Representative Christ of Kingdom, di Jalan Nangka Denpasar. Biasanya aku bergereja Kebaktian Umum II pada pukul 10.00 WITA. Namun, khusus hari ini berkebaktian pukul 07.00 WITA. Oleh sebab itu, jam 06.45 aku berangkat dari Noja.
Pulang bergereja, waktu menunjukkan pukul 09.15 WITA. Sebelum pindahan, sarapan dulu di Warung Ijo, letaknya masih di sepanjang jalan Noja. Menikmati sayur lodeh, telur ceplok dan tahu goreng, dengan ditemani es teh. Persiapan energy untuk angkat perabotan rumah. Pulang dari Warung Ijo, Mas Permadi sudah ada di Noja. Untuk proses pindahan tersebut membutuhkan tambahan tenaga,oleh sebab itu meminta bantuan Mas Permadi, yang jauh-jauh dari Kuta ke Denpasar.
Tahapan pertama adalah membersihkan rumah yang akan ditempati, terutama kamar-kamarnya. Tukang-tukang yang semula menempati rumah tersebut sedikit terkaget-kaget. Sepertinya tidak ada pemberitahuan dari sang mandor. Tapi apa mau dikata, harus tetap digusur. Terpaksa mereka menempati bagian luar rumah tersebut.
Secara total ada 5 kamar di rumah itu. Aku, Agung dan Mas Permadi membersihkan 2 kamar saja. Agung memilih kamar di bagian depan sedangkan aku di kamar bagian belakang. Sisa kamar akan digunakan oleh Mbak Luh, Wi Agus dan Om Kardana. Di masing-masing kamar sudah ada ranjang tanpa kasur sebenarnya, namun karena dianggap terlalu memakan tempat, akhirnya ranjang-ranjang dikeluarkan dari kamar yang akan dipakai.
Cukup berat ternyata ranjang-ranjang itu. Harus dilepas rakitannya untuk mempermudah ranjang tersebut dikeluarkan. Untung ada Pak Eka, salah seorang tukang, yang membantu. Jadi, lumayan lebih cepat selesai untuk mengeluarkannya dari kamar. Tahap selanjutnya adalah menyapu lantai di sana. Meskipun berkeramik, namun karena masih baru dalam proses renovasi, lantainya masih berdebu. Agung, aku dan Mas Permadi bahu membahu membersihkan rumah tersebut, baik kamar yang akan dipakai, ruang tamu, dapur hingga kamar mandi. Kerja tersebut cukup membuat peluh keluar dari tubuh masing-masing, hingga diputuskan untuk “ngopi” dulu di atas balai-balai di ruang tamu.
Betapa sangat nikmat kopi yang dibuat. Agung dan Mas Permadi menyandingkan secangkir kopi tersebut dengan merokok. Namun aku tidak. Aku tidak perokok. Aku benci asap rokok. Tidak baik untuk kesehatan tubuh maupun kesehatan dompet. Andai saja uang pembelian rokok itu ditabung, tentu akan bisa menjadi banyak. Taruhlah per minggu menghabiskan 3 bungkus rokok @ Rp 10.000 atau secara total per minggu Rp 30.000. Kalau per bulan Rp 120.000…kalau per tahun………kalau per sejak merokok……..bisa diformulasikan sendiri. Itu hitung-hitungan kasar. Namun katanya sih, belum lengkap tanpa merokok, apa lagi setelah makan atau sambil “ngopi” dan dibumbui dengan obrolan ringan.
Selesai ngopi dan ngerokok, bertiga menuju rumah yang akan dihancurkan, kamar lama aku dan Agung, bermaksud untuk membersihkan perabotan kamar untuk kemudian diangkut ke kamar yang baru. Semua perabot dikeluarkan, dibersihkan di luar. Hanya menyisakan karpet plastik bercorak papan catur yang terpasang di dinding sertalemari besar. Semua barang diangkut keluar, mulai dari baju, buku-buku dan raknya, TV beserta meja dan DVD player, komputer, laptop hingga perabotan kecil yang dimiliki aku dan Agung.
Semua barang-barang yang telah dikeluarkan dari kamar kemudian dibersihkan dengan menggunakan lap ataupun sulak. Semua bersemangat. Supaya lebih teratur, Agung dan Mas Permadi membersihkan perabotan itu, sementara aku mengangkat barang-barang yang telah dibersihkan ke rumah yang baru. Jaraknya cuma sekitar 10 meter.
Waktu terus merayap, mendekati pukul 15.00 WITA. Ada sebuah usulan yang sangat brilian. Makan. Makan bakso atau mie ayam diputuskan. Akhirnya, dengan mengendarai 2 sepeda motor, Agung dan Mas Permadi berboncengan sedangkan aku sendirian, menuju ke kawasan jalan Kembang Matahari, Denpasar. Ada satu warung bakso/mie ayam yang sangat enak, murah pula. Penjualnya suami istri dengan dua anak yang berasal dari Jember, Jawa Timur. Bisa dibilang, aku dan Agung telah menjadi pelanggan di sana.
Sampai di lokasi, masing-masing memesan makanan sesuai dengan keinginan masing-masing. Aku ingin semangkuk mie ayam. Pasti akan sangat enak sekali. Bertiga duduk di kursi yang telah disediakan. Waktu tunggu tersebut dimanfaatkan untuk ngobrol ringan atau pun merokok, untuk yang merokok. Kira-kira 10-15 menit kemudian, pesanan datang dan saatnya makan. Mie ayam yang ada dalam mangkuk tersebut kutambahi sedikit sambal dan saus. Ku ambil sumpit. Aduk-aduk sebentar dan…..sangat nikmat. Kurang dari 10 menit, mie ayam dalam mangkuk itu sudah lenyap, hilang.
Hampir bersamaan kami bertiga dalam menghajar makanan di mangkuk yang dipesan. Seperti biasa, sehabis makan kurang lengkap kalau belum merokok, untuk yang merokok. Memang demikianlah tradisinya, paling tidak sebatang rokok sehabis makan. Selesai merokok, sebelum pulang jangan lupa membayar dulu. Pembayaran sudah dilakukan, waktunya kembali ke Noja untuk melanjutkan misi pindah rumah.
Barang-barang yang belum dibersihkan dan belum diangkut tinggal sedikit lagi. Bersama-sama menyelesaikan itu, kemudian diangkat ke rumah baru. Tahapan di kamar lama sudah selesai, menyusul tahapan menata di rumah yang baru. Semua perabotku dan perabot Agung bercampur jadi satu di atas balai-balai di ruang tamu hingga di lantai. Akan tetapi, biarkan itu terjadi, pada akhirnya nanti juga akan terpisah sendiri seiring perjalanan waktu.
Pembersihan dan penataan kamar. Itu agenda selanjutnya. Aku mengurus kamarku sendiri dan demikian pula Agung dengan dibantu Mas Permadi. Maklum, Agung memiliki standard yang tinggi untuk kebersihan dan kerapian kamarnya. Butuh ekstra tenaga untuk mencapai standar kerapian dan kebersihan kamarnya.
Sudah diperkirakan sebelumnya bahwa proses pindahan rumah ini tidak cukup diselesaikan dalam sehari. Waktu menunjukkan hampir pukul 18.00 WITA, namun barang-barang masih berserakan dan belum teratur. Namun semangat terus membara untuk menata barang-barang itu. Akan tetapi, celakanya tiba-tiba listrik mati. Untung masih agak ada sedikit cahaya sehingga bisa meneruskan pekerjaan itu, sambil berharap listrik akan kembali normal. Waktu berlalu pelan tapi pasti, namun belum ada tanda-tanda listrik akan normal kembali. Mas Permadi yang telah pamitan sekitar pukul 18.30, begitu sampai di Kuta juga mengatakan bahwa di sana juga padam.
Berusaha mencari lilin di antara tumpukan barang-barang di atas balai-balai. Ketemu dua buah lilin, namun tidak utuh, tinggal tiga perempatnya saja. Lumayan, bisa menerangi ruangan yang gelap. Dengan bantuan lilin dan senter handphone, aku mencoba untuk menata karpet di dalam kamar. Selanjutnya meletakkan meja kecil di bagian pojok kamar sebagai meja komputer, diikuti dengan menginstal kabel-kabel komputer, keyboard, monitor dan mouse. Kemudian, mengangkat lemari kecil yang kugunakan untuk tempat buku-buku dan pakaian. Setelah itu selesai,aku hanya duduk di lantai ditemani barang-barang yang belum tertata, sedangkan Agung tertidur. Di antara cahaya lilin itu, aku membaca sebuah buku yang cukup menarik mengenai Penelitian Kualitatif.
Lumayan lama pemadaman listrik ini. Hingga tiba-tiba, sekitar pukul 20.30, lampu-lampu neon kembali menyala. Tersapu bersih kegelapan yang selama lebih dari dua jam menyelimuti, namun berganti rasa lapar menghantui. Makan malam tiba. Dengan menggunakan Vespa, aku dan Agung menuju ke samping Kantor Kecamatan Denpasar Timur, untuk makan lele goreng, salah satu tempat favorit juga.
Kami berdua memesan lele goreng dan nasi. Sambil menunggu, aku baca Koran Jawa Pos yang nganggur di atas meja. Memang pada saat itu sudah sepi pembeli, sudah mau habis, tinggal sedikit lele dan seafood saja. Sangat laris. Biasanya ada hati ayam, tempe penyet atau ayam goreng. Tidak sampai 10 menit, pesanan datang, makan pun dimulai. Sambil makan sambil ngobrol mengenai rencana pembelian kasur baru. Kasur yang ada di kamar lama diminta Mbah Made Regig, karena akan dibawa ke rumah Nusa Penida. Terpaksa, malam ini harus tidur cuma di atas karpet.
Sementara malam ini cukup dulu beraktivitas. Setelah membayar makanan, berdua pulang ke Noja. Dalam perjalanan pulang, memandang ke langit, bintang-bintang berkerlap-kerlip dengan rembulan sabit yang malu-malu bersinar. Mungkin dia telah capek setelah sekian lama hanya meneruskan cahaya matahari. Sampai di rumah, badan inipun capek, namun sebelum tidur menyempatkan menulis tulisan ini hingga selesai dan akhirnya tertidur pulas meski hanya beralaskan karpet.








Kasian deh gue
Incredibly maintained and respected spider’s web directory. Sprung opponent and moderation. Add your relate and you purposefulness be aware the power of our directory. do gazu!