You are here: Home > (Not) Daily Stories > Nilai Tukar, Barter dan Permen

Nilai Tukar, Barter dan Permen

Sabtu sore 16 Mei 2009, ada rencana untuk bermain futsal di Republican Soccer. Diajak teman-teman Bali Blogger Community.  Rencana diadakan pada pukul 18.00 WITA. Berangkat dari Noja pukul 17.45 WITA. Maklum, baru pertama kali mau main futsal, harus cari lokasinya dulu di daerah Hayam Wuruk. Setelah mencari-cari, akhirnya ketemu juga. Di milis, Mas Anton memberitahu lokasinya, terus aku tindak lanjuti dengan mencarinya di peta terlebih dahulu. Agung memiliki peta Denpasar, jadi lumayan membantu memberikan gambaran.

Sampai di karena belum pernah berjumpa darat, akhirnya menunggu Mas Anton yang lagi on the way. Tapi agak sial, setelah bertemu, ternyata tidak ada yang memesan lapangan. Alhasil tidak jadi bermain futsal. Aku memilih untuk pulang, sebenrnya teman-teman BBC mengajak untuk nongkrong di Pasar Burung di Sanglah, ada yang traktir ternyata. Sampai di rumah jam makan malam sudah tiba. Agung mengajak untuk beli lele goreng. Namun oleh Om Kar, diajak untuk beli ErWe. Apa mau dikata, karena juga suka Erwe, meluncurlah Vespa DK 2341 BR ke daerah Tukad Musi di Renon. Biasa sudah langganan.

Membeli 6 bungkus Erwe, bakal terasa pedas jika di tambah lada. Sebelum pulang mampir ke Minimarket di daerah Katrangan. Di sana membeli 4 bungkus merica bubuk, juga membeli 4 batubaterai dan alat cukur jenggot. Setelah dikira cukup, menuju ke kasir untuk melakukan pembayaran. Komputer kasir menunjukkan Rp 19.550 rupiah. Uang Rp 50.000 diberikan ke kasir. Dengan uang itu berarti ada uang kembalian Rp 30. 450, namun kasir hanya memberikan uang kembalian hanya Rp 30200 ditambah dua buah permen. Kalau dihitung-hitung teliti, uang kembalian itu hanya Rp 30.400, karena permen per bungkus seharga Rp 100. Barangkali sepele, kecil. Namun, kalau dicermati sangat merugikan konsumen.

Sebelum ada uang sebagai alat pembayaran yang sah, untuk melakukan transaksi pembayaran dilakukan dengan cara barter. Kemudian berkembang menjadi uang barang hingga akhirnya muncullah uang. Semenjak itu, barter mulai ditinggalkan, meski ada yang masih menggunakan, karena menemui sejumlah permasalahan dalam hal nilai barang/jasa yang ditukar.

Apakah kasir yang menukar uang kembalian yang dinilai kecil itu termasuk barter? Ketika tidak ada uang kembalian, maka mereka menggantinya dengan permen atau barang sejenisnya yang setara dengan uang pengembalian. Bisakah konsumen berlaku sebaliknya? Di saat tidak memiliki uang tunai, namun ada barang entah permen atau yang lain, datang ke minimarket, mengambil barang dari sana, kemudian membayarnya dengan permen senilai harga yang tertera di label harga?

Sering juga, penjual pun mengambil untung dari sekian rupiah dari transaksi. Pada kasus di atas, ternyata konsumen dibayar uang kembalian plus permen seharga Rp 30.400, lantas bagaimana dengan Rp 50 yang tidak dibayarkan? Kalau itu terjadi pada hampir semua konsumen pada satu minimarket, berapa keuntungan “terselubung” dari hasil transaksi tersebut? Asumsikan tiap transaksi terdapat Rp 50 yang tidak dikembalikan ke konsumen, lantas ada 500 konsumen yang melakukan pembelian per hati, berarti terdapat keuntungan terselubung Rp 25.000 sehari atau Rp 750.000 per bulan. Sangat besar. Itu baru kelas minimarket, bagaimana untuk kelas supermarket atau hypermarket? tentu akan jauh lebih besar dan menguntungkan.

Siapa yang dirugikan? kalau berbicara tentang keadilan tentu konsumen yang dirugikan. Dengan bersembunyi di balik “uang kecil” pembeli, namun bisa meraup keuntungan yang besar. Kalau dilogika secara terbalik, apakah mungkin  konsumen membawa barang  kemudian melakukan tukar menukar  dengan penjual, tentu antara barang yang ditukar memilki nilai yang sama? Cobalah membeli roti seharga Rp 5000 di suatu minimarket dan membayarnya dengan 50 permen! Apakah akan kembali ke zaman barter?

Tags: , , , , , , ,

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • Twitter
  • RSS

9 Responses to “Nilai Tukar, Barter dan Permen”

  1. Dek Wah says:

    Iya. Kadang saya kesel kalau kembalian diganti permen. Minimarket yang butuh uang receh untuk kembalian, silahkan mencarinya di sini. Haha…

  2. Bon-Bon says:

    Itu mah cuma menguntungkan yang jualan, dan ndak adil. Tar aku coba deh, aku tahu minimarket2 yang melakukan itu, tar bawa permen banyak untuk beli roti :D

  3. a! says:

    konsumen memang ga dianggap di negeri ini. jadi tidak usah suka protes! :D

    soale paling2 jawaban pemilik toko akan begini, “kalau tidak suka ya tidak usah belanja di sini.” :( (

  4. chris budhi says:

    Betul mas susah untuk merubah nya kecuali dimulai dari diri sendiri,

  5. Winarto says:

    Konsumen sudah acuh, ndak peduli dengan uang yang kecil itu, makanya penjual mengambil keuntungan dari sana, kalau dikumpulkan lama-lama jadi banyak

  6. [3]tm says:

    pengalaman di tiara dewata, bisa bayar pakai permen…
    waktu itu habis belanja di supermarketnya dikasi ’susuk’ permen, setelah itu belanja di toko buku, permen itu saya pakai untuk membayar di kasir toko buku…

    waktu itu saya cuma bilang… ini tadi susuk dari supermarket, sekarang saya pakai bayar di sini, boleh kan… kasir tanpa komentar menerima pembayaran saya..

Leave a Reply