Fair Play: Siap Tempur, Siap Menang Siap Kalah

Sebelum pertandingan sepak bola dilaksanakan (Liga Champion, World Cup, Euro, Liga Super Indonesia), terlebih dulu dilakukan ceremony, tidak lupa Fair Play Flag-nya. Ini bukan hanya sekedar slogan yang dicanangkan oleh Fédération Internationale de Football Association (FIFA). Fair flag tersebut dibawa oleh satu tim (biasanya anak-anak) dan berdiri di tengah lapangan sebelum kickoff dilakukan.

Namun di Indonesia, meski di awal pertandiangan telah diusung Fair Play Flag, toh kok masih banyak penyimpangan yang terjadi. Pemukulan terhadap wasit maupun pemain, perkelahian suporter sampai kepada tindakan pengrusakan fasilitas-fasilitas dalam stadion. Faktor tidak siap untuk kalah, hanya siap menang menjadi penyebab fair play tidak berjalan berjalan dengan sempurna.

Pasca penghitungan suara Pemilu Presiden di US, calon Presiden John McCain yang kalah langsung memberikan ucapan selamat kepada Presiden Terpilih Barack Obama. Sungguh, suatu pembelajaran demokrasi yang sangat bagus dan fair. Parapendukung pun dengan legawa menerima kekalahan calonnya.

Menerima kekalahan memang sangat sulit. Semua orang akan melakukan “euphoria” saat kemenangan ada di tangan. Bangga. Namun, apabila “dewa kekalahan” lagi berpihak, sangat sulit “menyambut” kedatangannya. Kecewa. Cobalah tengok beberapa kasus seperti dalam dunia olahraga atau dalam pilkada yang terjadi di Indonesia. Pihak tim sepakbola yang kalah, entah pemain, official, supporter tidak jarang melampiaskan kekecewaan mereka dengan berkelahi atau melakukan pengrusakan. Pihak Calon Gubernur/Bupati yang kalah pun tidak sedikit yang menyatakan kekecewaannya, protes ke KPU bahwa ada indikasi kecurangan, boikot hingga terjadinya bentrokan antara pendukung yang menang versus yang kalah.

Kapan prinsip fair play bisa dijunjung dan ditegakkan? Kalau siap menang, tentu siap kalah pun harus dimiliki. Menang dan kalah adalah sifat alamiah. Itu adalah sebuah hasil dari “pertarungan”. Namun demikian, dalam proses pertarungan tersebut perlu juga diatur dan dilakukan secara fair play, tidak ada kecurangan yang dilakukan.

Akankah pelajaran berdemokrasi di USA kemarin akan menjadi inspirasi untuk pesta demokrasi di Indonesia nanti. Calon yang kalah dapat menerima kekalahan, calon yang menang pun tidak menjadi sombong. Ungkapan “menang ora umuk, kalah orang ngamuk” (menang tidak sombong, kalah tidak marah) sepertinya perlu terus didengung-dengungkan dan dikampanyekan. Bukan hanya sekedar terpasang secara formalitas di spanduk dan diucapkan, namun juga dalam sebuah tindakan yang dinyatakan.