Dari Diskusi Santai di Taman 65

ariel-h-di-taman-65
Kamis, 7 Mei 2009 pukul 13.14 WITA, sebuah email dikirim oleh Anton Muhajir ke milis Baliblogger. Ada undangan diskusi santai bareng Ariel Heryanto dan Gusti Agung Putri Astrid Kartika, Direktur non aktif Elsam Lembaga Studi dan Advokasi Masyarakat. Ariel dikenal sebagai salah satu akademisi yang memiliki banyak penelitian khususnya mengenai sejarah Indonesia. Sejak 2009 Ariel menjadi Head of the Southeast Asia Centre di Australian National University, setelah sebelumnya mengajar di Melbourne University.

Diskusi dilaksanakan di Taman 65, yang berlokasi di Jalan WR. Supratman 193 Kesiman Denpasar Timur. Diskusi santai, memang demikianlah yang diterjadi. Kalau di Solo, ingat dengan diskusi di angkringan yang di tayangankan oleh TA TV Solo. Relax. Hampir mirip-mirip suasananya. Meskipun demikian, topik yang diangkat dan alur pembicaraan menarik untuk diikuti.

Ternyata, diskusi santai ini adalah agenda rutin di Taman 65. Ketika membaca email yang masuk ke milis Baliblogger mengenai undangan diskusi itu, ada dua hal yang saling terkait yaitu tempat pelaksanaan dan topik yang diangkat. Tempat diskusi di Taman 65 dan topik diskusi mengenai Tragedi ’65. Wuidih, setelah 8 bulan di Denpasar, ternyata ada komunitas yang sering berkumpul di Taman 65, yang notabene adalah kumpulan “korban” tragedi tahun 65. Namun demikian, meskipun bernama Taman 65, tidak melulu membicarakan ’65. Itu diungkapkan oleh Agung Alit, salah satu convenor Taman 65. Pernyataan itu mematahkan perkiraanku bahwa Taman ’65 hanya melulu berbicara tragedi kelam bangsa Indonesia ini, kalau dilihat dari namanya. Di sana juga akan mudah ditemui lukisan-lukisan karya teman-teman di sana sebagai ungkapan hati atas kekejaman tragedi ’65.

Lokasinya pun tidak jauh dari rumah yang selama ini menjadi tempat tinggal ku, di tempat Agung. Kalau menggunakan istilah yang sering digunakan Agung, “cuma setimpukan batu”. Saat menerima email itu, aku langsung SMS Agung memberitahukan email itu, yang kebetulan beberapa waktu yang lalu, aku mengirim email ke Ariel mengenai buku yang ditulis Agung berjudul “Imu Ekonomi dan Kebebasan”. Sekalian reuni, maklum ketika berkuliah di Satya Wacana, nama Ariel Heryanto begitu popular, namun belum pernah bertemu. Saat yang tepat untuk bertemu Ariel yang lulus Sarjana Pendidikan tahun 1980 dari Satya Wacana itu.

Malam itu, dengan naik mobil Taft menuju Taman 65 Kesiman. Sudah ramai dengan peserta, tidak hanya dari orang Indonesia, namun terlihat beberapa orang asing hadir di Taman 65. Dijadwalkan diskusi mulai jam 19.30 WITA, namun akhirnya dimulai sekitar pukul 20.00 WITA.

Di luar dugaan, ternyata diskusi memang betul-betul santai. Boleh dikatakan hanyalah curhat atau sharing. Gung Tri (panggilan Gusti Agung Putri Astrid Kartika) memulai dengan sering pengalaman sekitar 10 menit. Bahkan setelah giliran Ariel berbicara, dia katakan bahwa sama sekali tidak mempersiapkan apa yang akan dibicarakan, tahunya hanya topik tentang tragedy ’65. Ketika Gung Tri berbicara, Ariel baru berpikir, apa yang harus dia bicarakan.

Point penting yang menarik dari diskusi tersebut adalah mengenai apakah peristiwa kelam itu harus dilupakan atau diingat, kalau dilupakan pada bagian apa dan apabila harus diingat, apa yang perlu diingat. Yah, tragedi yang masih menjadi misteri. Penuh dengan pembelokan alur cerita. Banyak “korban” dengan intensitas yang berbeda dari tragedy tersebut, baik korban meninggal, disiksa, penjara, korban dari pembelokan sejarah/berita dan korban-korban lainnya.

Pada bagian lain, meskipun terjadi pembelokan alur cerita, sejarah itu pasti akan terkuak meski memakan waktu yang tidak tahu kapan akan terjadi. Ada saja rintangan untuk mencapai ke tujuan tersebut hingga masih terbentur sana, terbentur sini. Sulit, namun tidak ada yang tidak mungkin. Syuting film “Lastri” yang beberapa waktu lalu akan dilaksanakan di Kota Solo, dihentikan setelah terjadi pro kontra terhadapnya. Meskipun hanya mengambil tema percintaan di masa tahun ’65, film tersebut dianggap tidak layak karena dianggap akan menyebarkan ajaran komunisme dan marxisme. Akan tetapi masih ada jalan mengungkap peristiwa itu, melalui bahasa tutur, tulisan-tulisan, penelitian hingga diskusi kecil seperti di Taman 65.

Memang pahit dan menggoreskan luka, manakala mengingat tragedi berdarah itu. Ketakutan, trauma akan sejarah yang berulang “dalam bentuk” lain, menginggapi kalangan masyarakat Indonesia. Sejarah tetaplah sejarah, kalaupun ada “pembelokan” atasnya suatu saat akan terkuak. Tragedi ’65 telah menjadi sejarah Indonesia. Kalau dipikir-pikir, tanpa tragedi itu mungkin bangsa Indonesia tidak akan seperti saat ini, entah saat ini itu suatu keadaan yang baik atau bobrok? Setidaknya itu yang dapat aku maknai sebagai salah satu korban langsung. Tanpa tragedi ’65 mungkin sejarah keluargaku tidak akan terjadi dan aku tidak dapat menulis cerita tak beraturan ini.