Berawal dari Sebuah Tabung
Sudah tidak asing di telinga produk elektronik yang disebut dengan televisi. Televisi adalah salah satu karya yang mampu mengubah peradapan dunia, serta mempengaruhi aspek-aspek kehidupan masyarakatnya. Tentu ada teknologi-teknologi pendukung lainnya yang bisa membuat televisi dinikmati oleh segenap masyarakat di seluruh penjuru dunia.
Perkembangan televisi dan teknologi pendukungnya berjalan seiring dengan perkembangan zaman. Teknologi serta inovasi yang mengiringi keberadaannya semakin canggih, baik itu pada kotak televisi itu sendiri, stasiun penyiar hingga tayangan-tayangan yang disajikan. Daya magis televisi telah menghipnotis penduduk di muka bumi dengan “keajaiban” yang dipancarkan darinya.
Di Indonesia sendiri perkembangan televisi dan stasiun pemancarnya sedemikian cepat. Bermula dari televisi tabung (atau CRT=Catoda Ray Tube), itupun hanya dimiliki oleh orang-orang tertentu dan sangatlah terbatas, pula masih hitam putih. Bagi yang tidak memiliki, di beberapa daerah, televisi ditaruh dibalai desa dan dinikmati beramai-ramai oleh warga. Siaran yang disuguhkan juga masih sangatlah terbatas. Kini, tidak perlu repot-repot lagi seperti itu, bahkan bisa dikatakan hampir tiap rumah memiliki televisi, dengan bervariasi siaran yang berasal dari dalam maupun luar negeri.
Segudang kenikmatan yang disuguhkan oleh stasiun televisi membius penonton dan mempengaruhi masyarakat yang mengkonsumsi tontonan di “kotak ajaib”. Di Indonesia, memang pada awalnya hanya memiliki TVRI, namun dalam perkembangannya telah kini memiliki sebelas stasiun televisi nasional, masih ditambah dengan stasiun televisi lokal/regional, stasiun televisi khusus (Televisi Edukasi, TV Edukasi 2) dan televisi berlangganan.
Sangat melimpah dengan tayangan yang beraneka ragam serta bisa dikatakan non-stop 24 jam, baik yang berupa hiburan, berita, film, gossip, film kartun tayangan lain, semuanya bergantian saling mengisi agenda acara. Dengan menjamurnya berbagai macam tayangan tersebut, yang disuguhkan beragam stasiun televisi di atas (juga masih disupport oleh teknologi pendukung seperti VCD/DVD player, playstation), televisi adalah magnet yang menarik sebagai salah satu hiburan, tontonan, informasi hingga ilmu pengetahuan.
Eits, tunggu dulu. Secara kuantitas, mungkin “Iya”, kalau tayangan televisi itu menjamur, namun bagaimana berbicara kualitasnya? Dalam sebuah studi kecil, ditemui bahwa tayangan televisi pun bisa memberikan ketagihan untuk terus menonton. Anak-anak sekolah, remaja sampai orang tua bisa merasakan ketagihan dengan tayangan yang disaksikan. Permasalahannya adalah ketagihan pada tayangan apa dan dampak yang timbul atasnya.
Bisnis dan Kekuasaan
Stasiun televisi sebagai supply side tayangan televisi hendaknya bisa menyaring tayangan yang disajikan. Namun, untuk sampai kesana, harus berhadapan dengan beberapa pihak yang berkepentingan lain, baik kepentingan bisnis hingga kekuasaan. Bisa dikatakan demikian karena masing-masing tayangan saling berlomba untuk mengejar rating acara, karena semakin tinggi animo menonton menonton suatu tayangan, akan semakin tinggi rating acara tersebut, menyebabkan semakin rupiah yang mengalir.
Oleh sebab itulah, pihak stasiun televisi perlu mengemas acara yang ditayangkan untuk membuat penasaran dan pada akhirnya membuat penonton ketagihan. Caranya adalah memainkan emosi penonton. Ketika suatu tayangan berhasil memainkan emosi penonton, adalah langkah mudah untuk mempengaruhi penonton untuk terus menerus menonton. Dengan demikian,tayangan-tayangan yang disajikan bisa laku di masyarakat dan membuat ketagihan
Aspek lainnya adalah aspek kekuasaan, apalagi menjelang pergantian kepemimpinan. Keinginan untuk menguasai medan pikiran masyarakat pastilah dimiliki oleh calon-calon penguasa. Melalui media televisi dinilai sangat efektif untuk melakukan itu. Juga, dalam hal penyebaran arus informasi ke masyarakat, bisa dikatakan ada kepentingan yang termuat di dalamnya. Jika ditengok lebih jauh, siapa yang ada di balik (baca: pemilik) stasiun televisi terutama di Indonesia? Yang pasti tidak jauh dari penguasa dan kekuasaan.
Berpijak pada dua hal tadi, sudah dapat terbaca apabila di balik siaran yang ditampilkan terdapat motivasi untuk semakin menaikkan rating demi keuntungan bisnis dan mempengaruhi medan pikiran masyarakat demi kekuasaan.
Adakah yang salah dengan Televisi?
Penilaian atas pertanyaan tersebut berpulang pada masyarakat sendiri. Namun, sebagai sebuah peringatan adalah, masyarakat perlu cerdas memilih tayangan-tayangan yang disajikan stasiun televisi. Bagaimana untuk sampai ke suatu masyarakat yang cerdas seperti yang diharapkan itu? Tentu prosesnya terus berjalan. Contoh sederhana adalah tayangan acara “Curhat dengan Anjasmara” yang akhirnya dihentikan oleh Komisi Penyiaran Indonesia.
Dalam satu topik di website KPI, disebutkan bahwa pertimbangan KPI untuk menghentikan tayangan tersebut adalah banyaknya pengaduan masyarakat yang mengeluhkan materi siaran acara tersebut. Pertanyaan lanjutannya adalah, kalau program itu telah tayang, mengapa harus menunggu pengaduan masyarakat untuk memberhentikan tayangan itu? Mengapa tidak pada level hulu, pada saat tayangan tersebut dikonsepkan pertama kali atau pada level izin tayang acara tersebut diproses?
Namun, itulah salah satu tanda bahwa masyarakat sudah cerdas. Kalau pun tidak ada reaksi dari masyarakat, belum tentu program acara tersebut diberhentikan. Mungkin sudah ada banyak yang bersuara keberatan atas tayangan televisi, namun karena masyarakat telah “kecanduan”, sehingga sulit untuk memutus mata rantai itu, meski tetap ada peluang.
Sebagai bahasan terakhir, ada banyak masyarakat yang lantas menyalahkan “televisi”. Contoh kasus sederhana; karena seorang anak kecanduan menonton tayangan televisi, anak tersebut tidak mau belajar sehingga nilai rapornya jelek, lantas orang tua melarang untuk tidak menonton televisi. Telah banyak pilihan tontonan televisi yang ditawarkan, dan banyak pula tayangan-tayangan yang sangat bermanfaat dan memberikan informasi. Namun juga perlu dilihat sisi aspek kesehatan dari menonton televisi yang terlalu banyak. Kalau pun masih ada tayangan yang dinilai tidak layak ditonton, jangan ditonton kalau perlu laporakan. Toh, kalau pun tayangan yang ditawarkan itu tidak ditonton oleh pemirsa, suatu saat akan hilang dengan sendirinya. Pandai-pandai mengatur diri dan berdisiplin diri dalam menonton tayangan televisi.



Selektiflah memilih tayangan televisi
Ya, sekarang tayangan televisi (Indonesia) semakin hari semakin kacau. Harus pintar memilih tayangan yang betul-betul bermanfaat
Halo Sahabat
Salam kenal
Tulisan yang menarik
Sip